Ini tentang cerita kehidupan bersama, kamu boleh menyebutnya persahabatan, persaudaraan, atau apalah sesukamu. Hidup disebuah rumah sewaan dengan biaya tahunan, menjalani hari-hari dengan latar belakang sifat berbeda; keras, lembut, tegas, sensitif, pendiam, serius, banyak bicara, dan sebagainya. Ada sebagian diantaranya yang mengekspresikan kondisi emosionalnya dengan berbagai sikap yang tertangkap mata; ia yang bahagia dengan cerita tanpa jeda, ia yang bahagia dengan ekspresi datar-datar saja, ia yang bahagia dengan murah senyum semurah-murahnya, ia yang bahagia dengan berbagi apa saja, ia yang berbahagia teriak sekencang-kencangnya, dan sebagainya. Selanjutnya ia yang marah dengan ekspresi diam tanpa bicara sepatah kata, adapula ia yang marah justru meletakkan barang-barang dengan kerasnya, pun juga ia yang marah dengan pergi entah kemana, bahkan juga ia yang marah menyendiri dikamar tanpa merespon stimulus diluar lingkaran egonya, dan sebagainya.
Suatu hari dalam kesempatan berbeda, sebuah kalimat seorang teman hadir bahwa sejatinya keadaan ini adalah proses berlatih. Status sendiri atau belum menikah yang hidup dengan kawan sebangsa, bersama rangkaian budaya dan karakter berbeda adalah latihan untuk kehidupan mendatang. "Coba perhatikan," kata dia,"yang tinggal bersamamu masih teman-teman sejenis denganmu, perempuan dengan perempuan atau laki-laki dengan laki-laki yang masih sendiri, bagaimana jika nanti sudah tinggal dengan manusia halal yang pastinya perbedaan karakter perempuan-lelaki tak bisa dihindari. Belajarlah sabar dalam kondisi ini."
Iya, benar sekali. Bahkan sejatinya perbedaan adalah hukum alam. Tak bisa memaksakan orang lain sesuai dengan individu kita, bahkan perjalanannya menjadi proses pendewasaan bagi upaya berfikir kita. Menerima, mengerti, memahami, bagaimana keunikan tiap diri. Bagaimana belajar komunikasi dengan orang lain yang menyesuaikan karakternya, belajar bersikap dengan orang lain yang tegas tapi tak menyakiti hatinya.
Sebuah kisah yang kiranya menjadi pelajaran berharga, adalah ia seorang lelaki shalih yang luar biasa. Pengabdiannya pada manusia mulia tak diragukan sahabat lainnya. Ia seorang lelaki shalih yang memiliki ukuran tubuh yang konon katanya 'hanya' sebesar tubuh burung pipit. Tubuhnya kurus dan pendek, hingga tinggi badannya tidak berbeda dengan orang yang sedang duduk. Kedua betisnya kecil dan tidak berisi.
Suatu hari ia memanjat pohon arok, dan kedua betisnya terlihat para sahabat lainnya. Para sahabat yang melihat seketika menertawakan betisnya yang kecil itu. Namun, dengan kebijaksanaan manusia mulia yang memahami karakter sahabat-sahabatnya segera bersabda;"Kalian menertawakan betis Ibnu Mas'ud (Abdullah bin Mas'ud ra). Ketahuilah, disisi Allah kedua betis itu lebih berat timbangannya dibandingkan gunung uhud."
Sikap indah Rasulullah SAW tersampaikan setelah apa yang dilakukan sahabat lain, sebab menertawakan betis kecil milik Ibnu Mas'ud didepan umum secara tidak langsung mengarah pada sikap mempermalukan didepan umum, atau dalam istilah psikologi mengarah pada bullying jenis verbal. Rasulullah memberikan sebuah tanggapan yang sekiranya tanggapan itu seketika mengena, mengena bagi para sahabat tanpa menyakiti hati mereka, sebab sahabat mana yang tidak tahu gunung uhud atau seperti apa kisah tentang perang uhud, dan kepahlawanan para sahabat yang turut berperang di medan uhud.
Beragam kisah tersajikan untuk diambil pelajaran, seperti oase dipadang gersang, tentu setiap orang berharap kebaikan darinya.
Bersama hati yang kembali berusaha memahami perjalanan persudaraan ini, bahwa perbedaan adalah keniscayaan. Seperti barisan pensil warna yang tersajikan, dengan latar belakang warna berbeda dan jiwa seni pelukisnya, mereka mampu menciptakan karya yang mempesona. Semoga ia menjadi latihan, latihan yang berharga mahal hingga tumpukan materi tak mampu menebus mahalnya pengalaman ini.
Untuk saudaraku, sahabatku, temanku, sebait do'a tulusku semoga Allah kuatkan ikatan hati diantara kita, dan menyimpul erat hingga syurga. Membuat mereka yang tak menyukai status kemusliman kita, iri dengan indahnya kecintaan dalam berbagi rasa suka benci hingga setia, merenda usaha kerja bersama, melahirkan harmoni yang semua karenaNya. Bersama... dan bersama...
Bersama hati yang kembali berusaha memahami perjalanan persudaraan ini, bahwa perbedaan adalah keniscayaan. Seperti barisan pensil warna yang tersajikan, dengan latar belakang warna berbeda dan jiwa seni pelukisnya, mereka mampu menciptakan karya yang mempesona. Semoga ia menjadi latihan, latihan yang berharga mahal hingga tumpukan materi tak mampu menebus mahalnya pengalaman ini.
Untuk saudaraku, sahabatku, temanku, sebait do'a tulusku semoga Allah kuatkan ikatan hati diantara kita, dan menyimpul erat hingga syurga. Membuat mereka yang tak menyukai status kemusliman kita, iri dengan indahnya kecintaan dalam berbagi rasa suka benci hingga setia, merenda usaha kerja bersama, melahirkan harmoni yang semua karenaNya. Bersama... dan bersama...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar