Rabu, 18 Februari 2015

Memahami Ruh Sebuah Keputusan

Kita hidup dari keputusan ke keputusan, yang kita buat atau dibuat orang lain. Keputusan oleh diri sendiri, untuk diri sendiri, terlebih untuk orang lain, memiliki godaannya sendiri; godaan obyektifitas. Sebab begitulah bawaan dasar kita yang cenderung mencintai diri secara berlebih. Dalam kadar yang menyimpang, bahkan kita tidak senang dengan apa yang menyenangkan orang lain. Murni karena iri atau dengki, bukan soal salah atau benar kesenangan itu. Karenanya, menemukan dan memahami ruh sebuah keputusan akan membantu kita menemukan obyektifitas itu, atau setidaknya mendekati obyektifitas.
Ruh sebuah keputusan terkait erat dengan motivasi atau tujuan dari keputusan itu untuk apa, dan bagaimana proses keputusan itu kita jalani. Dalam batas ini, suka atau tidak suka obyektifitas akan kita temukan pada sejauh mana sebuah keputusan tersambung secara vertical dengan nilai-nilai ke-Tuhan-an. Disanalah porsi motif atau tujuan sebuah keputusan kita muarakan, sebab obyektifitas pada akhirnya adalah soal bimbingan Illahi, bukan benar-benar soal persepsi kita sendiri.
Obyektif secara vertical, adalah bagaimana kita merasa terbimbing Allah. Terwujud dalam keselarasan dan keserasian antara apa yang kita mau dan apa yang kita dapat, namun tidak semuanya  selalu cerita tentang keberhasilan. Bisa juga kisah tentang gagal dan celaka, tapi ketika gagal kita mendapat bimbingan untuk menyikapinya dengan benar serta menemukan makna-makna besar dibalik kegagalan. Oleh sebab itulah, dalam membuat keputusan yang menurut kita berat, kita di ajarkan untuk melibatkan Allah langsung, yakni dengan istikharah.
Selanjutnya, obyektif secara horizontal adalah keobyektifan yang kita temukan pada sejauh mana keputusan sebagai hasil proses yang dimusyawarahkan. Berinteraksi dan saling berbagi dengan orang lain untuk membuat keputusan, inilah yang disebut syuro, dimana hasilnya adalah sebuah keobyektifan yang bersifat kolaborasi. Dengan asumsi bahwa sebuah keputusan yang dilakukan dengan musyawarah, atau dengan bertanya kepada yang ahli adalah keputusan yang prosesnya lebih obyektif dengan hasil yang juga obyektif.
Keputusan-keputusan dalam hidup ada yang bersifat besar, namun juga ada yang bersifat kecil. Seperti memutuskan untuk sebuah pekerjaan, status dalam hidup, keyakinan, sampai keputusan ringan yang biasanya obyektifitas tidak terlalu mempunyai kerumitan. Karenanya, keputusan seperti itu ruhnya terletak pada penyandarannya kepada niat, bukan pada prosesnya.
Kisah Abdurrahman Al-Aswad, yang baginya makan adalah cerita tentang ruh sebuah keputusan. Sahabat yang dikenal baik itu tidak makan roti kecuali pasti dengan niatan khusus. “dia makan, bila badannya mulai gemuk dan terasa berat untuk shalat, maka dia mengurangi makan agar semangat shalat. Tapi bila badannya mulai kurus dan terasa lemah, maka ia menambah makan agar badannya merasa kuat dan semangat melaksanakan shalat. Sehingga, makan atau tidaknya roti adalah untuk shalatnya.”

Dengan demikian, bagi kita semua keputusan itu penting, meskipun keputusan itu bukan keputusan besar. Dari perspektif perasaan terarah oleh bimbingan Illahi dan obyektifitas kolaborasi, sebuah hal yang sifatnya ringan atau berat diharapkan bisa memiliki ruh yang kuat. Oleh karena itu, sepanjang waktu, setiap hari, kita sebenarnya berada pada saat-saat penting membuat keputusan penting. Tak peduli itu keputusan besar ataupun keputusan kecil.

Tarbawi, 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar