Kehidupan layaknya novel berjalan ya? mengisahkan anak manusia yang entah tentang kerinduan, perjuangan, cinta, bahagia, atau air mata. Percayakah kau bahwa cerita ini pasti ada akhirnya? Ah, tentulah iya. Kau layaknya sahabat setia, dan memang kaulah satu-satunya sahabat setia yang kumiliki saat ini. Mempersilakan diri dengan rangkaian kata yang ku ukir ditiap lembaran kertasmu.
Jasad ini mematung diri. Menyaksikkan betapa kelokan-kelokan tajam tak memberikan belas kasih pada makhluk lemah ini.
Aku seorang diri.
Menikmati terjalnya bukit cadas, dan gunung bebatuan. Berkali aku mengadu pada Tuhan, satu peneguhanNya bahwa aku perempuan kuat yang tak akan goyah begitu saja.
Lautan kepercayaan lisan yang menganggap sosok dihadapannya sebagai perempuan perkasa, padahal tidak! Tapi tak mengapa, kuanggap itu bagian do'a mereka. Kau tahu, kenapa hari ini aku menulis seperti ini? Bukan mudah bagiku jika harus benar-benar membuka diriku hingga tertelanjangi semua rahasiaku, sekelumit kisah yang Dia gariskan hanya ingin kepadaNya jujur aku ungkapkan.
Ini soal hati.
Sesuatu yang membuatku jengah! Tapi ini kebutuhan yang tak bisa diabaikan. Aku sadar, saat ini yang menuliskan kumpulan huruf dengan jemarinya dilembaranmu adalah seorang perempuan dewasa, bukan bocah yang tampak 15 atau 20 tahun silam. Seorang bocah yang meminta sesuatu dengan rengekannya membuat ayah ibu tak tega melihat air matanya.
Dan ini soal proses.
Lusinan tanya dihadapkan kedepan mata, "kenapa kau tolak dia, apa yang kurang darinya. Sosok siapa yang sebenarnya menghias kepala hingga 7 pemuda alim dengan lembut kau undur diri dari mereka?"
Aku ingin menjelaskan. Ini bukan soal sosok siapa. Sebab aku tahu ia harus disegerakan, tapi bukan tergesa-gesa melaksanakan. Satu pintaku, pada lusinan lisan yang bertanya itu, "kumohon turut bersabarlah atas ikhtiarku, ini proses perjalanan. Diatas keinginanmu, sesungguhnya hatiku jauh lebih bergejolak dari semua itu."
Kau tahu, sosok yang ratusan kali menuangkan kisah perasaannya adalah perempuan yang hanya berusaha menguatkan dirinya. Menjadikan lembaranmu sebagai pelampiasan sendu, agar orang-orang diluar tidak curiga dan menaruh ragu, "ada apa dengan perempuan itu?."
Aku seorang perempuan, kedudukanku adalah makmum dari imam (nanti), aku seorang perempuan yang (nanti) berperan sebagai istri dan ibu. Diluar seluruh cerita hidupku, kau tahu ada butiran jernih yang seringkali menghias wajahku. Tentang rasa yang menahan, bahkan nasehat ibu justru aku harus melupakan. Lupakan seorang yang tak bisa dipastikan.
Sekali lagi, ini tentang proses. Aku berperang melawan rasa. Aku telah bersumpah, ruang hati hanya untuk yang nanti. Entah siapa dia, yang dengan kesungguhannya mengucap janji suci dihadapan Illahi, atas kesungguhannya.
"Andai aku di izinkan bicara, tapi aku tahu pendidikan rukhiyah tak membenarkannya. Aku berjuang menghindarimu, dan jangan kau tampakkan dirimu dariku. Hadirlah disaat yang tepat, pada orang yang tepat. Wahai makhluk Allah bernama; cinta."
Banguntapan, 4 November 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar