Senin, 23 November 2015

Jeda

Suatu masa sepasang kaki berusaha terus berdiri, menahan beberapa beban diatas pundaknya, sendiri. Ia berusaha diam, menahan keluhan dihadapan manusia betapa penat dan memerahnya pundak dibalik balutan penutup aurat.
Diam, baginya itu senjata. Menahan gelisah dihadapan kumpulan manusia ketika beragam tanya mempersoalkan bagaimana ia bisa. Andai lisannya mudah berbicara, mungkin rasa yang bergumul dihatinya tlah lama berurai tanpa sisa. Tapi tidak, bersama tekad ia berupaya semampunya, lelah menahan beban hanya pada Pemberinya ia keluhkan.
Tak jarang. Dan memang tak jarang dalam kesendirian ia menahan tangis perlahan, betapa lelah dan penatnya hati, juga fikiran karena menahan sendiri.

Suatu masa ketika sepasang kaki itu hampir-hampir tak mampu menopang berat badannya, apalagi beban diatas pundaknya. Ia hampir terkapar ditengah jalan yang besar. Tapi sebelum benar-benar terkapar, ia hempaskan beban dengan buliran air mata tanpa sisa. Menangis layaknya anak kecil yang kehilangan permennya.
Memang wajar ketika saksi yang melihat tumpahan air mata hanya kaca toilet dan kran cuci muka, juga sedikit tisu untuk mengeringkan wajahnya. Namun ia paham, batas kekuatan dirinya sejauh apa. Segera ia mengetik beberapa kalimat dipapan tuts Android, mengirim pada seseorang, hingga tiga puluh menit kemudian sebuah massage WhatsApp masuk padanya.

"Bila kita merasa letih karena berbuat kebaikan, maka sesungguhnya keletihan itu akan hilang dan kebaikan akan kekal. Bila kita bersenang-senang dengan dosa, kesenangan itu akan hilang dan dosa yang akan kekal." (Umar bin Khattab ra)

Suatu masa sebuah cita seseorang yang menginginkan peran dalam hidup. Ditulis berulang dalam lembar diary;"aku benar-benar ingin bermafaat bagi orang lain." Hidup ditengah kumpulan kaum miskin yang menyangkal mimpi jangan terlampau tinggi, "sudahlah, sadari kalau kamu ini kaum papa."
Terdiam, mungkin memang sikap inilah yang berkali-kali menyumbang pembentukan karakternya. Lahir yang dipaksa pasrah dengan memangkas impian membahana, tapi bisik hati berulangkali tak sepakat dengan ucapan banyak manusia disekeliling; "bukan seperti itu caranya bermain mengejar cita-citamu."
Aktivitas menahan rasa menjadi keseharian, merangkai kata sebagai teman yang ia lakukan. Ia turuti ucapan hati meski lahir menyesuaikan nasehat yang hadir. Hingga suatu masa sebuah kalimat mampir terpajang dihadapan mata, tepat didepannya; "sebuah cita-cita dan asa membutuhkan pengorbanan dan pilihan, maka berkorbanlah terhadap apa yang kau pilih, dan jangan menyesal."

Suatu masa butiran-butiran jernih yang jatuh dipipi manusia yang duduk didepannya menyampaikan luka. Ada yang mengeluhkan kekecewaan, ada yang mengeluhkan kelemahan, dan ada yang mengeluhkan kelalaian. 
Beragam cerita menggunung dalam fikirnya. Hampir-hampir tenggelam dalam keluhan orang yang mempercayakan padanya. Penyesalan, apakah kata itu terbersit dalam angannya? Ditambah ucapan wanita sepuh yang selama ini mengisi relung hatinya; "berhentilah, lepaskan semua. Tinggalkan!"
Tapi tak bisa. Bagaimana mungkin dilepaskan, sebab yang  terjadi bagian dari mimpi yang ditulis bertahun silam dalam rangakain kata diary?
Dan ia kembali terdiam.

Suatu masa ditengah tampilan kumpulan manusia lainnya, kumpulan manusia yang sama-sama memiliki sepasang kaki dengan beban diatas pundak-pundak mereka. Terlihat hias kening menahan gurat lelah, bahkan mungkin peluh yang amat dibalik pakaian mereka yang nampak. Mereka dalam tampilan itu sedang berdiskusi, membicarakan cita-cita ini. "aduhai... betapa cakap dan luar biasanya ini," bisiknya dalam hati.
Mematung didepan cermin dan melihat bayangan diri, "benarkah aku selemah ini?"
Ketika ketakutan, harapan, dan kekuatan melebur, "Sesungguhnya kamu bukan orang lemah."
Bersama tampilan kumpulan manusia dihadapannya, sebuah ayat tersaji hingga masuk dalam hati, fikiran, dan jiwa ini;

"Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang dijalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah didalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung." (QS. At Taubah: 111)


Suatu masa, dan suatu masa.
Kehadiran gelisah itu pasti. Lelah yang menggoda hati ingin pergi, tapi tak sampai hati sebab ia bagian hidup ini.
Menahan gerak sejenak mengatur energi semangat. sejenak, dan sejenak (saja).
Bismillah.

Rabu, 04 November 2015

Dear Diary....

Kehidupan layaknya novel berjalan ya? mengisahkan anak manusia yang entah tentang kerinduan, perjuangan, cinta, bahagia, atau air mata. Percayakah kau bahwa cerita ini pasti ada akhirnya? Ah, tentulah iya. Kau layaknya sahabat setia, dan memang kaulah satu-satunya sahabat setia yang kumiliki saat ini. Mempersilakan diri dengan rangkaian kata yang ku ukir ditiap lembaran kertasmu.
Jasad ini mematung diri. Menyaksikkan betapa kelokan-kelokan tajam tak memberikan belas kasih pada makhluk lemah ini.
Aku seorang diri.
Menikmati terjalnya bukit cadas, dan gunung bebatuan. Berkali aku mengadu pada Tuhan, satu peneguhanNya bahwa aku perempuan kuat yang tak akan goyah begitu saja.
Lautan kepercayaan lisan yang menganggap sosok dihadapannya sebagai perempuan perkasa, padahal tidak! Tapi tak mengapa, kuanggap itu bagian do'a mereka. Kau tahu, kenapa hari ini aku menulis seperti ini? Bukan mudah bagiku jika harus benar-benar membuka diriku hingga tertelanjangi semua rahasiaku, sekelumit kisah yang Dia gariskan hanya ingin kepadaNya jujur aku ungkapkan.
Ini soal hati.
Sesuatu yang membuatku jengah! Tapi ini kebutuhan yang tak bisa diabaikan. Aku sadar, saat ini yang menuliskan kumpulan huruf dengan jemarinya dilembaranmu adalah seorang perempuan dewasa, bukan bocah yang tampak 15 atau 20 tahun silam. Seorang bocah yang meminta sesuatu dengan rengekannya membuat ayah ibu tak tega melihat air matanya.
Dan ini soal proses.
Lusinan tanya dihadapkan kedepan mata, "kenapa kau tolak dia, apa yang kurang darinya. Sosok siapa yang sebenarnya menghias kepala hingga 7 pemuda alim dengan lembut kau undur diri dari mereka?"
Aku ingin menjelaskan. Ini bukan soal sosok siapa. Sebab aku tahu ia harus disegerakan, tapi bukan tergesa-gesa melaksanakan. Satu pintaku, pada lusinan lisan yang bertanya itu, "kumohon turut bersabarlah atas ikhtiarku, ini proses perjalanan. Diatas keinginanmu, sesungguhnya hatiku jauh lebih bergejolak dari semua itu."
Kau tahu, sosok yang ratusan kali menuangkan kisah perasaannya adalah perempuan yang hanya berusaha menguatkan dirinya. Menjadikan lembaranmu sebagai pelampiasan sendu, agar orang-orang diluar tidak curiga dan menaruh ragu, "ada apa dengan perempuan itu?."
Aku seorang perempuan, kedudukanku adalah makmum dari imam (nanti), aku seorang perempuan yang (nanti) berperan sebagai istri dan ibu. Diluar seluruh cerita hidupku, kau tahu ada butiran jernih yang seringkali menghias wajahku. Tentang rasa yang menahan, bahkan nasehat ibu justru aku harus melupakan. Lupakan seorang yang tak bisa dipastikan.
Sekali lagi, ini tentang proses. Aku berperang melawan rasa. Aku telah bersumpah, ruang hati hanya untuk yang nanti. Entah siapa dia, yang dengan kesungguhannya mengucap janji suci dihadapan Illahi, atas kesungguhannya.

"Andai aku di izinkan bicara, tapi aku tahu pendidikan rukhiyah tak membenarkannya. Aku berjuang menghindarimu, dan jangan kau tampakkan dirimu dariku. Hadirlah disaat yang tepat, pada orang yang tepat. Wahai makhluk Allah bernama; cinta."


Banguntapan, 4 November 2015