Senin, 28 September 2015

Mentality of Woman


"Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Maryam didalam kitab (Al Qur'an), yaitu ketika dia mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat disebelah timur (Baitul Maqdis)"
(Maryam:16)

Salah satu nama yang diabadikan sebagai wanita mulia nan suci dalam sejarah. Ujian diatas ujian, air mata diatas air mata, hinaan, cemoohan, umpatan, ditambah sakitnya menanggung kehamilan tanpa seorang pria.
Melahirkan seorang diri ditempat jauh dari manusia... Kepayahan...

Sejenak kisah Maryam melintas dalam ingatan, fitrah makhluk lembut dan penyayang yang bisa menjadi perkasa ketika ujian datang.
Ah rasanya amat jauh dari keteladanannya...
Siapa aku? Makhluk yang terlampau banyak alfanya, keburukannya, bahkan keluhannya.
Suatu hari, dalam kesempatan mencerna hikmah hidup ini, Allah hadirkan sosok wanita ditengah kemelut hidupnya. Detik-detik menunggu sidang perceraian, status baru sebagai single parent dari dua anak yang sebentar lagi tersemat, harus mencari nafkah untuk kehidupan buah hatinya, dan kondisi salah satu anaknya yang berkebutuhan khusus. Rasanya amat lengkap kesulitannya. Namun yang nampak dari penampilannya, ia abaikan perasaannya, ia hapus air mata di hadapan anak-anaknya, ia berperan layaknya wanita kuat sekuat baja.
Menjadi buah bibir banyak kalangan, orang yang tak mengenalnya menggelari manusia kritis yang kebal masukan para analisis. Hanya percaya yang berdasarkan data, tak sekedar kata,"kenapa?", tetapi,"bagaimana?."
Itulah sosoknya, tapi terasa sulit menyebutkan namanya.. Wanita perkasa yang menuai banyak celaan, cemoohan, bahkan petisi kumpulan manusia yang di sudut pengertian lain mereka amat mencintai putra-putrinya.
Allah.. andai waktu dapat diputar, mestinya aku lebih obyektif sejak awal. Tak sekedar berdasar assesment permukaan.
Andai dapat ku ungkapkan, aku kagum dengan wanita itu. Berhati baja demi kebahagiaan anak-anaknya, kehidupan sejak remaja yang yatim piatu, merintis usaha dari titik nol hingga berrelasi pengusaha tingkat internasional, membina rumah tangga yang kenyataannya ditinggal suami mencari madu; madu yang lebih wangi dan ayu...
Sebuah realita tersajikan, bukan sekedar kumpulan kisah yang pernah dibukukan.
Aku hanya ingin mengambil hikmah, memang benar tiap manusia memiliki cerita hidup masing-masing. Dengan kisah bak novel terlaris yang membuat air mata terkuras habis. Namun bedanya kisah ini ditulis oleh Penguasa hidup yang Maha Pengasih, bagaimana tokoh utama menjalani hidupnya, dan seperti apa usaha geraknya terhadap keputusan takdir yang akan dilalui.

Banyak keteladanan wanita hebat itu, yang tak sekedar lemah dibalik uraian air mata dunia. Tapi ia dan mereka yang membuktikan sebagai wanita luar biasa, atas motivasi hidup yang menjadi latar belakangnya.
Allah.. sekali lagi, izinkanku mengambil hikmah. Pada banyak wanita, yang Kau tampakkan kualitas mentalnya. Pada banyak wanita, yang tetap berjuang taat pada suami dan pengayom putra-putrinya.

Selayak wanita mulia dalam bingkai sejarah, pun juga sahabiyah yang meneteskan peluh dan darah. Pada sebuah pembinaan, peran madrasah agung yang mengandung, melahirkan, menyusui, dan mengasuh. Seperti bunga gunung yang mempesona diatas ketinggian, ayu kecantikan hanya diperuntukkan pada pendaki nan beriman.
Ya Allah, teguhkanlah... Para wanita yang berjuang menghadapi kesulitan hidupnya. Mampukan mereka, dan mampukan ia.





*kekagumanku pada wanita itu, seorang ibu dua anak di Yogyakarta

Jumat, 11 September 2015

Teruslah Bertumbuh Meski Secara Formal Tampak Gagal

Terinspirasi  sebuah judul artikel di majalah Tarbawi beberapa tahun lalu, agaknya tujuh kalimat itu sangat mengena bagi  mereka yang suka menggunakan bahasa ‘hati’ sebagai konsumsinya. Teruslah bertumbuh meski secara formal tampak gagal, menyiratkan tentang cerita pedihnya  kegagalan ataupun juga hilangnya harapan karena ditinggal orang yang disayang. Bukan suatu keadaan nyaman ketika kenyataan justru menumpahkan air mata kesedihan, sebab siapa yang meminta karena do’a pastinya lebih cenderung pada harapan kemudahan.
Tetapi berbicara kehidupan kita tak mungkin mengingkari bahwa hadirnya kesulitan adalah bagian hidup yang tak dapat dihindarkan. Setiap kita memang berharap indahnya taman bunga dengan warna-warni mempesonanya, tapi lupakah kita bahwa menuju warna-warni mempesona memerlukan tugas ekstra sang tukang kebunnya? Setiap pagi-siang-sore seorang tukang kebun tak lepas perhatian bagaimana memastikan nutrisi tanaman sampai ke setiap akarnya, ke setiap akarnya, dan ke setiap akarnya… hingga kemudian terdistribusikan ke batangnya, dahannya, daunnya, hingga bunga-bunganya. 
Sudah menjadi ketentuan ketika menjalani kenyataan penuh kejutan, bisa terasa manis atau justru pahit. Demikianlah isi cerita ini, ia akan mengajakmu berkelana, naik turun bukit kisah, berkelok-kelok alur perjalanan. Bagi mereka yang tak tahan bisa mengalami mabuk kendaraan; mual luar biasa, pusing tak tertahankan, tapi justru ketika isi perut dikeluarkan, rasa lega menjadi imbalan.
Teruslah bertumbuh meski secara formal tampak gagal, mengajarkan kita bahwa betapapun lemahnya keadaan jangan kemudian membuat kita hilang harapan. Sebab kita hidup secara kolektif, jikapun kita merantau sendiri tetap ingatlah ada rangkaian hati yang berhak mendapatkan kabar keadaan kita, yaitu orang yang senantiasa mendo'akan kebahagiaan kita. Kepada merekalah kita berusaha tegak melanjutkan cerita masa.
Teruslah bertumbuh meski secara formal tampak gagal. Adakalanya menegakkan diri ketika jatuh bukan hal mudah, sebab seperti kayuhan sepeda pertama juga terasa berat. Memulai untuk terus bertumbuh ketika respon sosial justru kadang menjatuhkan. Sekali lagi, inilah cerita masa. Layaknya para sastrawan yang mengibaratkan pentas dunia, dan kitalah tokoh utamanya, tokoh utama dalam kisah  hidup kita. Akan berperan seperti apa dalam masing-masing cerita, itulah kita yang kelak akan menjadi sejarah orang-orang setelah kehidupan kita.
Maka sekali lagi, teruslah bertumbuh meski secara formal tampak gagal...

Kamis, 10 September 2015

Antara Aku, kamu, dan Profesi Tukang Kebun Itu


a Letter of  Love

Antara aku dan kamu, agaknya tak mampu kusembunyikan rasa geli disudut hatiku. Ketika jemari memulai mengetik dipapan tuts-nya, membuat surat cinta yang sebelumnya belum pernah ku lalukan. Awalnya tak pernah terlintas dalam benakku, bahwa empat tahun ini berjodoh satu tempat tinggal denganmu. Seorang yang diawal asing bagiku, terduduk dipojok ruang bernama balai RK lima setengah tahun lalu. Pun juga dengan segala yang kulalui bersamamu, atau peristiwa lain yang tak melibatkanmu; akademikku, studi banding program studi itu, pekerjaanku, atau kegiatan apapun yang tak menyertakanmu.
Ketika cericit Sriti melintas ruang jendela ini, seolah mengabarkan betapa sempurnanya karunia Tuhan Yang Esa. Dia yang pengasih mengirimkan seorang sahabat bak Muhajirin dan Anshar dimasa Rasulullah, saling berkorban dan mencinta karenaNya.
Tapi aku tak ingin banyak berkata, dan biarkan lintasan ingatan ditiap neuron ini yang berbicara; ketika guru menceritakan taman bunga itu, dengan takzim kita mendengar bahkan berbisik hati ingin menjadi bagian dari seorang tukang kebun. Berlomba dengan petak tanah yang berbeda, aku bertekad menanam bunga yang lebih indah darimu. Namun ternyata dalam action yang nampak ternyata kau tak mau kalah dariku.
Sebuah taman bunga yang hanya kita, yang dapat memaknainya. Kau ingat kata-kataku saat itu?, "Kau tahu bahwa hidupku dikelilingi bangunan tinggi menjulang, hampir-hampir aku memasukinya bahkan ada yang sudah didalamnya. Bangunan mewah yang menurutku megah, namun ternyata hanya sesak yang membuatku jauh dari kesejukan alam yang menjadi impian."
Sementara wajah bersahajamu menjawab,"aku sudah pernah merasakan apa yang kamu rasakan, kita senasip ya, hehehe."

Hfff, tak kusangka sudah selama itu dialog kita.
Kini kita meneruskan tiap rajutan mimpi, mengilhami apapun yang semesta beri sebagai bekal melanjutkan perjalanan nanti. Ditengah hiruk pikuk pentas dunia, adalah mereka yang tetap menjadikan tukang kebun sebagai profesi utama. Tidakkah mereka lelah pun juga tergiur merasakan betapa indahnya pameran zaman yang tersuguhkan dihadapan mukanya?
Mungkin disini aku yang terlalu kerdil, sahabatku. Tak memahami alur berfikir atau justru masa bodoh dengan cara orang lain berfikir. Tapi tidak! Walau kebebasan mencerna informasi bertengger diatas kepala ini, aku juga punya prinsip yang membuatku tak mudah kabur atas tawaran manis para penjaja puitis.
Aku masih ingat mimpi kita, tujuan hidup kita kemana, dan apa yang menjadi makna kebahagiaan kita.
Aku sadar suatu saat akan ada jeda, entah berapa lama atau bahkan sepanjang sisa kehidupan kita yang tak akan lagi bersama hingga mengharap pertemuan di syurgaNya.
Aku ingin mengabarkan padamu, yang mungkin berkesempatan membaca catatanku, aku ingin bahkan selamanya menjadi tukan kebun. Ditengah resiko tertusuk duri bunga-bunga indah, aku kan setia menanam benih-benihnya, memupuk tiap batang pohonnya, menyiram agar ia terlihat segar dan indah dipandang mata.
Sedangkan mereka yang pernah kupersilakan memasuki taman ini, sama sekali tak ada paksaan hingga mereka membuat keputusan. Bahkan jika mereka tak memasukinya, aku yakin mereka merasakan betapa indahnya bunga-bunga bermekaran yang menampilkan pesonanya.
Sahabat, dimanapun kamu berada ku berharap ingatlah mimpi kita. Taman bunga- taman bunga kita, mari menjaga bunga ini dengan menjadi tukang kebun sejati.






*sebuah refleksi, dimana taman bunga menjadi cerita penggugah para pecinta. para pecinta yang katanya rindu  pertemuan dengan Kekasihnya. Kekasih yang selama ini setia memberikan totalitas cintaNya, padanya, pada mereka.
Rabbi... ridhailah profesi ini, dalam menata bunga-bunga indah ini. ridhailah ia sebagai jawaban ketika Kau bertanya kelak, apa yang sudah kulakukan kepada saudara-saudaraku dalam menyampaikan kalimatMu...

Rabu, 09 September 2015

Secangkir Kopi Sendu dan Gula Pengobat Rindu

Siang itu saya terduduk, seorang diri dikamar. Berfikir dan merenungi suatu hal yang baru saja terjadi, yang mungkin sebenarnya sepele. Bisa dikatakan berusaha mencari serpihan hikmah.
Sudah menjadi kecanduan memang, yang sebenarnya sudah satu tahun ditinggalkan, tetapi kehadirannya adalah katarsis emosi negatif yang dilawan. Yaitu, secangkir kopi.
Sengatan terik matahari tak menghalangi saya untuk mampir swalayan, sebenarnya enggan, tapi karena adanya hajat khusus bernama kebutuhan. Mbak Jupi orange akhirnya saya arahkan ke swalayan dekat kontrakan, membeli beberapa sachet kopi hitam instan, yang walaupun beberapa hari kemudian akhirnya bungkusan-bungkusan itu disita teman baik saya. Hmmm, bentuk cintanya pada saya mungkin, agar kecanduan yang sempat tersembuhkan tak menjadi kebiasaan.. hehe
Ketika saya memasukkan serbuk kopi serta menyeduh dan beberapa detik kemudian meminumnya, saya terkejut luar biasa. Kopi yang saya beli dan minum itu adalah kopi hitam murni yang tidak ada gulanya, alias pahit! Sebelumnya, saya tidak membaca kalau itu bukan 2 in 1, karena melihat kopi di rak swalayan langsung ambil saja. Tersedak dan batuk dengan kopi yang dimulut, ketika berusaha menelannya ternyata rasa pahit sangat menyiksa tenggorokan. Dan akhirnya mau tidak mau saya harus mencari gula. Sementara persediaan gula tak ada, dan saya pun harus keluar lagi ke swalayan membeli gula..

Antara kopi dan gula, sejenak inilah yang sempat menyita perhatian saya. Bukan bermaksud menghadirkan cerita kopi dan gula yang kemudian mendapat nama baik adalah kopinya, bukan.. bukan itu yang saya angkat.
Allah SWT menyampaikan;"Dia memberi hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki, barang siapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat." (Al Baqarah: 269)
Ketika berusaha mengkorelasikan kehadiran kopi dan gula dalam sebuah kehidupan, bukankah kopi ibarat permasalahan dan gula adalah kemudahan..?
Secangkir kopi hitam tanpa gula, yang jika diminum membuat tak nyaman tenggorokan, serta sebuah permasalahan yang mengusik jiwa seseorang. Keduanya tidak akan berubah rasa, kecuali adanya gerakan untuk menambahkan gula dan 'gula'.
Mungkin seperti itu pula pengibaratan  antara permasalahan dan kemudahan, akan tetapi yang sering menjadi permaslahan ditengah persoalan adalah bagaimana seseorang mengupayakan mencari gula untuk menghilangkan pahitnya kesedihan. Sebab seperti yang saya alami tadi, mengharuskan kembali keluar rumah dan melawan teriknya matahari ditengah siang tentu bukan hal mudah.
Namun inilah pilihan. Proses penyelesaian sebuah permasalahan dikembalikan pada individu yang mengalaminya, entah ia mau bergerak atau tidak. Sehingga disini, kesehatan iman sangat menentukan kesuksesannya.
Sungguh benar kata Rasul, bahwa teman kita memiliki pengaruh pada jiwa kita. Ketika berteman dengan penjual minyak wangi kita akan tertular harumnya, dan jika kita berteman dengan pandai besi maka kita akan tertular bau pengapnya.
Disini, dalam sebuah keheningan mencari hikmah, mengalirlah energi iman yang ibarat sentuhan lembut merasuk qalbu;"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan," demikian janji Allah dalam Al Insyirah:6.
Terasa malu kiranya, ketika ditengah kesempitan kemudian membuka mata bahwa diluar sana sangat banyak yang mengalami kesulitan lebih berat dari kita. Namun mereka tanpa hancur diri tetap berusaha menjalani kesempatan hidup dengan penuh kesyukuran.
Sepenggal kisah yang semoga mencharge iman, adalah ia Yusuf AS, seorang nabi yang dinisbatkan memiliki ketampanan membius. Membius para pembesar wanita Mesir hingga  tanpa sadar mengiris-iris jemarinya sendiri, "Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia, ini benar-benar malaikat yang mulia." (Yusuf: 31).
Ujian membuatnya diasingkan saudara-saudaranya sendiri, dibuang disumur, menjadi budak, difitnah dengan fitnah yang keji. Namun atas kesabaran dan pilihannya mempertahankan iman, ia kembali menjadi manusia yang dimuliakan. "Wahai ayahku, inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Dan sesungguhnya Tuhanku menjadikannya kenyataan." (Yusuf: 100).

Alangkah berat ujiannya.. tapi, masihkah lisan kita berucap;"iya karena dia seorang nabi, dan nabi lebih berat ujiannya dari pada manusia biasa."
Bukankah setiap kisah hadir untuk diambil pelajaran, bahwa kesulitan hidup adalah kepastian yang tak dapat dihindarkan? Makhluk Allah bernama masalah memang akan hadir kepada siapapun yang masih memiliki nafas diujung dadanya. Menghirup oksigen dengan merdeka ataupun tidak, menikmati kesejukan udara dengan gratis ataupun tidak, merasai sentuhan yang hangat ataupun tidak, bahkan kehidupan sebagai karunia terbesar!
Fahamilah temanku, siapapun kamu yang sedang bersedih, hakikatnya ujian hidup bersifat kecil dibanding kekuatanmu. Dia yang Maha Sempurna telah mengatur takaran masalah sesuai ukurannya. Yang tak akan tertukar, yang tak akan terlampaui, dan yang memang menjadi milikmu. Iya milikmu.. Karena sebuah permasalahan telah tersematkan kepada tuannya, hingga ketika saatnya tiba, bersama aktualisasi kekuatanmu, kamu mampu memecahkan kesulitan itu. Yakinlah pada kemampuanmu!
dan semoga Allah teguhkan jiwamu, dalam menjalani segala urusanmu.