Sabtu, 22 Agustus 2015

Ketika Nasehat Islam Relevan dengan Kajian Barat Psikologi Perkembangan

Bermula sebuah pesan untuk melakukan transfer ilmu kepada ibu-ibu muda disalah satu sudut DIY, membuat saya harus upgrade keseluruhan soal pemahaman  agar apa yang di ucapkan  menjadi wasilah mendapat ridhaNya. Pengasuhan, yang merupakan salah satu konsentrasi  disiplin ilmu bernama psikologi, telah menjelaskan suatu tahapan besar tentang perkembangan manusia.
Ketika kita membaca ulang bagaimana seorang pemuda yang melaporkan kedurhakaan ayahnya kepada dirinya, kita mengingat bahwa salah satu point yang disebutkan sang Amirul Mukminin adalah mencarikan calon ibu yang shalihah. Disini kita menggaris bawahi bahwa salah satu tahapan membangun rumah tangga dalam Islam adalah pada proses mencari pasangan. Tidak jauh dengan kajian psikologi perkembangan, dimana ia merupakan keilmuan paling dasar dalam ilmu psikologi. Kerangka kajian psikologi perkembangan menjelaskan bahwa perkembangan manusia dimulai saat kedua orang tua (ayah-ibu) kita merencanakan kehamilan kita. Berlanjut pada proses reproduksi, pembuahan, embrio, dan janin, dimana dalam tahapan ini disebut tahapan pre natal. Berlanjut pada natal (kelahiran), kemudian post natal yang terdiri dari bayi, kemudian berlanjut pada anak-anak yang memiliki 3 klasifikasi perkembangan (masa anak-anak awal, tengah, dan akhir), remaja yang juga dengan klasifikasinya, dewasa yang juga dengan klasifikasinya, lansia, dan terakhir kematian.
Tahapan-tahapan dimana setiap pointnya memiliki tugas perkembangan membuat saya berfikir ulang, juga merasai betapa sempurnanya agama ini ketika kita mencermati bahwa Islam mengatur sedemikian runtutnya kehidupan manusia dengan teliti dan rapi.
Pada kajian ini kita juga kembali di ingatkan bahwa walaupun dalam teori psikologi sosial disajikan sub bab relationship, dimana spesifikasinya membahas tentang cinta dan persahabatan, baik cinta dalam hal keluarga, sahabat, lawan jenis, dan sebagainya. Kita tetap di ingatkan bahwa tahapan perkembangan manusia dimulai pada proses merencanakan kehamilan, yang tentu ketika orang tua berharap anak-anak yang lahir bisa dibanggakan, menuntut pemahaman orang tua pada proses pengasuhan yang akan dilakukan kelak.
Sebagai seorang Muslim Allah telah memberikan pembelajaran melalui Luqman dalam QS. Luqman:13, "wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar."
Ayat di atas merupakan nasehat yang indah, dimana dalam sudut pandang yang lain Allah memberikan pendidikan kepada para pemuda-pemudi Islam bagaimana menjalani proses pengasuhan kelak, untuk mereka yang saat ini sejatinya belum menikah bisa mengambil pelajaran.
Proses pengasuhan yang terjabarkan dalam psikologi sebagaimana disebutkan Hurlock (1978), bahwa aspek pengasuhan yang kita temui dilapangan memiliki kerangka atau jenis yang beragam. Disini saya tak bisa memungkiri, bahwa ketika dihadapkan pada permasalahan anak-anak, sangat banyak permasalahan berawal pada pengasuhan yang tak seimbang. Terjadinya perbedaan pengasuhan yang dilakukan oleh seorang ibu dan ayah, sangat berpengaruh pada sikap dan keseharian anak. Jika seorang anak ditemukan memiliki sikap inferior yang berlebih, kita bisa menggali bagaimana pengasuhan yang dilakukan orang tua. Apakah pola pengasuhan mereka cenderung otoriter yang mengarah pada protektif, dengan dalih sayangnya terhadap anak sehingga cenderung mengarah pada membatasi keinginan anak.
Suatu ketika dalam sebuah kajian pengasuhan, seorang ibu menyebutkan bahwa menjadi orang tua adalah bagian jihad besar sebab mendidik anak untuk menjadi penerus peradaban. Mendidik anak  bukan pekerjaan mudah dan sederhana, sebab dampaknya membuat orang tua kelak dimintai pertanggungjawaban dari Sang Pencipta.
Namun dalam sedikit catatan kecil ini, saya tak mampu berpanjang teori, sebab sebaik-baik pengasuh adalah mereka yang secara nyata telah melahirkan atau membesarkan putra-putrinya. Sedikit pengingat pada mereka (khususnya saya) yang mempersiapkan upaya penyempurna separuh agama, bahwa kehidupan rumah tangga tak sekedar banyangan indahnya bersama orang yang dicinta. Tapi bagaimana menjadikan keluarganya sebagai estafet perjuangan Islam yang sebenarnya. Melalui pengasuhan, sebab pengasuhan turut menentukan kualitas anak-anak kelak. Allahua'lam

Selasa, 11 Agustus 2015

Kesulitanmu Tak Sebanding Kekuatanmu; so, don't worry be happy

Didalam tiap kesempatan ini (hidup) aktivitas bernama membuat pilihan dan keputusan adalah keniscayaan yang tak dapat dihindarkan. Dari hal yang mungkin bersifat remeh, sampai hal yang bersifat penting. Sebagai misal, kondisi sederhana seperti memilih makan bersama teman atau memilih menyendiri disuatu tempat, bahkan ketika sampai dihadapkan pada membuat keputusan besar seperti menentukan letak tempat tinggal, keputusan menikah, ataupun juga sebuah keputusan yang berhubungan dengan prinsip kehidupan (agama).
Pilihan dari tiap sajian menu kehidupan adalah sarana yang menentukan kualitas hidup seseorang. Kehadirannya yang kadang membingungkan sehingga kesulitan mengambil keputusan, adalah salah satu dari bentuk pendidikan yang Allah karuniakan.
Suatu masa datang seorang adik perempuan, dengan kondisi tugas akhir yang cukup menyulitkan. Bersama uraian air mata tersebab keadaan memaksanya mengubah seluruh isi tugas akhirnya, sementara deadline yang diberikan fakultas untuk mengejar pendaftaran sidang pendadaran hanya sepekan saja. Keadaan ini tentu menimbulkan kekalutan; pertama berjuang menerima keadaan bahwa ia harus revisi total, kedua menata diri-hati-juga fikiran terhadap apa yang akan disampaikan kepada orang tua dengan 'kegagalannya' menghadirkan orang tua dikesempatan wisuda periode I yang tinggal didepan mata.
Permasalahan di atas hanyalah sebuah contoh kecil dimana seseorang harus bergerak mengambil keputusan besar, sebab pada hakikatnya menentukan sikap dalam menghadapi permasalahan adalah sebuah pilihan.
Teringat sebuah ayat bahwa Allah tak akan membebani hambaNya melebihi batas kemampuannya, sehingga dengan demikian ukuran permasalahan seseorang tak mungkin lebih besar dari kekuatan yang dimiliki seseorang itu sendiri.