Selasa, 18 Juni 2013

Melingkar Adalah Menyulam Cinta, Melingkar Adalah Kita


Di sini kita pernah bertemuMencari warna seindah pelangiKetika kau menjulurkan tanganmuMembawaku ke daerah yang baruDan hidupku kini ceria
 (Brothers: Untukmu Teman)


dakwatuna.com - Lagu tersebut adalah lagu lama yang tiba-tiba menjadi ingin sekali bagiku, beberapa waktu lalu, untuk sering melantunkannya. Bahkan, sampai suatu ketika ada seorang ikhwah berkata “itu kan lagu jadul, ngapain masih engkau nyanyikan”, dan tetapi aku tetap tak mempedulikannya. Ya karena lagu ini mengingatkanku pada satu hal, atau tepatnya tiga hal. Tentang cinta, iman, dan ukhuwah. Dan sahabat, malam ini, ingin sekali aku berbagi denganmu. Berbicara tentang tiga hal itu, cinta, iman dan ukhuwah. Tiga hal yang saling terkait, yang saling membutuhkan. Dan tiga hal itulah yang membuat generasi terbaik , para salafushalih mampu menuju peradaban tertinggi.
Mari kita bicarakan mulai yang pertama, tentang cinta sejati, yang katanya orang-orang indah, dan memang benar cinta sejati itu indah, seperti cintanya Muhammad pada ummatnya, yang sangat mengharukan. Yang ketika itu, sang penyair bernama Iqbal berkata “Kalau aku adalah Muhammad,” kata Iqbal, “aku takkan turun kembali ke bumi setelah sampai di Sidratul Muntaha.”Iqbal barangkali mewakili perasaan kita semua, siapa yang tidak ingin berdekatan dengan Allah, di langit ketujuh, di Sidratul Muntaha, terlalu menggoda untuk ditinggalkan apalagi untuk sebuah kehidupan penuh darah dan air mata di muka bumi. Dua kehidupan yang berbeda samasekali. Tapi Sidratul Muntaha bagi Muhammad adalah bukan terminal penghentian. Maka Sang Nabi turun ke bumi juga akhirnya. Menembus kegelapan hati ummatnya dan menyentuhnya dengan lembut, lalu kemudian menyalakannya kembali dengan api cinta.
Cintalah yang menggerakkan langkah kakinya turun ke bumi. Cinta juga yang mengilhami batinnya dengan kearifan saat ia berdoa setelah anak-anak Thaif melemparinya dengan batu sampai kakinya berdarah: “Ya Allah, beri petunjuk pada umatku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” Seperti juga cinta menghaluskan jiwanya sebelas tahun kemudian, saat ia membebaskan penduduk Mekah yang ia taklukkan setelah pertarungan berdarah -darah selama dua puluh tahun: “Pergilah kalian semua, kalian sudah kumaafkan,” katanya ksatria. Ah, memang seperti itulah cinta. Cinta itu indah. Dan Sang nabi telah membuktikannya. Lalu mengapa saat ini, banyak orang mengatasnamakan cinta, tetapi seiring dengan itu, hanya penderitaan lah yang didapat. Seperti kisah Laila Majnun, seperti kisah Romeo dan Juliet. Seperti kebanyakan orang saat ini, yang hilang nafsu makannya hanya karena diputus sang kekasih, yang rela meneguk satu botol baygon hanya karena ditinggal sang kekasih. Sebegitu tragiskah cinta mengajari kita? Lalu mengapa sang Nabi dengan cintanya telah sukses, membawa Islam ke puncak peradaban. Satu kesimpulan, berarti ada yang salah dengan makna cinta itu. Dan untuk selanjutnya, mari kita bincangkan lagi.
Ya, ada yang salah dengan cinta orang-orang itu. Cinta yang tak berlandaskan iman. Maka ada dua perbedaan di sini. Cinta dengan dan tanpa Iman. Mari kita bicarakan tentang Iman dan cinta. Karena kita tidak akan mungkin meraih kebahagiaan hakiki tanpa keduanya, atau kita mengabaikan salah satunya. Kita tidak akan pernah sampai kepada titik keimanan tertinggi, kecuali dengan cinta. Begitu pula sebaliknya, kita tidak akan pernah meraih cinta yang sejati, tanpa iman sebagai dasarnya. Seperti kata Ustadz Anis Matta dalam serial Cinta.
Iman itu laut, cintalah ombaknya.Iman itu api, cintalah panasnya.Iman itu angin, cintalah badainya.Iman itu salju, cintalah dinginnya.Iman itu sungai, cintalah arusnya.
Begitu erat hubungan antara keduanya. Iman dan cinta. Pohon Iman tidak akan pernah tumbuh subur dan berbuah lebat tanpa adanya perawatan dari sang pecinta. Dan inilah yang berhasil dilakukan Rasulullah, dan generasi awal, para generasi terbaik yang pernah diturunkan oleh Allah ke muka bumi. Merawat Iman dengan cinta, atau sebaliknya mencintai dengan iman. Dan masih ada satu lagi yang perlu kita lihat kedahsyatannya.
Yang ketiga. Ukhuwah. Ya ukhuwah. Kata kamus, ukhuwah berarti persaudaraan yang didasarkan pada ajaran Islam atau persaudaraan yang bersifat islami. Hanya berhenti sampai titik, lalu artinya pun berhenti pula sampai di situ. Padahal, Kata sebagian orang, atau beberapa orang, ukhuwah itu manis, seperti madu, ukhuwah itu indah, bak musim semi yang penuh dengan bunga-bunga berwarna hijau dan merah. Tetapi apakah benar begitu adanya. Apakah benar ukhuwah itu madu, apakah benar ukhuwah itu seindah musim semi. Sepertinya kita tidak perlu lagi mendefinisikan makna ukhuwah, karena ukhuwah akan mendefinisikan sendiri dirinya, dan selanjutnya kita pun akan berkata, ukhuwah itu indah. Mari kita lihat makna ukhuwah menurut orang-orang ini.
Yang pertama adalah ukhuwah versi orang yang berwajah halus ini, yang berjanggut, yang matanya Nampak sayu karena kurang tidur, yang ketika mengimani shalat atau sedang memimpin perjalanan jauh, dia sempat bertanya, “Dimana si fulan? Mengapa ia tak tampak?”. Tetangganya begitu tenteram, aman dari gangguan tangan dan lisannya. Ya, ukhuwah menurut orang ini adalah renyahnya candaan yang mengasyikkan, dan candanya tak pernah berbumbu dusta. “Wahai pemilik dua telinga!”, panggilan yang pernah beliau sematkan kepada Az Zubair. Beliau tidak suka orang-orang berdiri menyambut kedatangannya, beliau yang paling awal menjenguk orang sakit, duduk bersama kaum miskin, dan memenuhi undangan budak sahaya. Inilah makna ukhuwah versi lelaki yang menjabat sebagai pemimpin tertinggi Madinah kala itu, dan panutan umat Islam sedunia, inilah makna ukhuwah menurut Muhammad Al-Musthofa, nabi kita. Ukhuwah yang selalu dilandasi rasa cinta dan keimanan.
Lalu kita tanyakan makna ukhuwah menurut saudara kita ini, seorang al-akh, seorang mahasiswa yang juga aktivis dakwah. Ukhuwah menurut dia adalah selalu rindu untuk bertemu dengan saudaranya, lalu bersama-sama mendengarkan materi dari sang pemandu, lalu kalau ada temannya mengantuk, dengan lembut ia mengatakan “akhi, liqonya belum selesai”, menurut dia ukhuwah adalah bercanda riang gembira di bawah air terjun, saling menjatuhkan dalam derasnya air dalam sebuah permainan, lalu saling menyiramkan air dengan saudaranya, kemudian bersama-sama setelah rihlah bersama, makan bersama di sebuah kedai bakso dengan ditraktir murabbi. Ukhuwah menurut dia adalah membersamai saudara-saudaranya memasang pamflet, memasang baliho, lalu seterusnya berkoordinasi sampai menjelang subuh, merencanakan sebuah agenda besar, lalu ketika ditanya alasan, dia pun menjawab, ini semua demi Al-Islam.
Ah, nikmat, nikmat sekali ukhuwah berbalut keimanan dan cinta. Indah sekali ukhuwah berbaju cinta dan iman. Kebersamaan dengan saudara-saudara seiman, seaqidah akan selalu indah, dan nikmat, karena hakikat sebuah ukhuwah, sebuah kebersamaan adalah berjuang. Dalam perjuangan itu, akan musnah segala rasa khawatir dan takut, hilang segala resah dan kalut. Kebersamaan yang diridhai oleh Allah, yang telah mengikat kita dalam bingkai kebersamaan dan persaudaraan, seperti doa-doa rabithah yang sering kita ucapkan pada saat setelah subuh. Dan selanjutnya, kesulitan, kerepotan, rasa sakit, semua yang ada dalam kebersamaan perjuangan iman melahirkan kegemilangan itsar yang tiada duanya dalam sejarah. Seperti persaudaraannya Muhajirin dan Anshar, yang saling bertukar hadiah, dan sampai bertukar istri pula, dan inilah makna bersama menurut beberapa saudara kita.
Ukhuwah adalah saling memahami, kata sang murabbi, lalu sang a’dho dengan semangat menjawab, saya pernah mencuci bajunya akh Yun, saya tau makanan kesukaan akh Kit, dan sebagainya. Atau dengan media lain, ukhuwah adalah berderingnya HP al-akh karena mendapatkan sms dari saudaranya yang berbunyi “Ana Ukhibuka Fillah, akhi, ane hari ini bertemu dengan cinta, iman, taqwa, kebahagiaan, dan kemuliaan. Kemudian ana kasih alamat Antum pada mereka. Semoga mereka mendapat tempat di hati Antum”. Inilah ukhuwah, iman, dan cinta. Yang dengan ketiganya akan menuju puncak langit-langit peradaban ini. Dan di akhir tulisan, mari kita berdendang.
Malam siang berlaluGerhana kesayuan, tiada berkesudahanDetik masa berganti, tiada berhentiOh Syahdunya…Sejenak ku terkenangHakikat perjuangan, penuh onak dan cabaranBersama teman- teman, arungi kehidupanOh indahnya…
(Brothers : Selamat Berjuang)
Dedikasi untuk saudara-saudara yang pernah membersamai dalam bingkai dakwah ini, semoga ukhuwah tak kan kekang oleh waktu


*****
Untuk sahabat-sahabatku, tak ingin ku lelah mengucap bahwa sungguh aku mencintaimu karena Allah. sebagai bentuk ukhuwah dan mendekatkan diriku padaNya, seperti melihatmu dari kejauhan saja, menjadikanku teringat akan amalan yaumiyah. aku malu karena selama ini belum mampu memberikan yang terbaik dariku untukmu... aku malu jika selama ini hanya luka yang ku goreskan dihatimu... sahabat, maafkanlah atas salah dan khilafku selama ini padamu. sungguh kalian adalah salah satu dari nikmat Allah hingga mempertukan aku denganmu. sahabat, aku mencintaimu karena Allah, ana uhibbuki fillah...

Jumat, 14 Juni 2013

Pencuri


Sebuah kisah, tinggallah keluarga kaya yang terdiri dari orang tua dan dua anak laki-laki yang masih remaja. Kekayaan keluarga itu sangat melimpah, ladangnya luas, lumbungnya selalu penuh dengan padi dan gandum, serta hewan ternak yang ratusan jumlahnya.
Namun suatu malam, seorang pencuri beraksi di lumbung mereka. Sebagian besar padi yang baru saja di panen lenyap tak berbekas. Tak ada yang tahu siapa pencuri itu. Kejadian itu berulang lagi dimalam berikutnya, akan tetapi tak ada yang mampu menangkap pencurinya.
Sang tuan rumah tentu berang dengan hal itu, segala umpatan ia lontarkan kepada pencuri yang belum juga tertangkap. Disaat orang tua itu geram dan marah, kedua anaknya yang masih remaja turut bicara, "ayah, izinkan kami turut menagkap pencuri itu. Kami sudah cukup besar, tentu pencuri-pencuri itu akan takluk di tangan kami. izinkan ayah.."
Tak disangkam ternyata ayah berpendapat lain, "jangan, kalian masih muda dan belum berpengalaman. Kalian masih belum mampu melawan mereka. Lihat tangan kalian, masih tak cukup kuat menahan pukulan. Ilmu beladiri kalian masih sangat sedikit, kalian lebih baik tinggal di rumah saja, biar ayah saja yang menangkap mereka." Mendengar perintah itu, kedua anaknya seketika terdiam.

Penjagaan memang diperketat, tapi tetap saja keluarga itu kecurian. Bahkan kini hewan ternak yang menjadi target pencurian. Sang ayah belum juga mampu menangkap pencurinya dan berputus asa. Dengan berat hati, di datangilah kepala desa untuk meminta petunjuk tentang masalah yang dihadapinya. Diceritakanlah semua peristiwa pencurian itu  kepada kepala desa.
Setelah itu kepala desa bertukas, "mengapa anda tak membiarkan kedua anak anda turut menjaga lumbung? Mengapa anda membiarkan keinginan mereka?  ketahuilah wahai bapak yang kaya harta, sesungguhnya keresahan yang anda alami dengan pencurian itu, disisi lain andalah juga pelaku pencurian itu. Anda tak lebih baik dari pencuri yang mengambil harta itu, sebab anda mencuri harapan anak-anak anda. Anda mencuri impian dan kemampuan yang muncul dari keberanian mereka. Biarkan mereka yang menjaga dan anda cukup jadi pengawas.
Mendengar kata-kata kepala desa itu sang ayah sadar, betapa selama ini berfokus dengan usaha menangkap pencuri hartanya tapi selama ini dia sendiri sering mencuri harapan anaknya. Sampai pada akhirnya, ke esokan malamnya ia memberi izin kepada kedua anaknya ikut menjaga lumbung. Dan tak berapa lama kemudian tertangkaplah pencuri-pencuri itu yang ternyata adalah penjaga lumbung mereka sendiri.

Teman, pernahkah anda bertanya kepada anak kecil tentang cita-cita dan harapan mereka? Bisa jadi ketika kita tanya akan mendapatkan jawaban beragam. Suatu ketika mereka ingin menjadi pilot, tapi dilain hari mereka ingin menjadi dokter, dan ke kesokan harinya lagi ingin menjadi insinyur. Suatu saat mereka juga mungkin menjawab ingin menjadi orang yang bisa terbang, tapi di hari yang lain mereka ingin bisa berenang. Ketahuilah, pada akhirnya kita akan tahu hanya ada satu jawaban kelak. Tapi, pantaskah kita melarang mereka untuk punya harapan dan impian?
Begitu juga dengan cerita di atas, ada banyak pencuri impian yang berada disekitar kita. Mereka mencuri harapan dan merampas semua impian yang anak-anak kita lambungkan. Bisa jadi pencuri-pencuri itu hadir dalam wujud orang tua, teman, saudara, atau bahkan kita sendirilah yang mencuri harapan dan impian itu. Kita sendirilah pencuri yang paling menghadang setiap langkah realisasi impian. Karena kita terlalu sering takut, ragu, dan bimbang dalam melangkah.
Biarkan mereka terbang dengan cita-cita dan harapannya, sementara kita yang lebih tua melihat dan mengawasinya sebagai bentuk kecintaan dan kasih sanyang.


( Herlambang, Irfan Toni. 2005. Kekuatan Cinta, 30 Nasehat Bagi Jiwa Perindu Nur Illahi. Jakarta: Pustaka Kimus Bina Tadzkia)


Rabu, 12 Juni 2013

Senyum Sebagai Pembuka Kekuatan Dalam Diri


“Senyum kepada saudaramu adalah sedekah..” (Al-Hadits)
Dengan menghanyati kandungan hadits diatas, kita bisa melihat bahwa makna senyum adalah sesuatu yang sangat luar biasa ketika seseorang berhasil mengamalkannya. Karena dalam sebuah senyum mampu menampakkan ketulusan bagi pelakunya terhadap orang yang mendapat senyuman, sebagaimana seseorang yang memberikan sedekah kepada yang membutuhkan. Seperti halnya pula senyuman, senyuman mampu menjadi sedekah dalam ikatan ukhuwah islamiyah dimana seseorang yang saling menyayangi karena Allah saling bertukar senyum sebagai bentuk kuatnya persaudaraan ini.
Ketika sebuah senyuman yang tulus dilakukan sementara kondisi pribadi yang sebenarnya sedang mengalami cobaan, maka senyuman yang dilakukan itu sebagai bentuk tanda ketabahan pelakunya. Dengan kata lain, dalam konteks kalimat ini senyuman mampu menjadi pembuka kekuatan dalam diri.
Seseorang yang sedang mendapat musibah terhadap mereka yang memiliki kepribadian tertentu, seperti introvert atau ekstovert. Introvert kebanyakan lebih cenderung menutup diri dari kagelisahan yang terjadi. Akan susah bagi mereka yang memiliki kepribadian introvert untuk memaksakan diri bercerita kepada orang tentang kondisinya, sementara kebertahanan seseorang menyimpan masalah justru bisa menyerang balik pemiliknya untuk mudah terjangkiti rasa stress yang bisa mengantarkannya pada masalah yang lebih besar lagi, depresi. Sehingga dari bentuk permasalahan yang muncul dengan konsekuensi lebih besar tadi, seseorang hendaknya mampu mengelola emosi yang terjadi. Kalaupun orang yang berkepribadian introvert alangkah lebih baiknya harus memiliki suatu bentuk pengekspresian masalah, seperti tetap berusaha senyum kepada orang lain ketika berpapasan dijalan. Karena dengan sebuah senyuman yang walau dipaksakan itu, dalam kondisi yang sama tanpa ia sadari sedang berusaha memaksa dirinya sendiri untuk tampil seakan tak ada hal yang mengganggu.

Dalam sebuah senyuman, terlebih dilakukan dengan usaha yang tulus, seseorang akan terlihat jauh lebih muda dibandingkan dengan orang-orang yang jarang mengeluarkan senyum dalam hidupnya. Sehingga hal ini tentu mampu menjadi kekuatan tambahan yang dimiliki seseorang dalam menjalani kehidupannya.

Rabu, 05 Juni 2013

Milestone

Ketika kesuksesan menjadi impian setiap orang, tentu definisi sukses yang termasuk puncak kebahagiaan ini adalah subyektif maknanya. Sebab sebagai manusia, Allah Yang Maha Mengetahui telah mengkaruniakan nikmat yang tepat dan pas bagi setiap hambaNya. Sebuah penelitian abad 20 yang dilakukan oleh seorang psikolog terkemuka dari Harvard of University, Howard Garrdner, terkait teorinya multiple intelligences telah secara tak langsung mengungkapkan bahwa sesungguhnya setiap makhluk memiliki takaran yang pas dalam dirinya. Terdapat sembilan jenis tipe kecerdasan manusia yang menjadi potensi luar biasa yang telah Allah karuniakan, sehingga tak akan ada alasan bagi kita mengeluhkan nasib yang tak kunjung sukses tadi sebab kita memiliki kelebihan ini. Diantaranya; bahasa/linguistik, logika/matematika, visual/spasial, musik/ritme, gerak tubuh/kinestetik, naturalis, interpersonal, intrapersonal, dan eksistensialis.
Selain dari penjabaran diatas, mungkin masih banyak statement hadir bahwa tingkat kecerdasan mereka yang kurang hingga mengantarkan pada perjalanan sekarang. Akan tetapi teman, bahwa sesungguhnya tingkat inteligensi dan bakat itu memiliki takaran yang menawan. Sesuatu yang menjadi potensi sebagaimana disebutkan diatas adalah bakat yang terbentuk dari dua kromosom orang tua kita saat proses pembuahan dengan bercampurnya gen yang membentuk karakter dan kelebihan kita. Sementara inteligensi adalah bentukan dari luar seperti upaya mengembangkan pengetahuan yang bersumber dari lingkungan sekolah dan masyarakat. Berdasarkan informasi diatas, sungguh merupakan petunjuk kebesaran kasih Allah kepada setiap hambaNya. Sebagaimana Ibrahim yang bertanya-tanya tentang siapa Penciptanya, kemudian Musa yang berharap melihat wajah Allah, dan proses perjuangan dakwah Rasulullah SAW dalam menyampaikan risalah Islam. Ketiganya adalah proses kehidupan, proses untuk menuju kesuksesan. Sedangkan watak dari perjuangan memang bukan sesuatu yang mudah, sebagaimana dalam tiga tahun masa pemboikotan hingga Rasulullah seringkali mengganjal perutnya dengan batu dan tak jarang makan dedaunan.
Dalam setting kehidupan ini, pena sejarah telah menuliskan betapa banyak pahlawan memberikan contoh kesuksesan agar menjadi pelajaran. Seperti air mata keteguhan khabbab bin Arats dalam memperjuangkan prinsip keyakinan ketika seorang jahiliyah bernama Ummu Anmar menempelkan besi panas membara diatas ubun-ubunnya, apakah hal itu membuatnya berhenti dari prinsip aqidah terhadap keyakinan yang bernama Islam? Ternyata tidak.. memang benar bahwa ia mengeluh, merenungi nasib yang terasa begitu pahit ketika mempertahankan makna kebahagiaan yang ia yakini sebagai muslim. Dengan suara trenyuhnya ia berujar kepada manusia paling mulia;”Ya Rasulullah, tidakkah engkau menolong atau berdo’a untuk kami..?”
Akan tetapi bukan pertolongan dan do’a yang seketika Rasul sampaikan, melainkan sebuah peneguhan yang justru membangkitkan setiap persendian dan sel-sel tubuhnya dengan teriakan lembut; ya Allah, inilah perjuanganku, inilah ikhtiarku.. kupasrahkan hidupku dan matiku padaMu.

”Dahulu, sebelum kalian, ada seorang laki-laki yang disiksa, tubuhnya dikubur kecuali leher keatas, lalu diambil sebuah gergaji untuk memotong kepalanya, tetapi siksaan itu tak membuatnya berpaling dari agamanya. Ada pula yang disikat antara daging dan tulang-tulangnya dengan sikat besi, dan itu juga tak dapat membuatnya goyah untuk memalingkan dari agamanya. Sungguh, Allah akan menyempurnakan agama ini, hingga setiap musafir yang bepergian dari Shan’a ke Hadhramaut tidak takut kecuali hanya kepada Allah ‘Azza wa jalla, dan tidak khawatir kambingnya dimakan srigala.. Tapi tampaknya kalian tergesa-gesa.” (HR. Bukhari)

Dalam kelanjutan sirahnya, peneguhan yang diucapkan Rasul ini telah membakar semangat Khabbab untuk semakin tabah menjalani setiap siksaan yang digencarkan orang-orang kafir quraisy yang membenci Islam hingga mengantarkannya menjadi manusia pilihan.

Tidak cukup dengan sejarah sahabat Rasul, dalam dunia pendidikan kita disuguhkan sebuah novel terkenal tingkat internasional, ditulis seorang duta kemanusiaan UNICEF asal Jepang, Tetsuko Kuroyanagi atau yang lebih dikenal Totto-Chan (gadis cilik di jendela). Dalam novel pertamanya kita disuguhkan pada dinamika pendidikan dan pengasuhan orang tua era perang dunia II hingga novel itu menjadi referensi kajian beberapa pendidikan non formal di Indonesia. Tetapi yang ingin saya tekankan disini adalah buku keduanya, terkait keindahan perjalanan kemanusiaan yang dilakukan meliputi 13 negara  korban konflik perang saudara, kemiskinan, kekurangan gizi serta penyakit menular pada tahun 1984-1997.
Konflik perang saudara di Somalia tahun 1992 telah menyisakan duka mendalam terlebih kemiskinan, dan disini anak-anak juga wanita menjadi korban yang sangat memprihatinkan, sementara kaum laki-laki mengikuti wajib militer yang tak heran membuat satu keluarga terpisah-pisah keberadaannya. Sebuah pemandangan yang sangat tak layak akan tetapi itulah fakta, manusia-manusia ibarat kerangka tubuh berjalan sebab tak adanya makanan yang bisa memberikan pasokan gizi bagi mereka. Sebuah migrasi bagi mereka terpaksa dilakukan dengan menyeberang sungai yang menjadi perbatasan dengan Etiopia, apa yang mereka cari dengan migrasi tak lain adalah terdengarnya bahwa Etiopia -katanya- memiliki makanan yang bisa memberinya makan. Sementara disudut negri lain kita mengetahui dari dampak perang saudara ini menjadikan Etiopia termasuk negara termiskin di dunia, lalu dari mana mereka mendapat makan? Ternyata ini hanyalah sebuah harapan.. entah ada makanan atau tidak, semua aktivis kemanusiaan memahami bahkan untuk mendapatkan semangkuk ransumpun seseorang harus ditimbang terlebih dahulu berat badannya. Apabila berat badannya kurang 70% dari berat normal, maka mereka mendapatkan hak makan. Sungguh kenyataan yang sangat memprihatinkan, tetapi kesehatan mental membuat mereka tak putus harapan untuk tetap melakukan migrasi dengan harapan adanya kemudahan dan keajaiban dari langit.
Selain perjuangan untuk bertahan hidup para korban konflik perang saudara, kekurangan gizi, dan kemiskinan tingkat akut dalam mempertahankan harapan hidup, kita juga mengetahui sebuah potert sejarah yang mengajarkan tentang makna kesuksesan lain yang bersumber dari salah satu permata bangsa. Kepahlawanan sosok jendral yang mulia dengan aqidahnya yang kuat memimpin perang gerilya bersama satu paru-paru di dadanya. Dialah jendral Soedirman, dalam keteguhannya mempertahankan kesucian cinta dan pembelaan terhadap tanah airnya, sebagai bentuk penghambaan kepada Sang Pencipta, kita merasakan bahwa keharuman namanya tetap tercium sampai sekarang, berpuluh-puluh tahun setelah kepergiannya.

Hakikat kehidupan ini adalah proses pengabdian diri, banyak macam cara  menuju kesana. Mengambil hikmah untuk efikasi diri dan menciptakan resiliensi, seperti yang sudah saya sebutkan diawal terkait kesuksesan bahwa memang subyektif pengertiannya, kita bebas menentukan ukuran yang kita yakini. Engkau dengan prestasi akademikmu, engkau dengan prestasi maisyah yang mandiri itu, engkau dengan prestasi perbaikan dirimu, engkau dengan prestasi menebarkan kebaikan kepada orang lain, engkau dengan prestasi membagi kemanfaatan hidupmu kepada orang lain, engkau dengan prestasi menaklukkan kelemahan dirimu, dan lain sebagainya. Sebab semua indah pada takarannya...

Inilah sedikit milestone itu, sebuah batu penanda sebagai prasasti hidup untuk berhenti sejenak mengambil nafas pada pentas kehidupan. Kemudian kembali tegak menatap masa depan, dan mengatakan;“inilah aku dengan segala potensi hidupku akan berkembang maju, bagi agamaku, dan bangsaku.”
"Dan nafas cintanya meniup kuncupku,
Maka ia mekar jadi bunga..." (Muhammad Iqbal)

Ya Rabbi, jadikanlah dunia ditanganku, sementara akherat dihatiku.... Aamiin


*Dalam keramaian pasar tiban ku merangkai kalimat penyemangat.
Yuni Lestari, 9 Apri 2013