Selasa, 27 Oktober 2015

Manusia sejuta rasa, Anak-anak



a unique creature, awesome,
sometimes annoying,
but is existence makes meaningful.
they are children..

Sebuah kilas balik tentang cinta dan kasih, serta sesuatu yang sering disebut sebagai fitrah perempuan, yaitu harapan terhadap kehadiran makhluk unik dan mengagumkan yang disebut anak. Membicarakan makhluk ini memang sepertinya tak ada habisnya, seperti apa merawat dan mengasuhnya, pun juga sikap manusia dewasa terhadap kehadirannya.
Cerita tentang anak yang kemudian  melemparkan pada sketsa bayangan, bagaimana dulu kecintaan terhadap anak sempat menuntut pembuktian. Iya, pembuktian. Karena setiap cinta membutuhkan pembuktiankan, termasuk anak. Harapan yang dilatih dengan kerinduan dan cinta, walau sejatinya status orang tua belum ada karena pernikahan belum dilakukan, justru disinilah sikap dituntut untuk mempersiapkannya.
Sebagai manusia yang kelak menjadi orang tua (insyaAllah), baik laki-laki atau perempuan, persiapan itu perlu dilakukan sejak mereka belum atau sedang merencanakan pernikahan. Sebab dari mereka kelak, penerus kehidupan akan lahir dari rahim dan keluarga yang dibina, insyaAllah. 
Sedikit menjiplak teori perkembangan yang umum digunakan dalam psikologi, para ilmuan sepakat bahwa rentang usia anak-anak dimulai dari usia 2-12 tahun atau yang biasa disebut sebagai masa childhood. Sementara masa childhood sendiri terbagi dalam tiga fase, yang terdiri dari; fase anak-anak awal, fase anak-anak tengah, dan fase anak-anak akhir. Akan tetapi, tanpa mengurangi rasa hormat :-) dalam kesempatan ini saya tidak ingin berpanjang kata menjelaskan teori perkembangan, sebab jika sekali ketik di beranda Google dengan kata kunci 'tahapan tugas perkembangan manusia' insyaAllah sudah banyak dijelaskan.
Suatu masa dalam kesempatan kuliah semester empat, seorang dosen pengampu mata kuliah psikologi pendidikan menjelaskan tentang Anak Berkebutuhan Khusus atau biasa disingkat ABK. Didalam  ABK kami mengetahui bahwa kondisi berkebutuhan khusus terbagi menjadi lima kategori, dimana dua diantaranya adalah general delays in cognitive and social fuctioning dan advanced cognitive development. Dua kategori diatas, yang pertama merupakan keterlambatan yang berdampak pada kondisi berfikir serta sosial dan emosional, sementara kedua adalah kondisi  mereka yang mengalami percepatan berfikir yang juga mempengaruhi kondisi sosial dan emosional. Contoh kondisi anak yang bisa ditampilkan pada kasus ini adalah  retardasi mental dan gifted. Vonis retardasi mental diberikan kepada anak dengan hasil tes psikologi IQ dibawah 70, serta gifted dengan hasil tes psikologi IQ diatas 130.
Kisah tentang anak-anak demikian yang ingin saya bagikan agar mengambil pelajaran, bersama ilmu yang masih miskin dari pengetahuan anak-anak yang kian berkembang sesuai zaman, juga turut berpegang dengan bagaimana manusia shalih bernama Luqman memberikan nasehat pada anaknya.
Suatu ketika instruksi atasan hadir agar seseorang yang diamanahkan sebagai koordinator Bimbingan Konseling disekolahnya menggali data, tentang siswa usia 7 tahun yang katanya mengalami keterlambatan belajar. Sehari, dua hari, tiga hari ia mengamati siswa itu. Seksama. Pada waktu yang ditentukan, ia segera membuat laporan observasi wawancara dan segera mengonsultasikan pada tenaga ahli (psikolog) yang ditugaskan sekolah. Ada yang memprihatinkan.. Ketika mengamati fisiknya tak ada yang salah, dia gadis cilik yang cantik dan lucu, sangat cantik malah (menurut saya). Akan tetapi, kondisi yang akan minum membuat orang dewasa harus menjelaskan terlebih dulu, "itu gelas, ada airnya, silakan diminum". Berdasar data yang didapatkan, sang psikolog merekomendasikan agar segera dilakukan tes deteksi dini dalam perkembangan. Tes dilakukan, dan seminggu kemudian hasil didapatkan. Mengejutkan.
Sekolah bersikap bijak dengan memanggil orang tua yang bersangkutan, mengundang untuk konseling bersama psikolog. Saya teringat, kalimat psikolog dimulai dengan tanya kabar dan diiringi candaan terkait aktivitas tamu yang luar biasa banyak. Pelan-pelan menuju arah pembicaraan, sebuah peneguhan psikolog sampaikan, "setiap anak adalah makhluk hebat, apapun kondisinya, dan Allah tak pernah salah sehingga Dia mengaruniakan anak pada orang tua yang tepat, orang tua yang kuat dan mencintai anak-anaknya." sang psikolog berusaha mengatur kata agar yang keluar meneguhkan hati tamunya, di pertengahan konseling, beliau menjelaskan bahwa putrinya tergolong siswa dengan kecerdasan dibawah rata-rata (yang sesungguhnya jauh dari rata-rata), IQ 57. Retardasi mental... dan seketika air mata itu pecah.
Dalam kondisi yang berbeda, seorang ibu berkali-kali konsultasi pada salah satu guru besar psikologi anak UGM. Setiap hari. Tak jarang dalam konsultasi air mata wanita itu pecah membasahi pipi. Anak lelakinya yang berusia 7 tahun mempertanyakan substansi kursi empuk yang dimiliki guru dan berbeda dengan kursi kayu para siswa, menganggap bahwa sepatu mengekang kebebasan jari-jari kakinya, dan selalu protes dengan diagram rantai makanan yang mempertanyakan kenapa makanan ular selalu disandingkan dengan tikus sementara dalam kehidupan nyata makanan ular bukan hanya tikus, dan berbagai bentuk protes kritis lainnya. Sebuah protes yang rasanya tidak wajar bagi anak usia 7 tahun!
Hasil tes psikologi kisah kedua ini, bahwa anak divonis gifted sebab IQ diatas 150. Percepatan kognitif yang tak seimbang dengan perkembangan emosional serta sosial, membuat ananda dilabel sebagai anak aneh, agresif karena sering tantrum dan menyerang anak lain, perfeksionis, serta mempertanyakan otoritas, dan sebagainya. Dugaan autis, dan gangguan perilaku sosial lainnya sempat tersemat, hingga sang ibu harus sabar karena setiap hari mendapat laporan sekolah kalau anaknya berulah.
Retardasi mental dan gifted, pada hakikatnya ia tetap karunia. Apapun kondisinya, sekali lagi ia tetap karunia... Kondisi-kondisi anak dengan segala keunikan yang kini nampak, sudah selayaknya menjadi hikmah bagaimana belajar dan bersikap. Sebab dulu, ketika saya belum tahu apa itu  gifted, rasanya lisan begitu mudahnya mengatakan, "enak ya gifted, enggak usah belajar ngoyo, sekali denger aja dah paham. Lah saya, mendengar dan mbaca berkali-kali dulu baru ngerti."

Pada akhirnya, persiapan itu tetap harus dikuatkan dan semakin dikuatkan. Belajar pengasuhan melalui perspektif Islam, pun juga mempelajari perkembangan zaman terhadap pengaruhnya pada tumbuh kembang anak, termasuk segala hal yang berhubungan dengan anak, apapun itu. Sebab ia adalah makhluk unik, mengagumkan. Walau sewaktu-waktu mengganggu atau memaksa manusia dewasa mengatur nafas atas keunikannya, tapi keberadaannya membuat kita bermakna.
Belajar, belajar, dan belajar. Sembari memanjatkan do'a, agar wasilah yang menjadi 'pintunya' Dia ijabah segera. Bismillah...



Selasa, 20 Oktober 2015

Sebait Rasa dalam Surat yang Tak Biasa

Ini tentang cerita kehidupan bersama, kamu boleh menyebutnya persahabatan, persaudaraan, atau apalah sesukamu. Hidup disebuah rumah sewaan dengan biaya tahunan, menjalani hari-hari  dengan latar belakang sifat berbeda; keras, lembut, tegas, sensitif, pendiam, serius, banyak bicara, dan sebagainya. Ada sebagian diantaranya yang mengekspresikan kondisi emosionalnya dengan berbagai sikap yang tertangkap mata; ia yang bahagia dengan cerita tanpa jeda, ia yang bahagia dengan ekspresi datar-datar saja, ia yang bahagia dengan murah senyum semurah-murahnya, ia yang bahagia dengan berbagi apa saja, ia yang berbahagia teriak sekencang-kencangnya, dan sebagainya. Selanjutnya ia yang marah dengan ekspresi diam tanpa bicara sepatah kata, adapula ia yang marah justru meletakkan barang-barang dengan kerasnya, pun juga ia yang marah dengan pergi entah kemana, bahkan juga ia yang marah menyendiri dikamar tanpa merespon stimulus diluar lingkaran egonya, dan sebagainya.
Suatu hari dalam kesempatan berbeda, sebuah kalimat seorang teman hadir bahwa sejatinya keadaan ini adalah proses berlatih. Status sendiri atau belum menikah yang hidup dengan kawan sebangsa, bersama rangkaian budaya dan karakter berbeda adalah latihan untuk kehidupan mendatang. "Coba perhatikan," kata dia,"yang tinggal bersamamu masih teman-teman sejenis denganmu, perempuan dengan perempuan atau laki-laki dengan laki-laki yang masih sendiri, bagaimana jika nanti sudah tinggal dengan manusia halal yang pastinya perbedaan karakter perempuan-lelaki tak bisa dihindari. Belajarlah sabar dalam kondisi ini."

Iya, benar sekali. Bahkan sejatinya perbedaan adalah hukum alam. Tak bisa memaksakan orang lain sesuai dengan individu kita, bahkan perjalanannya menjadi proses pendewasaan bagi upaya berfikir kita. Menerima, mengerti, memahami, bagaimana keunikan tiap diri. Bagaimana belajar komunikasi dengan orang lain yang menyesuaikan karakternya, belajar bersikap dengan orang lain yang tegas tapi tak menyakiti hatinya.
Sebuah kisah yang kiranya menjadi pelajaran berharga, adalah ia seorang lelaki shalih yang luar biasa. Pengabdiannya pada manusia mulia tak diragukan sahabat lainnya. Ia seorang lelaki shalih yang memiliki ukuran tubuh yang konon katanya 'hanya' sebesar tubuh burung pipit. Tubuhnya kurus dan pendek, hingga tinggi badannya tidak berbeda dengan orang yang sedang duduk. Kedua betisnya kecil dan tidak berisi.
Suatu hari ia memanjat pohon arok, dan kedua betisnya terlihat  para sahabat lainnya. Para sahabat yang melihat seketika menertawakan betisnya yang kecil itu. Namun, dengan kebijaksanaan manusia mulia yang memahami karakter sahabat-sahabatnya segera bersabda;"Kalian menertawakan betis Ibnu Mas'ud (Abdullah bin Mas'ud ra). Ketahuilah, disisi Allah kedua betis itu lebih berat timbangannya dibandingkan gunung uhud."
Sikap indah Rasulullah SAW tersampaikan setelah apa yang dilakukan sahabat lain, sebab menertawakan betis kecil milik Ibnu Mas'ud didepan umum secara tidak langsung mengarah pada sikap mempermalukan didepan umum, atau dalam istilah psikologi mengarah pada bullying jenis verbal. Rasulullah memberikan sebuah tanggapan yang sekiranya tanggapan itu seketika mengena, mengena bagi para sahabat tanpa menyakiti hati mereka, sebab sahabat mana yang tidak tahu gunung uhud atau seperti apa kisah tentang perang uhud, dan kepahlawanan para sahabat yang turut berperang di medan uhud.

Beragam kisah tersajikan untuk diambil pelajaran, seperti oase dipadang gersang, tentu setiap orang berharap kebaikan darinya.
Bersama hati yang kembali berusaha memahami perjalanan persudaraan ini, bahwa perbedaan adalah keniscayaan. Seperti barisan pensil warna yang tersajikan, dengan latar belakang warna berbeda dan jiwa seni pelukisnya, mereka mampu menciptakan karya yang mempesona. Semoga ia menjadi latihan, latihan yang berharga mahal hingga tumpukan materi tak mampu menebus mahalnya pengalaman ini.
Untuk saudaraku, sahabatku, temanku, sebait do'a tulusku semoga Allah kuatkan ikatan hati diantara kita, dan menyimpul erat hingga syurga. Membuat mereka yang tak menyukai status kemusliman kita, iri dengan indahnya kecintaan dalam berbagi rasa suka benci hingga setia, merenda usaha kerja bersama, melahirkan harmoni yang semua karenaNya. Bersama... dan bersama...