Didalam tiap kesempatan ini (hidup) aktivitas bernama membuat pilihan dan keputusan adalah keniscayaan yang tak dapat dihindarkan. Dari hal yang mungkin bersifat remeh, sampai hal yang bersifat penting. Sebagai misal, kondisi sederhana seperti memilih makan bersama teman atau memilih menyendiri disuatu tempat, bahkan ketika sampai dihadapkan pada membuat keputusan besar seperti menentukan letak tempat tinggal, keputusan menikah, ataupun juga sebuah keputusan yang berhubungan dengan prinsip kehidupan (agama).
Pilihan dari tiap sajian menu kehidupan adalah sarana yang menentukan kualitas hidup seseorang. Kehadirannya yang kadang membingungkan sehingga kesulitan mengambil keputusan, adalah salah satu dari bentuk pendidikan yang Allah karuniakan.
Suatu masa datang seorang adik perempuan, dengan kondisi tugas akhir yang cukup menyulitkan. Bersama uraian air mata tersebab keadaan memaksanya mengubah seluruh isi tugas akhirnya, sementara deadline yang diberikan fakultas untuk mengejar pendaftaran sidang pendadaran hanya sepekan saja. Keadaan ini tentu menimbulkan kekalutan; pertama berjuang menerima keadaan bahwa ia harus revisi total, kedua menata diri-hati-juga fikiran terhadap apa yang akan disampaikan kepada orang tua dengan 'kegagalannya' menghadirkan orang tua dikesempatan wisuda periode I yang tinggal didepan mata.
Permasalahan di atas hanyalah sebuah contoh kecil dimana seseorang harus bergerak mengambil keputusan besar, sebab pada hakikatnya menentukan sikap dalam menghadapi permasalahan adalah sebuah pilihan.
Teringat sebuah ayat bahwa Allah tak akan membebani hambaNya melebihi batas kemampuannya, sehingga dengan demikian ukuran permasalahan seseorang tak mungkin lebih besar dari kekuatan yang dimiliki seseorang itu sendiri.
Pilihan dari tiap sajian menu kehidupan adalah sarana yang menentukan kualitas hidup seseorang. Kehadirannya yang kadang membingungkan sehingga kesulitan mengambil keputusan, adalah salah satu dari bentuk pendidikan yang Allah karuniakan.
Suatu masa datang seorang adik perempuan, dengan kondisi tugas akhir yang cukup menyulitkan. Bersama uraian air mata tersebab keadaan memaksanya mengubah seluruh isi tugas akhirnya, sementara deadline yang diberikan fakultas untuk mengejar pendaftaran sidang pendadaran hanya sepekan saja. Keadaan ini tentu menimbulkan kekalutan; pertama berjuang menerima keadaan bahwa ia harus revisi total, kedua menata diri-hati-juga fikiran terhadap apa yang akan disampaikan kepada orang tua dengan 'kegagalannya' menghadirkan orang tua dikesempatan wisuda periode I yang tinggal didepan mata.
Permasalahan di atas hanyalah sebuah contoh kecil dimana seseorang harus bergerak mengambil keputusan besar, sebab pada hakikatnya menentukan sikap dalam menghadapi permasalahan adalah sebuah pilihan.
Teringat sebuah ayat bahwa Allah tak akan membebani hambaNya melebihi batas kemampuannya, sehingga dengan demikian ukuran permasalahan seseorang tak mungkin lebih besar dari kekuatan yang dimiliki seseorang itu sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar