Selasa, 16 Februari 2016

Dua Puluh Enam

Begitu banyak cerita mengalun sepanjang perjalanan.

Sejenak teringat seorang gadis dipinggir sawah, setia membawa diary dan merangkai kata sebagai perjumpaan dengan senja.
Ingatkah?
Jarang ia tuliskan keluhan, sebab kata yang ia coretkan adalah kekuatan yang menghidupkan.
Disawah itu, berteman suara burung kecil dan sesekali kendaraan roda dua turut hadir. Menundukkan kepala. Merangkai kata dalam lembaran diary-nya.
Gadis itu.
Iya, gadis itu..
Tapi gadis itu kini jarang mengisi diary dipinggir sawah. Apa mungkin bosan dengan cericit burung kecil yang bernyanyian? Atau, dia yang tidak lagi mengharapkan perjumpaan senja yang menakjubkan?
Ah.. Jangan begitu. Manusia biasanya hanya dipenuhi asumsi yang nampak, tidak ingatkah sebuah kiriman tentang klausa sebab akibat?

Memahami itu perlu. 

Jangan jejali diri dengan ketergesaan semu hingga kadang atau justru seringkali menghakimi orang tanpa belas kasihan.
Kembali pada cerita gadis penulis diary di nuansa senja itu. Aku rindu jejak kakinya. Yang sesekali memejamkan mata memandang senja. Menghirup nafas sedalam-dalamnya. Seolah kekuatan baru layaknya ponsel yang penuh dari pengisian daya alat chargernya.
Bisakah ku bertemu dengannya?

Dua puluh enam keinginan berkali-kali datang menghantui fikiran. 

Menyendiri layaknya gadis pengisi diary kala senja.
Aku tahu itu kebutuhan. Waktu privasi yang diperlukan. Tapi keadaan menuntut manusia memahami bahwa setiap momentum perjumpaan adalah nilai kehidupan, sebab ia bagian ciptaan Tuhan.
Dua puluh enam sebuah kesadaran menguat akan status kemanusiaan. Bukan remaja. Bukan anak-anak. Tapi manusia dewasa dengan kepercayaan manusia lainnya.

Maka kini kau semakin mengerti, kesempatan yang singkat ini akan sia-sia jika tak memiliki arti.

Dua puluh enam bergerak dan berteriak. Berlari meninggalkan kelemahan, mengais sisa waktu agar berkualitas sebagai perbekalan hidup itu. Hidup itu. Hidup itu. Menuju kampung abadimu.


Yogyakarta, 15 Februari 2016
Yuni Lestari

Kamis, 24 Desember 2015

Dimana Rumahmu, Nak?

Orang bilang anakku seorang aktivis. Kata mereka namanya tersohor di kampusnya sana. Orang bilang anakku seorang aktivis. Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat. Orang bilang anakku seorang aktivis. Tapi bolehkah aku sampaikan padamu Nak? Ibu bilang engkau hanya seorang anak kecil Ibu yang lugu.

Anakku, sejak mereka bilang engkau seorang aktivis, ibu kembali mematut diri menjadi seorang ibu aktivis. Dengan segala kesibukanmu, ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat. Ibu sungguh mengerti itu Nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia Nak? Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak, tanpa pernah ibu berpikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia.

Anakku, kita memang berada di satu atap Nak, di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan ibumu ini. Tapi kini dimanakah rumahmu Nak? Ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini. Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu di rumah dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu. Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut. Mungkin tawamu telah habis hari ini, tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk Ibu yang begitu merindukanmu. Ah, lagi-lagi Ibu terpaksa harus mengerti, bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk Ibu. Atau jangankan untuk tersenyum, sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja engkau engkau, katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline. Padahal, andai kau tahu Nak, Ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini, memastikan engkau baik-baik saja, memberi sedikit nasehat yang Ibu yakin engkau pasti lebih tau. Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau Nak, tapi bukankah aku ini ibumu? Yang sembilan bulan waktumu engkau habiskan di dalam rahimku...

Anakku, Ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk Nak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu, engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu. Engkau nampak amat peduli dengan semua itu, Ibu bangga padamu. Namun, sebagian hati Ibu mulai bertanya Nak, kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini Nak? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu? Kapan terakhir engkau menyakan keadaan adik-adikmu Nak? Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu?

Anakku, Ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu. Saat engkau merasa sangat tidak produktif harus menghabiskan waktu dengan keluargamu. Memang Nak, menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat, tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan, Tapi bukankan keluargamu ini adalah tugasmu juga Nak? Bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga Nak?

Anakku, Ibu mencoba membuka buku agendamu. Buku agenda sang aktivis. Jadwalmu begitu padat Nak, ada rapat di sana sini, ada jadwal mengkaji, ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting. Ibu membuka lembar demi lembarnya, disana ada sekumpulan agendamu, ada sekumpulan mimpi dan harapanmu. Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya, masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada disana. Ternyata memang tak ada Nak, tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini. Tak ada cita-cita untuk ibumu ini. Padahal Nak, andai engkau tahu sejak kau ada di rahum ibu, tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu selain cita dan agenda untukmu, anak kecilku...

Kalau boleh Ibu meminjam bahasa mereka, mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional. Boleh Ibu bertanya Nak, dimana profesimu untuk Ibu? Dimana profesionalitasmu untuk keluarga? Dimana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat?
Ah, waktumu terlalu mahal Nak. Sampai-sampai Ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama Ibu..


Pondasi keluarga itu penting. Agar orang tua mendukung setiap langkah kita..

Sumber : Grup Ldm Ldk UIN Bandung

Senin, 23 November 2015

Jeda

Suatu masa sepasang kaki berusaha terus berdiri, menahan beberapa beban diatas pundaknya, sendiri. Ia berusaha diam, menahan keluhan dihadapan manusia betapa penat dan memerahnya pundak dibalik balutan penutup aurat.
Diam, baginya itu senjata. Menahan gelisah dihadapan kumpulan manusia ketika beragam tanya mempersoalkan bagaimana ia bisa. Andai lisannya mudah berbicara, mungkin rasa yang bergumul dihatinya tlah lama berurai tanpa sisa. Tapi tidak, bersama tekad ia berupaya semampunya, lelah menahan beban hanya pada Pemberinya ia keluhkan.
Tak jarang. Dan memang tak jarang dalam kesendirian ia menahan tangis perlahan, betapa lelah dan penatnya hati, juga fikiran karena menahan sendiri.

Suatu masa ketika sepasang kaki itu hampir-hampir tak mampu menopang berat badannya, apalagi beban diatas pundaknya. Ia hampir terkapar ditengah jalan yang besar. Tapi sebelum benar-benar terkapar, ia hempaskan beban dengan buliran air mata tanpa sisa. Menangis layaknya anak kecil yang kehilangan permennya.
Memang wajar ketika saksi yang melihat tumpahan air mata hanya kaca toilet dan kran cuci muka, juga sedikit tisu untuk mengeringkan wajahnya. Namun ia paham, batas kekuatan dirinya sejauh apa. Segera ia mengetik beberapa kalimat dipapan tuts Android, mengirim pada seseorang, hingga tiga puluh menit kemudian sebuah massage WhatsApp masuk padanya.

"Bila kita merasa letih karena berbuat kebaikan, maka sesungguhnya keletihan itu akan hilang dan kebaikan akan kekal. Bila kita bersenang-senang dengan dosa, kesenangan itu akan hilang dan dosa yang akan kekal." (Umar bin Khattab ra)

Suatu masa sebuah cita seseorang yang menginginkan peran dalam hidup. Ditulis berulang dalam lembar diary;"aku benar-benar ingin bermafaat bagi orang lain." Hidup ditengah kumpulan kaum miskin yang menyangkal mimpi jangan terlampau tinggi, "sudahlah, sadari kalau kamu ini kaum papa."
Terdiam, mungkin memang sikap inilah yang berkali-kali menyumbang pembentukan karakternya. Lahir yang dipaksa pasrah dengan memangkas impian membahana, tapi bisik hati berulangkali tak sepakat dengan ucapan banyak manusia disekeliling; "bukan seperti itu caranya bermain mengejar cita-citamu."
Aktivitas menahan rasa menjadi keseharian, merangkai kata sebagai teman yang ia lakukan. Ia turuti ucapan hati meski lahir menyesuaikan nasehat yang hadir. Hingga suatu masa sebuah kalimat mampir terpajang dihadapan mata, tepat didepannya; "sebuah cita-cita dan asa membutuhkan pengorbanan dan pilihan, maka berkorbanlah terhadap apa yang kau pilih, dan jangan menyesal."

Suatu masa butiran-butiran jernih yang jatuh dipipi manusia yang duduk didepannya menyampaikan luka. Ada yang mengeluhkan kekecewaan, ada yang mengeluhkan kelemahan, dan ada yang mengeluhkan kelalaian. 
Beragam cerita menggunung dalam fikirnya. Hampir-hampir tenggelam dalam keluhan orang yang mempercayakan padanya. Penyesalan, apakah kata itu terbersit dalam angannya? Ditambah ucapan wanita sepuh yang selama ini mengisi relung hatinya; "berhentilah, lepaskan semua. Tinggalkan!"
Tapi tak bisa. Bagaimana mungkin dilepaskan, sebab yang  terjadi bagian dari mimpi yang ditulis bertahun silam dalam rangakain kata diary?
Dan ia kembali terdiam.

Suatu masa ditengah tampilan kumpulan manusia lainnya, kumpulan manusia yang sama-sama memiliki sepasang kaki dengan beban diatas pundak-pundak mereka. Terlihat hias kening menahan gurat lelah, bahkan mungkin peluh yang amat dibalik pakaian mereka yang nampak. Mereka dalam tampilan itu sedang berdiskusi, membicarakan cita-cita ini. "aduhai... betapa cakap dan luar biasanya ini," bisiknya dalam hati.
Mematung didepan cermin dan melihat bayangan diri, "benarkah aku selemah ini?"
Ketika ketakutan, harapan, dan kekuatan melebur, "Sesungguhnya kamu bukan orang lemah."
Bersama tampilan kumpulan manusia dihadapannya, sebuah ayat tersaji hingga masuk dalam hati, fikiran, dan jiwa ini;

"Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang dijalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah didalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung." (QS. At Taubah: 111)


Suatu masa, dan suatu masa.
Kehadiran gelisah itu pasti. Lelah yang menggoda hati ingin pergi, tapi tak sampai hati sebab ia bagian hidup ini.
Menahan gerak sejenak mengatur energi semangat. sejenak, dan sejenak (saja).
Bismillah.

Rabu, 04 November 2015

Dear Diary....

Kehidupan layaknya novel berjalan ya? mengisahkan anak manusia yang entah tentang kerinduan, perjuangan, cinta, bahagia, atau air mata. Percayakah kau bahwa cerita ini pasti ada akhirnya? Ah, tentulah iya. Kau layaknya sahabat setia, dan memang kaulah satu-satunya sahabat setia yang kumiliki saat ini. Mempersilakan diri dengan rangkaian kata yang ku ukir ditiap lembaran kertasmu.
Jasad ini mematung diri. Menyaksikkan betapa kelokan-kelokan tajam tak memberikan belas kasih pada makhluk lemah ini.
Aku seorang diri.
Menikmati terjalnya bukit cadas, dan gunung bebatuan. Berkali aku mengadu pada Tuhan, satu peneguhanNya bahwa aku perempuan kuat yang tak akan goyah begitu saja.
Lautan kepercayaan lisan yang menganggap sosok dihadapannya sebagai perempuan perkasa, padahal tidak! Tapi tak mengapa, kuanggap itu bagian do'a mereka. Kau tahu, kenapa hari ini aku menulis seperti ini? Bukan mudah bagiku jika harus benar-benar membuka diriku hingga tertelanjangi semua rahasiaku, sekelumit kisah yang Dia gariskan hanya ingin kepadaNya jujur aku ungkapkan.
Ini soal hati.
Sesuatu yang membuatku jengah! Tapi ini kebutuhan yang tak bisa diabaikan. Aku sadar, saat ini yang menuliskan kumpulan huruf dengan jemarinya dilembaranmu adalah seorang perempuan dewasa, bukan bocah yang tampak 15 atau 20 tahun silam. Seorang bocah yang meminta sesuatu dengan rengekannya membuat ayah ibu tak tega melihat air matanya.
Dan ini soal proses.
Lusinan tanya dihadapkan kedepan mata, "kenapa kau tolak dia, apa yang kurang darinya. Sosok siapa yang sebenarnya menghias kepala hingga 7 pemuda alim dengan lembut kau undur diri dari mereka?"
Aku ingin menjelaskan. Ini bukan soal sosok siapa. Sebab aku tahu ia harus disegerakan, tapi bukan tergesa-gesa melaksanakan. Satu pintaku, pada lusinan lisan yang bertanya itu, "kumohon turut bersabarlah atas ikhtiarku, ini proses perjalanan. Diatas keinginanmu, sesungguhnya hatiku jauh lebih bergejolak dari semua itu."
Kau tahu, sosok yang ratusan kali menuangkan kisah perasaannya adalah perempuan yang hanya berusaha menguatkan dirinya. Menjadikan lembaranmu sebagai pelampiasan sendu, agar orang-orang diluar tidak curiga dan menaruh ragu, "ada apa dengan perempuan itu?."
Aku seorang perempuan, kedudukanku adalah makmum dari imam (nanti), aku seorang perempuan yang (nanti) berperan sebagai istri dan ibu. Diluar seluruh cerita hidupku, kau tahu ada butiran jernih yang seringkali menghias wajahku. Tentang rasa yang menahan, bahkan nasehat ibu justru aku harus melupakan. Lupakan seorang yang tak bisa dipastikan.
Sekali lagi, ini tentang proses. Aku berperang melawan rasa. Aku telah bersumpah, ruang hati hanya untuk yang nanti. Entah siapa dia, yang dengan kesungguhannya mengucap janji suci dihadapan Illahi, atas kesungguhannya.

"Andai aku di izinkan bicara, tapi aku tahu pendidikan rukhiyah tak membenarkannya. Aku berjuang menghindarimu, dan jangan kau tampakkan dirimu dariku. Hadirlah disaat yang tepat, pada orang yang tepat. Wahai makhluk Allah bernama; cinta."


Banguntapan, 4 November 2015

Selasa, 27 Oktober 2015

Manusia sejuta rasa, Anak-anak



a unique creature, awesome,
sometimes annoying,
but is existence makes meaningful.
they are children..

Sebuah kilas balik tentang cinta dan kasih, serta sesuatu yang sering disebut sebagai fitrah perempuan, yaitu harapan terhadap kehadiran makhluk unik dan mengagumkan yang disebut anak. Membicarakan makhluk ini memang sepertinya tak ada habisnya, seperti apa merawat dan mengasuhnya, pun juga sikap manusia dewasa terhadap kehadirannya.
Cerita tentang anak yang kemudian  melemparkan pada sketsa bayangan, bagaimana dulu kecintaan terhadap anak sempat menuntut pembuktian. Iya, pembuktian. Karena setiap cinta membutuhkan pembuktiankan, termasuk anak. Harapan yang dilatih dengan kerinduan dan cinta, walau sejatinya status orang tua belum ada karena pernikahan belum dilakukan, justru disinilah sikap dituntut untuk mempersiapkannya.
Sebagai manusia yang kelak menjadi orang tua (insyaAllah), baik laki-laki atau perempuan, persiapan itu perlu dilakukan sejak mereka belum atau sedang merencanakan pernikahan. Sebab dari mereka kelak, penerus kehidupan akan lahir dari rahim dan keluarga yang dibina, insyaAllah. 
Sedikit menjiplak teori perkembangan yang umum digunakan dalam psikologi, para ilmuan sepakat bahwa rentang usia anak-anak dimulai dari usia 2-12 tahun atau yang biasa disebut sebagai masa childhood. Sementara masa childhood sendiri terbagi dalam tiga fase, yang terdiri dari; fase anak-anak awal, fase anak-anak tengah, dan fase anak-anak akhir. Akan tetapi, tanpa mengurangi rasa hormat :-) dalam kesempatan ini saya tidak ingin berpanjang kata menjelaskan teori perkembangan, sebab jika sekali ketik di beranda Google dengan kata kunci 'tahapan tugas perkembangan manusia' insyaAllah sudah banyak dijelaskan.
Suatu masa dalam kesempatan kuliah semester empat, seorang dosen pengampu mata kuliah psikologi pendidikan menjelaskan tentang Anak Berkebutuhan Khusus atau biasa disingkat ABK. Didalam  ABK kami mengetahui bahwa kondisi berkebutuhan khusus terbagi menjadi lima kategori, dimana dua diantaranya adalah general delays in cognitive and social fuctioning dan advanced cognitive development. Dua kategori diatas, yang pertama merupakan keterlambatan yang berdampak pada kondisi berfikir serta sosial dan emosional, sementara kedua adalah kondisi  mereka yang mengalami percepatan berfikir yang juga mempengaruhi kondisi sosial dan emosional. Contoh kondisi anak yang bisa ditampilkan pada kasus ini adalah  retardasi mental dan gifted. Vonis retardasi mental diberikan kepada anak dengan hasil tes psikologi IQ dibawah 70, serta gifted dengan hasil tes psikologi IQ diatas 130.
Kisah tentang anak-anak demikian yang ingin saya bagikan agar mengambil pelajaran, bersama ilmu yang masih miskin dari pengetahuan anak-anak yang kian berkembang sesuai zaman, juga turut berpegang dengan bagaimana manusia shalih bernama Luqman memberikan nasehat pada anaknya.
Suatu ketika instruksi atasan hadir agar seseorang yang diamanahkan sebagai koordinator Bimbingan Konseling disekolahnya menggali data, tentang siswa usia 7 tahun yang katanya mengalami keterlambatan belajar. Sehari, dua hari, tiga hari ia mengamati siswa itu. Seksama. Pada waktu yang ditentukan, ia segera membuat laporan observasi wawancara dan segera mengonsultasikan pada tenaga ahli (psikolog) yang ditugaskan sekolah. Ada yang memprihatinkan.. Ketika mengamati fisiknya tak ada yang salah, dia gadis cilik yang cantik dan lucu, sangat cantik malah (menurut saya). Akan tetapi, kondisi yang akan minum membuat orang dewasa harus menjelaskan terlebih dulu, "itu gelas, ada airnya, silakan diminum". Berdasar data yang didapatkan, sang psikolog merekomendasikan agar segera dilakukan tes deteksi dini dalam perkembangan. Tes dilakukan, dan seminggu kemudian hasil didapatkan. Mengejutkan.
Sekolah bersikap bijak dengan memanggil orang tua yang bersangkutan, mengundang untuk konseling bersama psikolog. Saya teringat, kalimat psikolog dimulai dengan tanya kabar dan diiringi candaan terkait aktivitas tamu yang luar biasa banyak. Pelan-pelan menuju arah pembicaraan, sebuah peneguhan psikolog sampaikan, "setiap anak adalah makhluk hebat, apapun kondisinya, dan Allah tak pernah salah sehingga Dia mengaruniakan anak pada orang tua yang tepat, orang tua yang kuat dan mencintai anak-anaknya." sang psikolog berusaha mengatur kata agar yang keluar meneguhkan hati tamunya, di pertengahan konseling, beliau menjelaskan bahwa putrinya tergolong siswa dengan kecerdasan dibawah rata-rata (yang sesungguhnya jauh dari rata-rata), IQ 57. Retardasi mental... dan seketika air mata itu pecah.
Dalam kondisi yang berbeda, seorang ibu berkali-kali konsultasi pada salah satu guru besar psikologi anak UGM. Setiap hari. Tak jarang dalam konsultasi air mata wanita itu pecah membasahi pipi. Anak lelakinya yang berusia 7 tahun mempertanyakan substansi kursi empuk yang dimiliki guru dan berbeda dengan kursi kayu para siswa, menganggap bahwa sepatu mengekang kebebasan jari-jari kakinya, dan selalu protes dengan diagram rantai makanan yang mempertanyakan kenapa makanan ular selalu disandingkan dengan tikus sementara dalam kehidupan nyata makanan ular bukan hanya tikus, dan berbagai bentuk protes kritis lainnya. Sebuah protes yang rasanya tidak wajar bagi anak usia 7 tahun!
Hasil tes psikologi kisah kedua ini, bahwa anak divonis gifted sebab IQ diatas 150. Percepatan kognitif yang tak seimbang dengan perkembangan emosional serta sosial, membuat ananda dilabel sebagai anak aneh, agresif karena sering tantrum dan menyerang anak lain, perfeksionis, serta mempertanyakan otoritas, dan sebagainya. Dugaan autis, dan gangguan perilaku sosial lainnya sempat tersemat, hingga sang ibu harus sabar karena setiap hari mendapat laporan sekolah kalau anaknya berulah.
Retardasi mental dan gifted, pada hakikatnya ia tetap karunia. Apapun kondisinya, sekali lagi ia tetap karunia... Kondisi-kondisi anak dengan segala keunikan yang kini nampak, sudah selayaknya menjadi hikmah bagaimana belajar dan bersikap. Sebab dulu, ketika saya belum tahu apa itu  gifted, rasanya lisan begitu mudahnya mengatakan, "enak ya gifted, enggak usah belajar ngoyo, sekali denger aja dah paham. Lah saya, mendengar dan mbaca berkali-kali dulu baru ngerti."

Pada akhirnya, persiapan itu tetap harus dikuatkan dan semakin dikuatkan. Belajar pengasuhan melalui perspektif Islam, pun juga mempelajari perkembangan zaman terhadap pengaruhnya pada tumbuh kembang anak, termasuk segala hal yang berhubungan dengan anak, apapun itu. Sebab ia adalah makhluk unik, mengagumkan. Walau sewaktu-waktu mengganggu atau memaksa manusia dewasa mengatur nafas atas keunikannya, tapi keberadaannya membuat kita bermakna.
Belajar, belajar, dan belajar. Sembari memanjatkan do'a, agar wasilah yang menjadi 'pintunya' Dia ijabah segera. Bismillah...



Selasa, 20 Oktober 2015

Sebait Rasa dalam Surat yang Tak Biasa

Ini tentang cerita kehidupan bersama, kamu boleh menyebutnya persahabatan, persaudaraan, atau apalah sesukamu. Hidup disebuah rumah sewaan dengan biaya tahunan, menjalani hari-hari  dengan latar belakang sifat berbeda; keras, lembut, tegas, sensitif, pendiam, serius, banyak bicara, dan sebagainya. Ada sebagian diantaranya yang mengekspresikan kondisi emosionalnya dengan berbagai sikap yang tertangkap mata; ia yang bahagia dengan cerita tanpa jeda, ia yang bahagia dengan ekspresi datar-datar saja, ia yang bahagia dengan murah senyum semurah-murahnya, ia yang bahagia dengan berbagi apa saja, ia yang berbahagia teriak sekencang-kencangnya, dan sebagainya. Selanjutnya ia yang marah dengan ekspresi diam tanpa bicara sepatah kata, adapula ia yang marah justru meletakkan barang-barang dengan kerasnya, pun juga ia yang marah dengan pergi entah kemana, bahkan juga ia yang marah menyendiri dikamar tanpa merespon stimulus diluar lingkaran egonya, dan sebagainya.
Suatu hari dalam kesempatan berbeda, sebuah kalimat seorang teman hadir bahwa sejatinya keadaan ini adalah proses berlatih. Status sendiri atau belum menikah yang hidup dengan kawan sebangsa, bersama rangkaian budaya dan karakter berbeda adalah latihan untuk kehidupan mendatang. "Coba perhatikan," kata dia,"yang tinggal bersamamu masih teman-teman sejenis denganmu, perempuan dengan perempuan atau laki-laki dengan laki-laki yang masih sendiri, bagaimana jika nanti sudah tinggal dengan manusia halal yang pastinya perbedaan karakter perempuan-lelaki tak bisa dihindari. Belajarlah sabar dalam kondisi ini."

Iya, benar sekali. Bahkan sejatinya perbedaan adalah hukum alam. Tak bisa memaksakan orang lain sesuai dengan individu kita, bahkan perjalanannya menjadi proses pendewasaan bagi upaya berfikir kita. Menerima, mengerti, memahami, bagaimana keunikan tiap diri. Bagaimana belajar komunikasi dengan orang lain yang menyesuaikan karakternya, belajar bersikap dengan orang lain yang tegas tapi tak menyakiti hatinya.
Sebuah kisah yang kiranya menjadi pelajaran berharga, adalah ia seorang lelaki shalih yang luar biasa. Pengabdiannya pada manusia mulia tak diragukan sahabat lainnya. Ia seorang lelaki shalih yang memiliki ukuran tubuh yang konon katanya 'hanya' sebesar tubuh burung pipit. Tubuhnya kurus dan pendek, hingga tinggi badannya tidak berbeda dengan orang yang sedang duduk. Kedua betisnya kecil dan tidak berisi.
Suatu hari ia memanjat pohon arok, dan kedua betisnya terlihat  para sahabat lainnya. Para sahabat yang melihat seketika menertawakan betisnya yang kecil itu. Namun, dengan kebijaksanaan manusia mulia yang memahami karakter sahabat-sahabatnya segera bersabda;"Kalian menertawakan betis Ibnu Mas'ud (Abdullah bin Mas'ud ra). Ketahuilah, disisi Allah kedua betis itu lebih berat timbangannya dibandingkan gunung uhud."
Sikap indah Rasulullah SAW tersampaikan setelah apa yang dilakukan sahabat lain, sebab menertawakan betis kecil milik Ibnu Mas'ud didepan umum secara tidak langsung mengarah pada sikap mempermalukan didepan umum, atau dalam istilah psikologi mengarah pada bullying jenis verbal. Rasulullah memberikan sebuah tanggapan yang sekiranya tanggapan itu seketika mengena, mengena bagi para sahabat tanpa menyakiti hati mereka, sebab sahabat mana yang tidak tahu gunung uhud atau seperti apa kisah tentang perang uhud, dan kepahlawanan para sahabat yang turut berperang di medan uhud.

Beragam kisah tersajikan untuk diambil pelajaran, seperti oase dipadang gersang, tentu setiap orang berharap kebaikan darinya.
Bersama hati yang kembali berusaha memahami perjalanan persudaraan ini, bahwa perbedaan adalah keniscayaan. Seperti barisan pensil warna yang tersajikan, dengan latar belakang warna berbeda dan jiwa seni pelukisnya, mereka mampu menciptakan karya yang mempesona. Semoga ia menjadi latihan, latihan yang berharga mahal hingga tumpukan materi tak mampu menebus mahalnya pengalaman ini.
Untuk saudaraku, sahabatku, temanku, sebait do'a tulusku semoga Allah kuatkan ikatan hati diantara kita, dan menyimpul erat hingga syurga. Membuat mereka yang tak menyukai status kemusliman kita, iri dengan indahnya kecintaan dalam berbagi rasa suka benci hingga setia, merenda usaha kerja bersama, melahirkan harmoni yang semua karenaNya. Bersama... dan bersama...


Senin, 28 September 2015

Mentality of Woman


"Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Maryam didalam kitab (Al Qur'an), yaitu ketika dia mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat disebelah timur (Baitul Maqdis)"
(Maryam:16)

Salah satu nama yang diabadikan sebagai wanita mulia nan suci dalam sejarah. Ujian diatas ujian, air mata diatas air mata, hinaan, cemoohan, umpatan, ditambah sakitnya menanggung kehamilan tanpa seorang pria.
Melahirkan seorang diri ditempat jauh dari manusia... Kepayahan...

Sejenak kisah Maryam melintas dalam ingatan, fitrah makhluk lembut dan penyayang yang bisa menjadi perkasa ketika ujian datang.
Ah rasanya amat jauh dari keteladanannya...
Siapa aku? Makhluk yang terlampau banyak alfanya, keburukannya, bahkan keluhannya.
Suatu hari, dalam kesempatan mencerna hikmah hidup ini, Allah hadirkan sosok wanita ditengah kemelut hidupnya. Detik-detik menunggu sidang perceraian, status baru sebagai single parent dari dua anak yang sebentar lagi tersemat, harus mencari nafkah untuk kehidupan buah hatinya, dan kondisi salah satu anaknya yang berkebutuhan khusus. Rasanya amat lengkap kesulitannya. Namun yang nampak dari penampilannya, ia abaikan perasaannya, ia hapus air mata di hadapan anak-anaknya, ia berperan layaknya wanita kuat sekuat baja.
Menjadi buah bibir banyak kalangan, orang yang tak mengenalnya menggelari manusia kritis yang kebal masukan para analisis. Hanya percaya yang berdasarkan data, tak sekedar kata,"kenapa?", tetapi,"bagaimana?."
Itulah sosoknya, tapi terasa sulit menyebutkan namanya.. Wanita perkasa yang menuai banyak celaan, cemoohan, bahkan petisi kumpulan manusia yang di sudut pengertian lain mereka amat mencintai putra-putrinya.
Allah.. andai waktu dapat diputar, mestinya aku lebih obyektif sejak awal. Tak sekedar berdasar assesment permukaan.
Andai dapat ku ungkapkan, aku kagum dengan wanita itu. Berhati baja demi kebahagiaan anak-anaknya, kehidupan sejak remaja yang yatim piatu, merintis usaha dari titik nol hingga berrelasi pengusaha tingkat internasional, membina rumah tangga yang kenyataannya ditinggal suami mencari madu; madu yang lebih wangi dan ayu...
Sebuah realita tersajikan, bukan sekedar kumpulan kisah yang pernah dibukukan.
Aku hanya ingin mengambil hikmah, memang benar tiap manusia memiliki cerita hidup masing-masing. Dengan kisah bak novel terlaris yang membuat air mata terkuras habis. Namun bedanya kisah ini ditulis oleh Penguasa hidup yang Maha Pengasih, bagaimana tokoh utama menjalani hidupnya, dan seperti apa usaha geraknya terhadap keputusan takdir yang akan dilalui.

Banyak keteladanan wanita hebat itu, yang tak sekedar lemah dibalik uraian air mata dunia. Tapi ia dan mereka yang membuktikan sebagai wanita luar biasa, atas motivasi hidup yang menjadi latar belakangnya.
Allah.. sekali lagi, izinkanku mengambil hikmah. Pada banyak wanita, yang Kau tampakkan kualitas mentalnya. Pada banyak wanita, yang tetap berjuang taat pada suami dan pengayom putra-putrinya.

Selayak wanita mulia dalam bingkai sejarah, pun juga sahabiyah yang meneteskan peluh dan darah. Pada sebuah pembinaan, peran madrasah agung yang mengandung, melahirkan, menyusui, dan mengasuh. Seperti bunga gunung yang mempesona diatas ketinggian, ayu kecantikan hanya diperuntukkan pada pendaki nan beriman.
Ya Allah, teguhkanlah... Para wanita yang berjuang menghadapi kesulitan hidupnya. Mampukan mereka, dan mampukan ia.





*kekagumanku pada wanita itu, seorang ibu dua anak di Yogyakarta