Bermula sebuah pesan untuk melakukan transfer ilmu kepada ibu-ibu muda disalah satu sudut DIY, membuat saya harus upgrade keseluruhan soal pemahaman agar apa yang di ucapkan menjadi wasilah mendapat ridhaNya. Pengasuhan, yang merupakan salah satu konsentrasi disiplin ilmu bernama psikologi, telah menjelaskan suatu tahapan besar tentang perkembangan manusia.
Ketika kita membaca ulang bagaimana seorang pemuda yang melaporkan kedurhakaan ayahnya kepada dirinya, kita mengingat bahwa salah satu point yang disebutkan sang Amirul Mukminin adalah mencarikan calon ibu yang shalihah. Disini kita menggaris bawahi bahwa salah satu tahapan membangun rumah tangga dalam Islam adalah pada proses mencari pasangan. Tidak jauh dengan kajian psikologi perkembangan, dimana ia merupakan keilmuan paling dasar dalam ilmu psikologi. Kerangka kajian psikologi perkembangan menjelaskan bahwa perkembangan manusia dimulai saat kedua orang tua (ayah-ibu) kita merencanakan kehamilan kita. Berlanjut pada proses reproduksi, pembuahan, embrio, dan janin, dimana dalam tahapan ini disebut tahapan pre natal. Berlanjut pada natal (kelahiran), kemudian post natal yang terdiri dari bayi, kemudian berlanjut pada anak-anak yang memiliki 3 klasifikasi perkembangan (masa anak-anak awal, tengah, dan akhir), remaja yang juga dengan klasifikasinya, dewasa yang juga dengan klasifikasinya, lansia, dan terakhir kematian.
Tahapan-tahapan dimana setiap pointnya memiliki tugas perkembangan membuat saya berfikir ulang, juga merasai betapa sempurnanya agama ini ketika kita mencermati bahwa Islam mengatur sedemikian runtutnya kehidupan manusia dengan teliti dan rapi.
Pada kajian ini kita juga kembali di ingatkan bahwa walaupun dalam teori psikologi sosial disajikan sub bab relationship, dimana spesifikasinya membahas tentang cinta dan persahabatan, baik cinta dalam hal keluarga, sahabat, lawan jenis, dan sebagainya. Kita tetap di ingatkan bahwa tahapan perkembangan manusia dimulai pada proses merencanakan kehamilan, yang tentu ketika orang tua berharap anak-anak yang lahir bisa dibanggakan, menuntut pemahaman orang tua pada proses pengasuhan yang akan dilakukan kelak.
Sebagai seorang Muslim Allah telah memberikan pembelajaran melalui Luqman dalam QS. Luqman:13, "wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar."
Ayat di atas merupakan nasehat yang indah, dimana dalam sudut pandang yang lain Allah memberikan pendidikan kepada para pemuda-pemudi Islam bagaimana menjalani proses pengasuhan kelak, untuk mereka yang saat ini sejatinya belum menikah bisa mengambil pelajaran.
Proses pengasuhan yang terjabarkan dalam psikologi sebagaimana disebutkan Hurlock (1978), bahwa aspek pengasuhan yang kita temui dilapangan memiliki kerangka atau jenis yang beragam. Disini saya tak bisa memungkiri, bahwa ketika dihadapkan pada permasalahan anak-anak, sangat banyak permasalahan berawal pada pengasuhan yang tak seimbang. Terjadinya perbedaan pengasuhan yang dilakukan oleh seorang ibu dan ayah, sangat berpengaruh pada sikap dan keseharian anak. Jika seorang anak ditemukan memiliki sikap inferior yang berlebih, kita bisa menggali bagaimana pengasuhan yang dilakukan orang tua. Apakah pola pengasuhan mereka cenderung otoriter yang mengarah pada protektif, dengan dalih sayangnya terhadap anak sehingga cenderung mengarah pada membatasi keinginan anak.
Suatu ketika dalam sebuah kajian pengasuhan, seorang ibu menyebutkan bahwa menjadi orang tua adalah bagian jihad besar sebab mendidik anak untuk menjadi penerus peradaban. Mendidik anak bukan pekerjaan mudah dan sederhana, sebab dampaknya membuat orang tua kelak dimintai pertanggungjawaban dari Sang Pencipta.
Namun dalam sedikit catatan kecil ini, saya tak mampu berpanjang teori, sebab sebaik-baik pengasuh adalah mereka yang secara nyata telah melahirkan atau membesarkan putra-putrinya. Sedikit pengingat pada mereka (khususnya saya) yang mempersiapkan upaya penyempurna separuh agama, bahwa kehidupan rumah tangga tak sekedar banyangan indahnya bersama orang yang dicinta. Tapi bagaimana menjadikan keluarganya sebagai estafet perjuangan Islam yang sebenarnya. Melalui pengasuhan, sebab pengasuhan turut menentukan kualitas anak-anak kelak. Allahua'lam
Tahapan-tahapan dimana setiap pointnya memiliki tugas perkembangan membuat saya berfikir ulang, juga merasai betapa sempurnanya agama ini ketika kita mencermati bahwa Islam mengatur sedemikian runtutnya kehidupan manusia dengan teliti dan rapi.
Pada kajian ini kita juga kembali di ingatkan bahwa walaupun dalam teori psikologi sosial disajikan sub bab relationship, dimana spesifikasinya membahas tentang cinta dan persahabatan, baik cinta dalam hal keluarga, sahabat, lawan jenis, dan sebagainya. Kita tetap di ingatkan bahwa tahapan perkembangan manusia dimulai pada proses merencanakan kehamilan, yang tentu ketika orang tua berharap anak-anak yang lahir bisa dibanggakan, menuntut pemahaman orang tua pada proses pengasuhan yang akan dilakukan kelak.
Sebagai seorang Muslim Allah telah memberikan pembelajaran melalui Luqman dalam QS. Luqman:13, "wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar."
Ayat di atas merupakan nasehat yang indah, dimana dalam sudut pandang yang lain Allah memberikan pendidikan kepada para pemuda-pemudi Islam bagaimana menjalani proses pengasuhan kelak, untuk mereka yang saat ini sejatinya belum menikah bisa mengambil pelajaran.
Proses pengasuhan yang terjabarkan dalam psikologi sebagaimana disebutkan Hurlock (1978), bahwa aspek pengasuhan yang kita temui dilapangan memiliki kerangka atau jenis yang beragam. Disini saya tak bisa memungkiri, bahwa ketika dihadapkan pada permasalahan anak-anak, sangat banyak permasalahan berawal pada pengasuhan yang tak seimbang. Terjadinya perbedaan pengasuhan yang dilakukan oleh seorang ibu dan ayah, sangat berpengaruh pada sikap dan keseharian anak. Jika seorang anak ditemukan memiliki sikap inferior yang berlebih, kita bisa menggali bagaimana pengasuhan yang dilakukan orang tua. Apakah pola pengasuhan mereka cenderung otoriter yang mengarah pada protektif, dengan dalih sayangnya terhadap anak sehingga cenderung mengarah pada membatasi keinginan anak.
Suatu ketika dalam sebuah kajian pengasuhan, seorang ibu menyebutkan bahwa menjadi orang tua adalah bagian jihad besar sebab mendidik anak untuk menjadi penerus peradaban. Mendidik anak bukan pekerjaan mudah dan sederhana, sebab dampaknya membuat orang tua kelak dimintai pertanggungjawaban dari Sang Pencipta.
Namun dalam sedikit catatan kecil ini, saya tak mampu berpanjang teori, sebab sebaik-baik pengasuh adalah mereka yang secara nyata telah melahirkan atau membesarkan putra-putrinya. Sedikit pengingat pada mereka (khususnya saya) yang mempersiapkan upaya penyempurna separuh agama, bahwa kehidupan rumah tangga tak sekedar banyangan indahnya bersama orang yang dicinta. Tapi bagaimana menjadikan keluarganya sebagai estafet perjuangan Islam yang sebenarnya. Melalui pengasuhan, sebab pengasuhan turut menentukan kualitas anak-anak kelak. Allahua'lam

