Selasa, 16 Februari 2016

Dua Puluh Enam

Begitu banyak cerita mengalun sepanjang perjalanan.

Sejenak teringat seorang gadis dipinggir sawah, setia membawa diary dan merangkai kata sebagai perjumpaan dengan senja.
Ingatkah?
Jarang ia tuliskan keluhan, sebab kata yang ia coretkan adalah kekuatan yang menghidupkan.
Disawah itu, berteman suara burung kecil dan sesekali kendaraan roda dua turut hadir. Menundukkan kepala. Merangkai kata dalam lembaran diary-nya.
Gadis itu.
Iya, gadis itu..
Tapi gadis itu kini jarang mengisi diary dipinggir sawah. Apa mungkin bosan dengan cericit burung kecil yang bernyanyian? Atau, dia yang tidak lagi mengharapkan perjumpaan senja yang menakjubkan?
Ah.. Jangan begitu. Manusia biasanya hanya dipenuhi asumsi yang nampak, tidak ingatkah sebuah kiriman tentang klausa sebab akibat?

Memahami itu perlu. 

Jangan jejali diri dengan ketergesaan semu hingga kadang atau justru seringkali menghakimi orang tanpa belas kasihan.
Kembali pada cerita gadis penulis diary di nuansa senja itu. Aku rindu jejak kakinya. Yang sesekali memejamkan mata memandang senja. Menghirup nafas sedalam-dalamnya. Seolah kekuatan baru layaknya ponsel yang penuh dari pengisian daya alat chargernya.
Bisakah ku bertemu dengannya?

Dua puluh enam keinginan berkali-kali datang menghantui fikiran. 

Menyendiri layaknya gadis pengisi diary kala senja.
Aku tahu itu kebutuhan. Waktu privasi yang diperlukan. Tapi keadaan menuntut manusia memahami bahwa setiap momentum perjumpaan adalah nilai kehidupan, sebab ia bagian ciptaan Tuhan.
Dua puluh enam sebuah kesadaran menguat akan status kemanusiaan. Bukan remaja. Bukan anak-anak. Tapi manusia dewasa dengan kepercayaan manusia lainnya.

Maka kini kau semakin mengerti, kesempatan yang singkat ini akan sia-sia jika tak memiliki arti.

Dua puluh enam bergerak dan berteriak. Berlari meninggalkan kelemahan, mengais sisa waktu agar berkualitas sebagai perbekalan hidup itu. Hidup itu. Hidup itu. Menuju kampung abadimu.


Yogyakarta, 15 Februari 2016
Yuni Lestari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar