Kita hidup dari keputusan ke
keputusan, yang kita buat atau dibuat orang lain. Keputusan oleh diri sendiri,
untuk diri sendiri, terlebih untuk orang lain, memiliki godaannya sendiri;
godaan obyektifitas. Sebab begitulah bawaan dasar kita yang cenderung mencintai
diri secara berlebih. Dalam kadar yang menyimpang, bahkan kita tidak senang
dengan apa yang menyenangkan orang lain. Murni karena iri atau dengki, bukan
soal salah atau benar kesenangan itu. Karenanya, menemukan dan memahami ruh
sebuah keputusan akan membantu kita menemukan obyektifitas itu, atau setidaknya
mendekati obyektifitas.
Ruh sebuah keputusan terkait erat
dengan motivasi atau tujuan dari keputusan itu untuk apa, dan bagaimana proses
keputusan itu kita jalani. Dalam batas ini, suka atau tidak suka obyektifitas
akan kita temukan pada sejauh mana sebuah keputusan tersambung secara vertical
dengan nilai-nilai ke-Tuhan-an. Disanalah porsi motif atau tujuan sebuah
keputusan kita muarakan, sebab obyektifitas pada akhirnya adalah soal bimbingan
Illahi, bukan benar-benar soal persepsi kita sendiri.
Obyektif secara vertical, adalah
bagaimana kita merasa terbimbing Allah. Terwujud dalam keselarasan dan
keserasian antara apa yang kita mau dan apa yang kita dapat, namun tidak
semuanya selalu cerita tentang
keberhasilan. Bisa juga kisah tentang gagal dan celaka, tapi ketika gagal kita
mendapat bimbingan untuk menyikapinya dengan benar serta menemukan makna-makna
besar dibalik kegagalan. Oleh sebab itulah, dalam membuat keputusan yang
menurut kita berat, kita di ajarkan untuk melibatkan Allah langsung, yakni
dengan istikharah.
Selanjutnya, obyektif secara
horizontal adalah keobyektifan yang kita temukan pada sejauh mana keputusan
sebagai hasil proses yang dimusyawarahkan. Berinteraksi dan saling berbagi
dengan orang lain untuk membuat keputusan, inilah yang disebut syuro, dimana
hasilnya adalah sebuah keobyektifan yang bersifat kolaborasi. Dengan asumsi bahwa
sebuah keputusan yang dilakukan dengan musyawarah, atau dengan bertanya kepada
yang ahli adalah keputusan yang prosesnya lebih obyektif dengan hasil yang juga
obyektif.
Keputusan-keputusan dalam hidup
ada yang bersifat besar, namun juga ada yang bersifat kecil. Seperti memutuskan
untuk sebuah pekerjaan, status dalam hidup, keyakinan, sampai keputusan ringan
yang biasanya obyektifitas tidak terlalu mempunyai kerumitan. Karenanya,
keputusan seperti itu ruhnya terletak pada penyandarannya kepada niat, bukan
pada prosesnya.
Kisah Abdurrahman Al-Aswad, yang
baginya makan adalah cerita tentang ruh sebuah keputusan. Sahabat yang dikenal
baik itu tidak makan roti kecuali pasti dengan niatan khusus. “dia makan, bila
badannya mulai gemuk dan terasa berat untuk shalat, maka dia mengurangi makan
agar semangat shalat. Tapi bila badannya mulai kurus dan terasa lemah, maka ia
menambah makan agar badannya merasa kuat dan semangat melaksanakan shalat.
Sehingga, makan atau tidaknya roti adalah untuk shalatnya.”
Dengan demikian, bagi kita semua
keputusan itu penting, meskipun keputusan itu bukan keputusan besar. Dari
perspektif perasaan terarah oleh bimbingan Illahi dan obyektifitas kolaborasi,
sebuah hal yang sifatnya ringan atau berat diharapkan bisa memiliki ruh yang
kuat. Oleh karena itu, sepanjang waktu, setiap hari, kita sebenarnya berada
pada saat-saat penting membuat keputusan penting. Tak peduli itu keputusan
besar ataupun keputusan kecil.
Tarbawi, 2008
