Ketika kesuksesan menjadi impian setiap orang, tentu definisi sukses yang termasuk puncak kebahagiaan ini adalah subyektif maknanya. Sebab sebagai manusia, Allah Yang Maha Mengetahui telah mengkaruniakan nikmat yang tepat dan pas bagi setiap hambaNya. Sebuah penelitian abad 20 yang dilakukan oleh seorang psikolog terkemuka dari Harvard of University, Howard Garrdner, terkait teorinya multiple intelligences telah secara tak langsung mengungkapkan bahwa sesungguhnya setiap makhluk memiliki takaran yang pas dalam dirinya. Terdapat sembilan jenis tipe kecerdasan manusia yang menjadi potensi luar biasa yang telah Allah karuniakan, sehingga tak akan ada alasan bagi kita mengeluhkan nasib yang tak kunjung sukses tadi sebab kita memiliki kelebihan ini. Diantaranya; bahasa/linguistik, logika/matematika, visual/spasial, musik/ritme, gerak tubuh/kinestetik, naturalis, interpersonal, intrapersonal, dan eksistensialis.
Selain dari penjabaran diatas, mungkin masih banyak statement hadir bahwa tingkat kecerdasan mereka yang kurang hingga mengantarkan pada perjalanan sekarang. Akan tetapi teman, bahwa sesungguhnya tingkat inteligensi dan bakat itu memiliki takaran yang menawan. Sesuatu yang menjadi potensi sebagaimana disebutkan diatas adalah bakat yang terbentuk dari dua kromosom orang tua kita saat proses pembuahan dengan bercampurnya gen yang membentuk karakter dan kelebihan kita. Sementara inteligensi adalah bentukan dari luar seperti upaya mengembangkan pengetahuan yang bersumber dari lingkungan sekolah dan masyarakat. Berdasarkan informasi diatas, sungguh merupakan petunjuk kebesaran kasih Allah kepada setiap hambaNya. Sebagaimana Ibrahim yang bertanya-tanya tentang siapa Penciptanya, kemudian Musa yang berharap melihat wajah Allah, dan proses perjuangan dakwah Rasulullah SAW dalam menyampaikan risalah Islam. Ketiganya adalah proses kehidupan, proses untuk menuju kesuksesan. Sedangkan watak dari perjuangan memang bukan sesuatu yang mudah, sebagaimana dalam tiga tahun masa pemboikotan hingga Rasulullah seringkali mengganjal perutnya dengan batu dan tak jarang makan dedaunan.
Dalam setting kehidupan ini, pena sejarah telah menuliskan betapa banyak pahlawan memberikan contoh kesuksesan agar menjadi pelajaran. Seperti air mata keteguhan khabbab bin Arats dalam memperjuangkan prinsip keyakinan ketika seorang jahiliyah bernama Ummu Anmar menempelkan besi panas membara diatas ubun-ubunnya, apakah hal itu membuatnya berhenti dari prinsip aqidah terhadap keyakinan yang bernama Islam? Ternyata tidak.. memang benar bahwa ia mengeluh, merenungi nasib yang terasa begitu pahit ketika mempertahankan makna kebahagiaan yang ia yakini sebagai muslim. Dengan suara trenyuhnya ia berujar kepada manusia paling mulia;”Ya Rasulullah, tidakkah engkau menolong atau berdo’a untuk kami..?”
Akan tetapi bukan pertolongan dan do’a yang seketika Rasul sampaikan, melainkan sebuah peneguhan yang justru membangkitkan setiap persendian dan sel-sel tubuhnya dengan teriakan lembut; ya Allah, inilah perjuanganku, inilah ikhtiarku.. kupasrahkan hidupku dan matiku padaMu.
”Dahulu, sebelum kalian, ada seorang laki-laki yang disiksa, tubuhnya dikubur kecuali leher keatas, lalu diambil sebuah gergaji untuk memotong kepalanya, tetapi siksaan itu tak membuatnya berpaling dari agamanya. Ada pula yang disikat antara daging dan tulang-tulangnya dengan sikat besi, dan itu juga tak dapat membuatnya goyah untuk memalingkan dari agamanya. Sungguh, Allah akan menyempurnakan agama ini, hingga setiap musafir yang bepergian dari Shan’a ke Hadhramaut tidak takut kecuali hanya kepada Allah ‘Azza wa jalla, dan tidak khawatir kambingnya dimakan srigala.. Tapi tampaknya kalian tergesa-gesa.” (HR. Bukhari)
Dalam kelanjutan sirahnya, peneguhan yang diucapkan Rasul ini telah membakar semangat Khabbab untuk semakin tabah menjalani setiap siksaan yang digencarkan orang-orang kafir quraisy yang membenci Islam hingga mengantarkannya menjadi manusia pilihan.
Tidak cukup dengan sejarah sahabat Rasul, dalam dunia pendidikan kita disuguhkan sebuah novel terkenal tingkat internasional, ditulis seorang duta kemanusiaan UNICEF asal Jepang, Tetsuko Kuroyanagi atau yang lebih dikenal Totto-Chan (gadis cilik di jendela). Dalam novel pertamanya kita disuguhkan pada dinamika pendidikan dan pengasuhan orang tua era perang dunia II hingga novel itu menjadi referensi kajian beberapa pendidikan non formal di Indonesia. Tetapi yang ingin saya tekankan disini adalah buku keduanya, terkait keindahan perjalanan kemanusiaan yang dilakukan meliputi 13 negara korban konflik perang saudara, kemiskinan, kekurangan gizi serta penyakit menular pada tahun 1984-1997.
Konflik perang saudara di Somalia tahun 1992 telah menyisakan duka mendalam terlebih kemiskinan, dan disini anak-anak juga wanita menjadi korban yang sangat memprihatinkan, sementara kaum laki-laki mengikuti wajib militer yang tak heran membuat satu keluarga terpisah-pisah keberadaannya. Sebuah pemandangan yang sangat tak layak akan tetapi itulah fakta, manusia-manusia ibarat kerangka tubuh berjalan sebab tak adanya makanan yang bisa memberikan pasokan gizi bagi mereka. Sebuah migrasi bagi mereka terpaksa dilakukan dengan menyeberang sungai yang menjadi perbatasan dengan Etiopia, apa yang mereka cari dengan migrasi tak lain adalah terdengarnya bahwa Etiopia -katanya- memiliki makanan yang bisa memberinya makan. Sementara disudut negri lain kita mengetahui dari dampak perang saudara ini menjadikan Etiopia termasuk negara termiskin di dunia, lalu dari mana mereka mendapat makan? Ternyata ini hanyalah sebuah harapan.. entah ada makanan atau tidak, semua aktivis kemanusiaan memahami bahkan untuk mendapatkan semangkuk ransumpun seseorang harus ditimbang terlebih dahulu berat badannya. Apabila berat badannya kurang 70% dari berat normal, maka mereka mendapatkan hak makan. Sungguh kenyataan yang sangat memprihatinkan, tetapi kesehatan mental membuat mereka tak putus harapan untuk tetap melakukan migrasi dengan harapan adanya kemudahan dan keajaiban dari langit.
Selain perjuangan untuk bertahan hidup para korban konflik perang saudara, kekurangan gizi, dan kemiskinan tingkat akut dalam mempertahankan harapan hidup, kita juga mengetahui sebuah potert sejarah yang mengajarkan tentang makna kesuksesan lain yang bersumber dari salah satu permata bangsa. Kepahlawanan sosok jendral yang mulia dengan aqidahnya yang kuat memimpin perang gerilya bersama satu paru-paru di dadanya. Dialah jendral Soedirman, dalam keteguhannya mempertahankan kesucian cinta dan pembelaan terhadap tanah airnya, sebagai bentuk penghambaan kepada Sang Pencipta, kita merasakan bahwa keharuman namanya tetap tercium sampai sekarang, berpuluh-puluh tahun setelah kepergiannya.
Hakikat kehidupan ini adalah proses pengabdian diri, banyak macam cara menuju kesana. Mengambil hikmah untuk efikasi diri dan menciptakan resiliensi, seperti yang sudah saya sebutkan diawal terkait kesuksesan bahwa memang subyektif pengertiannya, kita bebas menentukan ukuran yang kita yakini. Engkau dengan prestasi akademikmu, engkau dengan prestasi maisyah yang mandiri itu, engkau dengan prestasi perbaikan dirimu, engkau dengan prestasi menebarkan kebaikan kepada orang lain, engkau dengan prestasi membagi kemanfaatan hidupmu kepada orang lain, engkau dengan prestasi menaklukkan kelemahan dirimu, dan lain sebagainya. Sebab semua indah pada takarannya...
Inilah sedikit milestone itu, sebuah batu penanda sebagai prasasti hidup untuk berhenti sejenak mengambil nafas pada pentas kehidupan. Kemudian kembali tegak menatap masa depan, dan mengatakan;“inilah aku dengan segala potensi hidupku akan berkembang maju, bagi agamaku, dan bangsaku.”
"Dan nafas cintanya meniup kuncupku,
Maka ia mekar jadi bunga..." (Muhammad Iqbal)
Ya Rabbi, jadikanlah dunia ditanganku, sementara akherat dihatiku.... Aamiin
*Dalam keramaian pasar tiban ku merangkai kalimat penyemangat.
Yuni Lestari, 9 Apri 2013
Yuni Lestari, 9 Apri 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar