Kamis, 24 Desember 2015

Dimana Rumahmu, Nak?

Orang bilang anakku seorang aktivis. Kata mereka namanya tersohor di kampusnya sana. Orang bilang anakku seorang aktivis. Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat. Orang bilang anakku seorang aktivis. Tapi bolehkah aku sampaikan padamu Nak? Ibu bilang engkau hanya seorang anak kecil Ibu yang lugu.

Anakku, sejak mereka bilang engkau seorang aktivis, ibu kembali mematut diri menjadi seorang ibu aktivis. Dengan segala kesibukanmu, ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat. Ibu sungguh mengerti itu Nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia Nak? Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak, tanpa pernah ibu berpikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia.

Anakku, kita memang berada di satu atap Nak, di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan ibumu ini. Tapi kini dimanakah rumahmu Nak? Ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini. Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu di rumah dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu. Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut. Mungkin tawamu telah habis hari ini, tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk Ibu yang begitu merindukanmu. Ah, lagi-lagi Ibu terpaksa harus mengerti, bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk Ibu. Atau jangankan untuk tersenyum, sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja engkau engkau, katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline. Padahal, andai kau tahu Nak, Ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini, memastikan engkau baik-baik saja, memberi sedikit nasehat yang Ibu yakin engkau pasti lebih tau. Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau Nak, tapi bukankah aku ini ibumu? Yang sembilan bulan waktumu engkau habiskan di dalam rahimku...

Anakku, Ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk Nak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu, engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu. Engkau nampak amat peduli dengan semua itu, Ibu bangga padamu. Namun, sebagian hati Ibu mulai bertanya Nak, kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini Nak? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu? Kapan terakhir engkau menyakan keadaan adik-adikmu Nak? Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu?

Anakku, Ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu. Saat engkau merasa sangat tidak produktif harus menghabiskan waktu dengan keluargamu. Memang Nak, menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat, tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan, Tapi bukankan keluargamu ini adalah tugasmu juga Nak? Bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga Nak?

Anakku, Ibu mencoba membuka buku agendamu. Buku agenda sang aktivis. Jadwalmu begitu padat Nak, ada rapat di sana sini, ada jadwal mengkaji, ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting. Ibu membuka lembar demi lembarnya, disana ada sekumpulan agendamu, ada sekumpulan mimpi dan harapanmu. Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya, masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada disana. Ternyata memang tak ada Nak, tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini. Tak ada cita-cita untuk ibumu ini. Padahal Nak, andai engkau tahu sejak kau ada di rahum ibu, tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu selain cita dan agenda untukmu, anak kecilku...

Kalau boleh Ibu meminjam bahasa mereka, mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional. Boleh Ibu bertanya Nak, dimana profesimu untuk Ibu? Dimana profesionalitasmu untuk keluarga? Dimana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat?
Ah, waktumu terlalu mahal Nak. Sampai-sampai Ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama Ibu..


Pondasi keluarga itu penting. Agar orang tua mendukung setiap langkah kita..

Sumber : Grup Ldm Ldk UIN Bandung

Senin, 23 November 2015

Jeda

Suatu masa sepasang kaki berusaha terus berdiri, menahan beberapa beban diatas pundaknya, sendiri. Ia berusaha diam, menahan keluhan dihadapan manusia betapa penat dan memerahnya pundak dibalik balutan penutup aurat.
Diam, baginya itu senjata. Menahan gelisah dihadapan kumpulan manusia ketika beragam tanya mempersoalkan bagaimana ia bisa. Andai lisannya mudah berbicara, mungkin rasa yang bergumul dihatinya tlah lama berurai tanpa sisa. Tapi tidak, bersama tekad ia berupaya semampunya, lelah menahan beban hanya pada Pemberinya ia keluhkan.
Tak jarang. Dan memang tak jarang dalam kesendirian ia menahan tangis perlahan, betapa lelah dan penatnya hati, juga fikiran karena menahan sendiri.

Suatu masa ketika sepasang kaki itu hampir-hampir tak mampu menopang berat badannya, apalagi beban diatas pundaknya. Ia hampir terkapar ditengah jalan yang besar. Tapi sebelum benar-benar terkapar, ia hempaskan beban dengan buliran air mata tanpa sisa. Menangis layaknya anak kecil yang kehilangan permennya.
Memang wajar ketika saksi yang melihat tumpahan air mata hanya kaca toilet dan kran cuci muka, juga sedikit tisu untuk mengeringkan wajahnya. Namun ia paham, batas kekuatan dirinya sejauh apa. Segera ia mengetik beberapa kalimat dipapan tuts Android, mengirim pada seseorang, hingga tiga puluh menit kemudian sebuah massage WhatsApp masuk padanya.

"Bila kita merasa letih karena berbuat kebaikan, maka sesungguhnya keletihan itu akan hilang dan kebaikan akan kekal. Bila kita bersenang-senang dengan dosa, kesenangan itu akan hilang dan dosa yang akan kekal." (Umar bin Khattab ra)

Suatu masa sebuah cita seseorang yang menginginkan peran dalam hidup. Ditulis berulang dalam lembar diary;"aku benar-benar ingin bermafaat bagi orang lain." Hidup ditengah kumpulan kaum miskin yang menyangkal mimpi jangan terlampau tinggi, "sudahlah, sadari kalau kamu ini kaum papa."
Terdiam, mungkin memang sikap inilah yang berkali-kali menyumbang pembentukan karakternya. Lahir yang dipaksa pasrah dengan memangkas impian membahana, tapi bisik hati berulangkali tak sepakat dengan ucapan banyak manusia disekeliling; "bukan seperti itu caranya bermain mengejar cita-citamu."
Aktivitas menahan rasa menjadi keseharian, merangkai kata sebagai teman yang ia lakukan. Ia turuti ucapan hati meski lahir menyesuaikan nasehat yang hadir. Hingga suatu masa sebuah kalimat mampir terpajang dihadapan mata, tepat didepannya; "sebuah cita-cita dan asa membutuhkan pengorbanan dan pilihan, maka berkorbanlah terhadap apa yang kau pilih, dan jangan menyesal."

Suatu masa butiran-butiran jernih yang jatuh dipipi manusia yang duduk didepannya menyampaikan luka. Ada yang mengeluhkan kekecewaan, ada yang mengeluhkan kelemahan, dan ada yang mengeluhkan kelalaian. 
Beragam cerita menggunung dalam fikirnya. Hampir-hampir tenggelam dalam keluhan orang yang mempercayakan padanya. Penyesalan, apakah kata itu terbersit dalam angannya? Ditambah ucapan wanita sepuh yang selama ini mengisi relung hatinya; "berhentilah, lepaskan semua. Tinggalkan!"
Tapi tak bisa. Bagaimana mungkin dilepaskan, sebab yang  terjadi bagian dari mimpi yang ditulis bertahun silam dalam rangakain kata diary?
Dan ia kembali terdiam.

Suatu masa ditengah tampilan kumpulan manusia lainnya, kumpulan manusia yang sama-sama memiliki sepasang kaki dengan beban diatas pundak-pundak mereka. Terlihat hias kening menahan gurat lelah, bahkan mungkin peluh yang amat dibalik pakaian mereka yang nampak. Mereka dalam tampilan itu sedang berdiskusi, membicarakan cita-cita ini. "aduhai... betapa cakap dan luar biasanya ini," bisiknya dalam hati.
Mematung didepan cermin dan melihat bayangan diri, "benarkah aku selemah ini?"
Ketika ketakutan, harapan, dan kekuatan melebur, "Sesungguhnya kamu bukan orang lemah."
Bersama tampilan kumpulan manusia dihadapannya, sebuah ayat tersaji hingga masuk dalam hati, fikiran, dan jiwa ini;

"Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang dijalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah didalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung." (QS. At Taubah: 111)


Suatu masa, dan suatu masa.
Kehadiran gelisah itu pasti. Lelah yang menggoda hati ingin pergi, tapi tak sampai hati sebab ia bagian hidup ini.
Menahan gerak sejenak mengatur energi semangat. sejenak, dan sejenak (saja).
Bismillah.

Rabu, 04 November 2015

Dear Diary....

Kehidupan layaknya novel berjalan ya? mengisahkan anak manusia yang entah tentang kerinduan, perjuangan, cinta, bahagia, atau air mata. Percayakah kau bahwa cerita ini pasti ada akhirnya? Ah, tentulah iya. Kau layaknya sahabat setia, dan memang kaulah satu-satunya sahabat setia yang kumiliki saat ini. Mempersilakan diri dengan rangkaian kata yang ku ukir ditiap lembaran kertasmu.
Jasad ini mematung diri. Menyaksikkan betapa kelokan-kelokan tajam tak memberikan belas kasih pada makhluk lemah ini.
Aku seorang diri.
Menikmati terjalnya bukit cadas, dan gunung bebatuan. Berkali aku mengadu pada Tuhan, satu peneguhanNya bahwa aku perempuan kuat yang tak akan goyah begitu saja.
Lautan kepercayaan lisan yang menganggap sosok dihadapannya sebagai perempuan perkasa, padahal tidak! Tapi tak mengapa, kuanggap itu bagian do'a mereka. Kau tahu, kenapa hari ini aku menulis seperti ini? Bukan mudah bagiku jika harus benar-benar membuka diriku hingga tertelanjangi semua rahasiaku, sekelumit kisah yang Dia gariskan hanya ingin kepadaNya jujur aku ungkapkan.
Ini soal hati.
Sesuatu yang membuatku jengah! Tapi ini kebutuhan yang tak bisa diabaikan. Aku sadar, saat ini yang menuliskan kumpulan huruf dengan jemarinya dilembaranmu adalah seorang perempuan dewasa, bukan bocah yang tampak 15 atau 20 tahun silam. Seorang bocah yang meminta sesuatu dengan rengekannya membuat ayah ibu tak tega melihat air matanya.
Dan ini soal proses.
Lusinan tanya dihadapkan kedepan mata, "kenapa kau tolak dia, apa yang kurang darinya. Sosok siapa yang sebenarnya menghias kepala hingga 7 pemuda alim dengan lembut kau undur diri dari mereka?"
Aku ingin menjelaskan. Ini bukan soal sosok siapa. Sebab aku tahu ia harus disegerakan, tapi bukan tergesa-gesa melaksanakan. Satu pintaku, pada lusinan lisan yang bertanya itu, "kumohon turut bersabarlah atas ikhtiarku, ini proses perjalanan. Diatas keinginanmu, sesungguhnya hatiku jauh lebih bergejolak dari semua itu."
Kau tahu, sosok yang ratusan kali menuangkan kisah perasaannya adalah perempuan yang hanya berusaha menguatkan dirinya. Menjadikan lembaranmu sebagai pelampiasan sendu, agar orang-orang diluar tidak curiga dan menaruh ragu, "ada apa dengan perempuan itu?."
Aku seorang perempuan, kedudukanku adalah makmum dari imam (nanti), aku seorang perempuan yang (nanti) berperan sebagai istri dan ibu. Diluar seluruh cerita hidupku, kau tahu ada butiran jernih yang seringkali menghias wajahku. Tentang rasa yang menahan, bahkan nasehat ibu justru aku harus melupakan. Lupakan seorang yang tak bisa dipastikan.
Sekali lagi, ini tentang proses. Aku berperang melawan rasa. Aku telah bersumpah, ruang hati hanya untuk yang nanti. Entah siapa dia, yang dengan kesungguhannya mengucap janji suci dihadapan Illahi, atas kesungguhannya.

"Andai aku di izinkan bicara, tapi aku tahu pendidikan rukhiyah tak membenarkannya. Aku berjuang menghindarimu, dan jangan kau tampakkan dirimu dariku. Hadirlah disaat yang tepat, pada orang yang tepat. Wahai makhluk Allah bernama; cinta."


Banguntapan, 4 November 2015

Selasa, 27 Oktober 2015

Manusia sejuta rasa, Anak-anak



a unique creature, awesome,
sometimes annoying,
but is existence makes meaningful.
they are children..

Sebuah kilas balik tentang cinta dan kasih, serta sesuatu yang sering disebut sebagai fitrah perempuan, yaitu harapan terhadap kehadiran makhluk unik dan mengagumkan yang disebut anak. Membicarakan makhluk ini memang sepertinya tak ada habisnya, seperti apa merawat dan mengasuhnya, pun juga sikap manusia dewasa terhadap kehadirannya.
Cerita tentang anak yang kemudian  melemparkan pada sketsa bayangan, bagaimana dulu kecintaan terhadap anak sempat menuntut pembuktian. Iya, pembuktian. Karena setiap cinta membutuhkan pembuktiankan, termasuk anak. Harapan yang dilatih dengan kerinduan dan cinta, walau sejatinya status orang tua belum ada karena pernikahan belum dilakukan, justru disinilah sikap dituntut untuk mempersiapkannya.
Sebagai manusia yang kelak menjadi orang tua (insyaAllah), baik laki-laki atau perempuan, persiapan itu perlu dilakukan sejak mereka belum atau sedang merencanakan pernikahan. Sebab dari mereka kelak, penerus kehidupan akan lahir dari rahim dan keluarga yang dibina, insyaAllah. 
Sedikit menjiplak teori perkembangan yang umum digunakan dalam psikologi, para ilmuan sepakat bahwa rentang usia anak-anak dimulai dari usia 2-12 tahun atau yang biasa disebut sebagai masa childhood. Sementara masa childhood sendiri terbagi dalam tiga fase, yang terdiri dari; fase anak-anak awal, fase anak-anak tengah, dan fase anak-anak akhir. Akan tetapi, tanpa mengurangi rasa hormat :-) dalam kesempatan ini saya tidak ingin berpanjang kata menjelaskan teori perkembangan, sebab jika sekali ketik di beranda Google dengan kata kunci 'tahapan tugas perkembangan manusia' insyaAllah sudah banyak dijelaskan.
Suatu masa dalam kesempatan kuliah semester empat, seorang dosen pengampu mata kuliah psikologi pendidikan menjelaskan tentang Anak Berkebutuhan Khusus atau biasa disingkat ABK. Didalam  ABK kami mengetahui bahwa kondisi berkebutuhan khusus terbagi menjadi lima kategori, dimana dua diantaranya adalah general delays in cognitive and social fuctioning dan advanced cognitive development. Dua kategori diatas, yang pertama merupakan keterlambatan yang berdampak pada kondisi berfikir serta sosial dan emosional, sementara kedua adalah kondisi  mereka yang mengalami percepatan berfikir yang juga mempengaruhi kondisi sosial dan emosional. Contoh kondisi anak yang bisa ditampilkan pada kasus ini adalah  retardasi mental dan gifted. Vonis retardasi mental diberikan kepada anak dengan hasil tes psikologi IQ dibawah 70, serta gifted dengan hasil tes psikologi IQ diatas 130.
Kisah tentang anak-anak demikian yang ingin saya bagikan agar mengambil pelajaran, bersama ilmu yang masih miskin dari pengetahuan anak-anak yang kian berkembang sesuai zaman, juga turut berpegang dengan bagaimana manusia shalih bernama Luqman memberikan nasehat pada anaknya.
Suatu ketika instruksi atasan hadir agar seseorang yang diamanahkan sebagai koordinator Bimbingan Konseling disekolahnya menggali data, tentang siswa usia 7 tahun yang katanya mengalami keterlambatan belajar. Sehari, dua hari, tiga hari ia mengamati siswa itu. Seksama. Pada waktu yang ditentukan, ia segera membuat laporan observasi wawancara dan segera mengonsultasikan pada tenaga ahli (psikolog) yang ditugaskan sekolah. Ada yang memprihatinkan.. Ketika mengamati fisiknya tak ada yang salah, dia gadis cilik yang cantik dan lucu, sangat cantik malah (menurut saya). Akan tetapi, kondisi yang akan minum membuat orang dewasa harus menjelaskan terlebih dulu, "itu gelas, ada airnya, silakan diminum". Berdasar data yang didapatkan, sang psikolog merekomendasikan agar segera dilakukan tes deteksi dini dalam perkembangan. Tes dilakukan, dan seminggu kemudian hasil didapatkan. Mengejutkan.
Sekolah bersikap bijak dengan memanggil orang tua yang bersangkutan, mengundang untuk konseling bersama psikolog. Saya teringat, kalimat psikolog dimulai dengan tanya kabar dan diiringi candaan terkait aktivitas tamu yang luar biasa banyak. Pelan-pelan menuju arah pembicaraan, sebuah peneguhan psikolog sampaikan, "setiap anak adalah makhluk hebat, apapun kondisinya, dan Allah tak pernah salah sehingga Dia mengaruniakan anak pada orang tua yang tepat, orang tua yang kuat dan mencintai anak-anaknya." sang psikolog berusaha mengatur kata agar yang keluar meneguhkan hati tamunya, di pertengahan konseling, beliau menjelaskan bahwa putrinya tergolong siswa dengan kecerdasan dibawah rata-rata (yang sesungguhnya jauh dari rata-rata), IQ 57. Retardasi mental... dan seketika air mata itu pecah.
Dalam kondisi yang berbeda, seorang ibu berkali-kali konsultasi pada salah satu guru besar psikologi anak UGM. Setiap hari. Tak jarang dalam konsultasi air mata wanita itu pecah membasahi pipi. Anak lelakinya yang berusia 7 tahun mempertanyakan substansi kursi empuk yang dimiliki guru dan berbeda dengan kursi kayu para siswa, menganggap bahwa sepatu mengekang kebebasan jari-jari kakinya, dan selalu protes dengan diagram rantai makanan yang mempertanyakan kenapa makanan ular selalu disandingkan dengan tikus sementara dalam kehidupan nyata makanan ular bukan hanya tikus, dan berbagai bentuk protes kritis lainnya. Sebuah protes yang rasanya tidak wajar bagi anak usia 7 tahun!
Hasil tes psikologi kisah kedua ini, bahwa anak divonis gifted sebab IQ diatas 150. Percepatan kognitif yang tak seimbang dengan perkembangan emosional serta sosial, membuat ananda dilabel sebagai anak aneh, agresif karena sering tantrum dan menyerang anak lain, perfeksionis, serta mempertanyakan otoritas, dan sebagainya. Dugaan autis, dan gangguan perilaku sosial lainnya sempat tersemat, hingga sang ibu harus sabar karena setiap hari mendapat laporan sekolah kalau anaknya berulah.
Retardasi mental dan gifted, pada hakikatnya ia tetap karunia. Apapun kondisinya, sekali lagi ia tetap karunia... Kondisi-kondisi anak dengan segala keunikan yang kini nampak, sudah selayaknya menjadi hikmah bagaimana belajar dan bersikap. Sebab dulu, ketika saya belum tahu apa itu  gifted, rasanya lisan begitu mudahnya mengatakan, "enak ya gifted, enggak usah belajar ngoyo, sekali denger aja dah paham. Lah saya, mendengar dan mbaca berkali-kali dulu baru ngerti."

Pada akhirnya, persiapan itu tetap harus dikuatkan dan semakin dikuatkan. Belajar pengasuhan melalui perspektif Islam, pun juga mempelajari perkembangan zaman terhadap pengaruhnya pada tumbuh kembang anak, termasuk segala hal yang berhubungan dengan anak, apapun itu. Sebab ia adalah makhluk unik, mengagumkan. Walau sewaktu-waktu mengganggu atau memaksa manusia dewasa mengatur nafas atas keunikannya, tapi keberadaannya membuat kita bermakna.
Belajar, belajar, dan belajar. Sembari memanjatkan do'a, agar wasilah yang menjadi 'pintunya' Dia ijabah segera. Bismillah...



Selasa, 20 Oktober 2015

Sebait Rasa dalam Surat yang Tak Biasa

Ini tentang cerita kehidupan bersama, kamu boleh menyebutnya persahabatan, persaudaraan, atau apalah sesukamu. Hidup disebuah rumah sewaan dengan biaya tahunan, menjalani hari-hari  dengan latar belakang sifat berbeda; keras, lembut, tegas, sensitif, pendiam, serius, banyak bicara, dan sebagainya. Ada sebagian diantaranya yang mengekspresikan kondisi emosionalnya dengan berbagai sikap yang tertangkap mata; ia yang bahagia dengan cerita tanpa jeda, ia yang bahagia dengan ekspresi datar-datar saja, ia yang bahagia dengan murah senyum semurah-murahnya, ia yang bahagia dengan berbagi apa saja, ia yang berbahagia teriak sekencang-kencangnya, dan sebagainya. Selanjutnya ia yang marah dengan ekspresi diam tanpa bicara sepatah kata, adapula ia yang marah justru meletakkan barang-barang dengan kerasnya, pun juga ia yang marah dengan pergi entah kemana, bahkan juga ia yang marah menyendiri dikamar tanpa merespon stimulus diluar lingkaran egonya, dan sebagainya.
Suatu hari dalam kesempatan berbeda, sebuah kalimat seorang teman hadir bahwa sejatinya keadaan ini adalah proses berlatih. Status sendiri atau belum menikah yang hidup dengan kawan sebangsa, bersama rangkaian budaya dan karakter berbeda adalah latihan untuk kehidupan mendatang. "Coba perhatikan," kata dia,"yang tinggal bersamamu masih teman-teman sejenis denganmu, perempuan dengan perempuan atau laki-laki dengan laki-laki yang masih sendiri, bagaimana jika nanti sudah tinggal dengan manusia halal yang pastinya perbedaan karakter perempuan-lelaki tak bisa dihindari. Belajarlah sabar dalam kondisi ini."

Iya, benar sekali. Bahkan sejatinya perbedaan adalah hukum alam. Tak bisa memaksakan orang lain sesuai dengan individu kita, bahkan perjalanannya menjadi proses pendewasaan bagi upaya berfikir kita. Menerima, mengerti, memahami, bagaimana keunikan tiap diri. Bagaimana belajar komunikasi dengan orang lain yang menyesuaikan karakternya, belajar bersikap dengan orang lain yang tegas tapi tak menyakiti hatinya.
Sebuah kisah yang kiranya menjadi pelajaran berharga, adalah ia seorang lelaki shalih yang luar biasa. Pengabdiannya pada manusia mulia tak diragukan sahabat lainnya. Ia seorang lelaki shalih yang memiliki ukuran tubuh yang konon katanya 'hanya' sebesar tubuh burung pipit. Tubuhnya kurus dan pendek, hingga tinggi badannya tidak berbeda dengan orang yang sedang duduk. Kedua betisnya kecil dan tidak berisi.
Suatu hari ia memanjat pohon arok, dan kedua betisnya terlihat  para sahabat lainnya. Para sahabat yang melihat seketika menertawakan betisnya yang kecil itu. Namun, dengan kebijaksanaan manusia mulia yang memahami karakter sahabat-sahabatnya segera bersabda;"Kalian menertawakan betis Ibnu Mas'ud (Abdullah bin Mas'ud ra). Ketahuilah, disisi Allah kedua betis itu lebih berat timbangannya dibandingkan gunung uhud."
Sikap indah Rasulullah SAW tersampaikan setelah apa yang dilakukan sahabat lain, sebab menertawakan betis kecil milik Ibnu Mas'ud didepan umum secara tidak langsung mengarah pada sikap mempermalukan didepan umum, atau dalam istilah psikologi mengarah pada bullying jenis verbal. Rasulullah memberikan sebuah tanggapan yang sekiranya tanggapan itu seketika mengena, mengena bagi para sahabat tanpa menyakiti hati mereka, sebab sahabat mana yang tidak tahu gunung uhud atau seperti apa kisah tentang perang uhud, dan kepahlawanan para sahabat yang turut berperang di medan uhud.

Beragam kisah tersajikan untuk diambil pelajaran, seperti oase dipadang gersang, tentu setiap orang berharap kebaikan darinya.
Bersama hati yang kembali berusaha memahami perjalanan persudaraan ini, bahwa perbedaan adalah keniscayaan. Seperti barisan pensil warna yang tersajikan, dengan latar belakang warna berbeda dan jiwa seni pelukisnya, mereka mampu menciptakan karya yang mempesona. Semoga ia menjadi latihan, latihan yang berharga mahal hingga tumpukan materi tak mampu menebus mahalnya pengalaman ini.
Untuk saudaraku, sahabatku, temanku, sebait do'a tulusku semoga Allah kuatkan ikatan hati diantara kita, dan menyimpul erat hingga syurga. Membuat mereka yang tak menyukai status kemusliman kita, iri dengan indahnya kecintaan dalam berbagi rasa suka benci hingga setia, merenda usaha kerja bersama, melahirkan harmoni yang semua karenaNya. Bersama... dan bersama...


Senin, 28 September 2015

Mentality of Woman


"Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Maryam didalam kitab (Al Qur'an), yaitu ketika dia mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat disebelah timur (Baitul Maqdis)"
(Maryam:16)

Salah satu nama yang diabadikan sebagai wanita mulia nan suci dalam sejarah. Ujian diatas ujian, air mata diatas air mata, hinaan, cemoohan, umpatan, ditambah sakitnya menanggung kehamilan tanpa seorang pria.
Melahirkan seorang diri ditempat jauh dari manusia... Kepayahan...

Sejenak kisah Maryam melintas dalam ingatan, fitrah makhluk lembut dan penyayang yang bisa menjadi perkasa ketika ujian datang.
Ah rasanya amat jauh dari keteladanannya...
Siapa aku? Makhluk yang terlampau banyak alfanya, keburukannya, bahkan keluhannya.
Suatu hari, dalam kesempatan mencerna hikmah hidup ini, Allah hadirkan sosok wanita ditengah kemelut hidupnya. Detik-detik menunggu sidang perceraian, status baru sebagai single parent dari dua anak yang sebentar lagi tersemat, harus mencari nafkah untuk kehidupan buah hatinya, dan kondisi salah satu anaknya yang berkebutuhan khusus. Rasanya amat lengkap kesulitannya. Namun yang nampak dari penampilannya, ia abaikan perasaannya, ia hapus air mata di hadapan anak-anaknya, ia berperan layaknya wanita kuat sekuat baja.
Menjadi buah bibir banyak kalangan, orang yang tak mengenalnya menggelari manusia kritis yang kebal masukan para analisis. Hanya percaya yang berdasarkan data, tak sekedar kata,"kenapa?", tetapi,"bagaimana?."
Itulah sosoknya, tapi terasa sulit menyebutkan namanya.. Wanita perkasa yang menuai banyak celaan, cemoohan, bahkan petisi kumpulan manusia yang di sudut pengertian lain mereka amat mencintai putra-putrinya.
Allah.. andai waktu dapat diputar, mestinya aku lebih obyektif sejak awal. Tak sekedar berdasar assesment permukaan.
Andai dapat ku ungkapkan, aku kagum dengan wanita itu. Berhati baja demi kebahagiaan anak-anaknya, kehidupan sejak remaja yang yatim piatu, merintis usaha dari titik nol hingga berrelasi pengusaha tingkat internasional, membina rumah tangga yang kenyataannya ditinggal suami mencari madu; madu yang lebih wangi dan ayu...
Sebuah realita tersajikan, bukan sekedar kumpulan kisah yang pernah dibukukan.
Aku hanya ingin mengambil hikmah, memang benar tiap manusia memiliki cerita hidup masing-masing. Dengan kisah bak novel terlaris yang membuat air mata terkuras habis. Namun bedanya kisah ini ditulis oleh Penguasa hidup yang Maha Pengasih, bagaimana tokoh utama menjalani hidupnya, dan seperti apa usaha geraknya terhadap keputusan takdir yang akan dilalui.

Banyak keteladanan wanita hebat itu, yang tak sekedar lemah dibalik uraian air mata dunia. Tapi ia dan mereka yang membuktikan sebagai wanita luar biasa, atas motivasi hidup yang menjadi latar belakangnya.
Allah.. sekali lagi, izinkanku mengambil hikmah. Pada banyak wanita, yang Kau tampakkan kualitas mentalnya. Pada banyak wanita, yang tetap berjuang taat pada suami dan pengayom putra-putrinya.

Selayak wanita mulia dalam bingkai sejarah, pun juga sahabiyah yang meneteskan peluh dan darah. Pada sebuah pembinaan, peran madrasah agung yang mengandung, melahirkan, menyusui, dan mengasuh. Seperti bunga gunung yang mempesona diatas ketinggian, ayu kecantikan hanya diperuntukkan pada pendaki nan beriman.
Ya Allah, teguhkanlah... Para wanita yang berjuang menghadapi kesulitan hidupnya. Mampukan mereka, dan mampukan ia.





*kekagumanku pada wanita itu, seorang ibu dua anak di Yogyakarta

Jumat, 11 September 2015

Teruslah Bertumbuh Meski Secara Formal Tampak Gagal

Terinspirasi  sebuah judul artikel di majalah Tarbawi beberapa tahun lalu, agaknya tujuh kalimat itu sangat mengena bagi  mereka yang suka menggunakan bahasa ‘hati’ sebagai konsumsinya. Teruslah bertumbuh meski secara formal tampak gagal, menyiratkan tentang cerita pedihnya  kegagalan ataupun juga hilangnya harapan karena ditinggal orang yang disayang. Bukan suatu keadaan nyaman ketika kenyataan justru menumpahkan air mata kesedihan, sebab siapa yang meminta karena do’a pastinya lebih cenderung pada harapan kemudahan.
Tetapi berbicara kehidupan kita tak mungkin mengingkari bahwa hadirnya kesulitan adalah bagian hidup yang tak dapat dihindarkan. Setiap kita memang berharap indahnya taman bunga dengan warna-warni mempesonanya, tapi lupakah kita bahwa menuju warna-warni mempesona memerlukan tugas ekstra sang tukang kebunnya? Setiap pagi-siang-sore seorang tukang kebun tak lepas perhatian bagaimana memastikan nutrisi tanaman sampai ke setiap akarnya, ke setiap akarnya, dan ke setiap akarnya… hingga kemudian terdistribusikan ke batangnya, dahannya, daunnya, hingga bunga-bunganya. 
Sudah menjadi ketentuan ketika menjalani kenyataan penuh kejutan, bisa terasa manis atau justru pahit. Demikianlah isi cerita ini, ia akan mengajakmu berkelana, naik turun bukit kisah, berkelok-kelok alur perjalanan. Bagi mereka yang tak tahan bisa mengalami mabuk kendaraan; mual luar biasa, pusing tak tertahankan, tapi justru ketika isi perut dikeluarkan, rasa lega menjadi imbalan.
Teruslah bertumbuh meski secara formal tampak gagal, mengajarkan kita bahwa betapapun lemahnya keadaan jangan kemudian membuat kita hilang harapan. Sebab kita hidup secara kolektif, jikapun kita merantau sendiri tetap ingatlah ada rangkaian hati yang berhak mendapatkan kabar keadaan kita, yaitu orang yang senantiasa mendo'akan kebahagiaan kita. Kepada merekalah kita berusaha tegak melanjutkan cerita masa.
Teruslah bertumbuh meski secara formal tampak gagal. Adakalanya menegakkan diri ketika jatuh bukan hal mudah, sebab seperti kayuhan sepeda pertama juga terasa berat. Memulai untuk terus bertumbuh ketika respon sosial justru kadang menjatuhkan. Sekali lagi, inilah cerita masa. Layaknya para sastrawan yang mengibaratkan pentas dunia, dan kitalah tokoh utamanya, tokoh utama dalam kisah  hidup kita. Akan berperan seperti apa dalam masing-masing cerita, itulah kita yang kelak akan menjadi sejarah orang-orang setelah kehidupan kita.
Maka sekali lagi, teruslah bertumbuh meski secara formal tampak gagal...

Kamis, 10 September 2015

Antara Aku, kamu, dan Profesi Tukang Kebun Itu


a Letter of  Love

Antara aku dan kamu, agaknya tak mampu kusembunyikan rasa geli disudut hatiku. Ketika jemari memulai mengetik dipapan tuts-nya, membuat surat cinta yang sebelumnya belum pernah ku lalukan. Awalnya tak pernah terlintas dalam benakku, bahwa empat tahun ini berjodoh satu tempat tinggal denganmu. Seorang yang diawal asing bagiku, terduduk dipojok ruang bernama balai RK lima setengah tahun lalu. Pun juga dengan segala yang kulalui bersamamu, atau peristiwa lain yang tak melibatkanmu; akademikku, studi banding program studi itu, pekerjaanku, atau kegiatan apapun yang tak menyertakanmu.
Ketika cericit Sriti melintas ruang jendela ini, seolah mengabarkan betapa sempurnanya karunia Tuhan Yang Esa. Dia yang pengasih mengirimkan seorang sahabat bak Muhajirin dan Anshar dimasa Rasulullah, saling berkorban dan mencinta karenaNya.
Tapi aku tak ingin banyak berkata, dan biarkan lintasan ingatan ditiap neuron ini yang berbicara; ketika guru menceritakan taman bunga itu, dengan takzim kita mendengar bahkan berbisik hati ingin menjadi bagian dari seorang tukang kebun. Berlomba dengan petak tanah yang berbeda, aku bertekad menanam bunga yang lebih indah darimu. Namun ternyata dalam action yang nampak ternyata kau tak mau kalah dariku.
Sebuah taman bunga yang hanya kita, yang dapat memaknainya. Kau ingat kata-kataku saat itu?, "Kau tahu bahwa hidupku dikelilingi bangunan tinggi menjulang, hampir-hampir aku memasukinya bahkan ada yang sudah didalamnya. Bangunan mewah yang menurutku megah, namun ternyata hanya sesak yang membuatku jauh dari kesejukan alam yang menjadi impian."
Sementara wajah bersahajamu menjawab,"aku sudah pernah merasakan apa yang kamu rasakan, kita senasip ya, hehehe."

Hfff, tak kusangka sudah selama itu dialog kita.
Kini kita meneruskan tiap rajutan mimpi, mengilhami apapun yang semesta beri sebagai bekal melanjutkan perjalanan nanti. Ditengah hiruk pikuk pentas dunia, adalah mereka yang tetap menjadikan tukang kebun sebagai profesi utama. Tidakkah mereka lelah pun juga tergiur merasakan betapa indahnya pameran zaman yang tersuguhkan dihadapan mukanya?
Mungkin disini aku yang terlalu kerdil, sahabatku. Tak memahami alur berfikir atau justru masa bodoh dengan cara orang lain berfikir. Tapi tidak! Walau kebebasan mencerna informasi bertengger diatas kepala ini, aku juga punya prinsip yang membuatku tak mudah kabur atas tawaran manis para penjaja puitis.
Aku masih ingat mimpi kita, tujuan hidup kita kemana, dan apa yang menjadi makna kebahagiaan kita.
Aku sadar suatu saat akan ada jeda, entah berapa lama atau bahkan sepanjang sisa kehidupan kita yang tak akan lagi bersama hingga mengharap pertemuan di syurgaNya.
Aku ingin mengabarkan padamu, yang mungkin berkesempatan membaca catatanku, aku ingin bahkan selamanya menjadi tukan kebun. Ditengah resiko tertusuk duri bunga-bunga indah, aku kan setia menanam benih-benihnya, memupuk tiap batang pohonnya, menyiram agar ia terlihat segar dan indah dipandang mata.
Sedangkan mereka yang pernah kupersilakan memasuki taman ini, sama sekali tak ada paksaan hingga mereka membuat keputusan. Bahkan jika mereka tak memasukinya, aku yakin mereka merasakan betapa indahnya bunga-bunga bermekaran yang menampilkan pesonanya.
Sahabat, dimanapun kamu berada ku berharap ingatlah mimpi kita. Taman bunga- taman bunga kita, mari menjaga bunga ini dengan menjadi tukang kebun sejati.






*sebuah refleksi, dimana taman bunga menjadi cerita penggugah para pecinta. para pecinta yang katanya rindu  pertemuan dengan Kekasihnya. Kekasih yang selama ini setia memberikan totalitas cintaNya, padanya, pada mereka.
Rabbi... ridhailah profesi ini, dalam menata bunga-bunga indah ini. ridhailah ia sebagai jawaban ketika Kau bertanya kelak, apa yang sudah kulakukan kepada saudara-saudaraku dalam menyampaikan kalimatMu...

Rabu, 09 September 2015

Secangkir Kopi Sendu dan Gula Pengobat Rindu

Siang itu saya terduduk, seorang diri dikamar. Berfikir dan merenungi suatu hal yang baru saja terjadi, yang mungkin sebenarnya sepele. Bisa dikatakan berusaha mencari serpihan hikmah.
Sudah menjadi kecanduan memang, yang sebenarnya sudah satu tahun ditinggalkan, tetapi kehadirannya adalah katarsis emosi negatif yang dilawan. Yaitu, secangkir kopi.
Sengatan terik matahari tak menghalangi saya untuk mampir swalayan, sebenarnya enggan, tapi karena adanya hajat khusus bernama kebutuhan. Mbak Jupi orange akhirnya saya arahkan ke swalayan dekat kontrakan, membeli beberapa sachet kopi hitam instan, yang walaupun beberapa hari kemudian akhirnya bungkusan-bungkusan itu disita teman baik saya. Hmmm, bentuk cintanya pada saya mungkin, agar kecanduan yang sempat tersembuhkan tak menjadi kebiasaan.. hehe
Ketika saya memasukkan serbuk kopi serta menyeduh dan beberapa detik kemudian meminumnya, saya terkejut luar biasa. Kopi yang saya beli dan minum itu adalah kopi hitam murni yang tidak ada gulanya, alias pahit! Sebelumnya, saya tidak membaca kalau itu bukan 2 in 1, karena melihat kopi di rak swalayan langsung ambil saja. Tersedak dan batuk dengan kopi yang dimulut, ketika berusaha menelannya ternyata rasa pahit sangat menyiksa tenggorokan. Dan akhirnya mau tidak mau saya harus mencari gula. Sementara persediaan gula tak ada, dan saya pun harus keluar lagi ke swalayan membeli gula..

Antara kopi dan gula, sejenak inilah yang sempat menyita perhatian saya. Bukan bermaksud menghadirkan cerita kopi dan gula yang kemudian mendapat nama baik adalah kopinya, bukan.. bukan itu yang saya angkat.
Allah SWT menyampaikan;"Dia memberi hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki, barang siapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat." (Al Baqarah: 269)
Ketika berusaha mengkorelasikan kehadiran kopi dan gula dalam sebuah kehidupan, bukankah kopi ibarat permasalahan dan gula adalah kemudahan..?
Secangkir kopi hitam tanpa gula, yang jika diminum membuat tak nyaman tenggorokan, serta sebuah permasalahan yang mengusik jiwa seseorang. Keduanya tidak akan berubah rasa, kecuali adanya gerakan untuk menambahkan gula dan 'gula'.
Mungkin seperti itu pula pengibaratan  antara permasalahan dan kemudahan, akan tetapi yang sering menjadi permaslahan ditengah persoalan adalah bagaimana seseorang mengupayakan mencari gula untuk menghilangkan pahitnya kesedihan. Sebab seperti yang saya alami tadi, mengharuskan kembali keluar rumah dan melawan teriknya matahari ditengah siang tentu bukan hal mudah.
Namun inilah pilihan. Proses penyelesaian sebuah permasalahan dikembalikan pada individu yang mengalaminya, entah ia mau bergerak atau tidak. Sehingga disini, kesehatan iman sangat menentukan kesuksesannya.
Sungguh benar kata Rasul, bahwa teman kita memiliki pengaruh pada jiwa kita. Ketika berteman dengan penjual minyak wangi kita akan tertular harumnya, dan jika kita berteman dengan pandai besi maka kita akan tertular bau pengapnya.
Disini, dalam sebuah keheningan mencari hikmah, mengalirlah energi iman yang ibarat sentuhan lembut merasuk qalbu;"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan," demikian janji Allah dalam Al Insyirah:6.
Terasa malu kiranya, ketika ditengah kesempitan kemudian membuka mata bahwa diluar sana sangat banyak yang mengalami kesulitan lebih berat dari kita. Namun mereka tanpa hancur diri tetap berusaha menjalani kesempatan hidup dengan penuh kesyukuran.
Sepenggal kisah yang semoga mencharge iman, adalah ia Yusuf AS, seorang nabi yang dinisbatkan memiliki ketampanan membius. Membius para pembesar wanita Mesir hingga  tanpa sadar mengiris-iris jemarinya sendiri, "Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia, ini benar-benar malaikat yang mulia." (Yusuf: 31).
Ujian membuatnya diasingkan saudara-saudaranya sendiri, dibuang disumur, menjadi budak, difitnah dengan fitnah yang keji. Namun atas kesabaran dan pilihannya mempertahankan iman, ia kembali menjadi manusia yang dimuliakan. "Wahai ayahku, inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Dan sesungguhnya Tuhanku menjadikannya kenyataan." (Yusuf: 100).

Alangkah berat ujiannya.. tapi, masihkah lisan kita berucap;"iya karena dia seorang nabi, dan nabi lebih berat ujiannya dari pada manusia biasa."
Bukankah setiap kisah hadir untuk diambil pelajaran, bahwa kesulitan hidup adalah kepastian yang tak dapat dihindarkan? Makhluk Allah bernama masalah memang akan hadir kepada siapapun yang masih memiliki nafas diujung dadanya. Menghirup oksigen dengan merdeka ataupun tidak, menikmati kesejukan udara dengan gratis ataupun tidak, merasai sentuhan yang hangat ataupun tidak, bahkan kehidupan sebagai karunia terbesar!
Fahamilah temanku, siapapun kamu yang sedang bersedih, hakikatnya ujian hidup bersifat kecil dibanding kekuatanmu. Dia yang Maha Sempurna telah mengatur takaran masalah sesuai ukurannya. Yang tak akan tertukar, yang tak akan terlampaui, dan yang memang menjadi milikmu. Iya milikmu.. Karena sebuah permasalahan telah tersematkan kepada tuannya, hingga ketika saatnya tiba, bersama aktualisasi kekuatanmu, kamu mampu memecahkan kesulitan itu. Yakinlah pada kemampuanmu!
dan semoga Allah teguhkan jiwamu, dalam menjalani segala urusanmu.

Sabtu, 22 Agustus 2015

Ketika Nasehat Islam Relevan dengan Kajian Barat Psikologi Perkembangan

Bermula sebuah pesan untuk melakukan transfer ilmu kepada ibu-ibu muda disalah satu sudut DIY, membuat saya harus upgrade keseluruhan soal pemahaman  agar apa yang di ucapkan  menjadi wasilah mendapat ridhaNya. Pengasuhan, yang merupakan salah satu konsentrasi  disiplin ilmu bernama psikologi, telah menjelaskan suatu tahapan besar tentang perkembangan manusia.
Ketika kita membaca ulang bagaimana seorang pemuda yang melaporkan kedurhakaan ayahnya kepada dirinya, kita mengingat bahwa salah satu point yang disebutkan sang Amirul Mukminin adalah mencarikan calon ibu yang shalihah. Disini kita menggaris bawahi bahwa salah satu tahapan membangun rumah tangga dalam Islam adalah pada proses mencari pasangan. Tidak jauh dengan kajian psikologi perkembangan, dimana ia merupakan keilmuan paling dasar dalam ilmu psikologi. Kerangka kajian psikologi perkembangan menjelaskan bahwa perkembangan manusia dimulai saat kedua orang tua (ayah-ibu) kita merencanakan kehamilan kita. Berlanjut pada proses reproduksi, pembuahan, embrio, dan janin, dimana dalam tahapan ini disebut tahapan pre natal. Berlanjut pada natal (kelahiran), kemudian post natal yang terdiri dari bayi, kemudian berlanjut pada anak-anak yang memiliki 3 klasifikasi perkembangan (masa anak-anak awal, tengah, dan akhir), remaja yang juga dengan klasifikasinya, dewasa yang juga dengan klasifikasinya, lansia, dan terakhir kematian.
Tahapan-tahapan dimana setiap pointnya memiliki tugas perkembangan membuat saya berfikir ulang, juga merasai betapa sempurnanya agama ini ketika kita mencermati bahwa Islam mengatur sedemikian runtutnya kehidupan manusia dengan teliti dan rapi.
Pada kajian ini kita juga kembali di ingatkan bahwa walaupun dalam teori psikologi sosial disajikan sub bab relationship, dimana spesifikasinya membahas tentang cinta dan persahabatan, baik cinta dalam hal keluarga, sahabat, lawan jenis, dan sebagainya. Kita tetap di ingatkan bahwa tahapan perkembangan manusia dimulai pada proses merencanakan kehamilan, yang tentu ketika orang tua berharap anak-anak yang lahir bisa dibanggakan, menuntut pemahaman orang tua pada proses pengasuhan yang akan dilakukan kelak.
Sebagai seorang Muslim Allah telah memberikan pembelajaran melalui Luqman dalam QS. Luqman:13, "wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar."
Ayat di atas merupakan nasehat yang indah, dimana dalam sudut pandang yang lain Allah memberikan pendidikan kepada para pemuda-pemudi Islam bagaimana menjalani proses pengasuhan kelak, untuk mereka yang saat ini sejatinya belum menikah bisa mengambil pelajaran.
Proses pengasuhan yang terjabarkan dalam psikologi sebagaimana disebutkan Hurlock (1978), bahwa aspek pengasuhan yang kita temui dilapangan memiliki kerangka atau jenis yang beragam. Disini saya tak bisa memungkiri, bahwa ketika dihadapkan pada permasalahan anak-anak, sangat banyak permasalahan berawal pada pengasuhan yang tak seimbang. Terjadinya perbedaan pengasuhan yang dilakukan oleh seorang ibu dan ayah, sangat berpengaruh pada sikap dan keseharian anak. Jika seorang anak ditemukan memiliki sikap inferior yang berlebih, kita bisa menggali bagaimana pengasuhan yang dilakukan orang tua. Apakah pola pengasuhan mereka cenderung otoriter yang mengarah pada protektif, dengan dalih sayangnya terhadap anak sehingga cenderung mengarah pada membatasi keinginan anak.
Suatu ketika dalam sebuah kajian pengasuhan, seorang ibu menyebutkan bahwa menjadi orang tua adalah bagian jihad besar sebab mendidik anak untuk menjadi penerus peradaban. Mendidik anak  bukan pekerjaan mudah dan sederhana, sebab dampaknya membuat orang tua kelak dimintai pertanggungjawaban dari Sang Pencipta.
Namun dalam sedikit catatan kecil ini, saya tak mampu berpanjang teori, sebab sebaik-baik pengasuh adalah mereka yang secara nyata telah melahirkan atau membesarkan putra-putrinya. Sedikit pengingat pada mereka (khususnya saya) yang mempersiapkan upaya penyempurna separuh agama, bahwa kehidupan rumah tangga tak sekedar banyangan indahnya bersama orang yang dicinta. Tapi bagaimana menjadikan keluarganya sebagai estafet perjuangan Islam yang sebenarnya. Melalui pengasuhan, sebab pengasuhan turut menentukan kualitas anak-anak kelak. Allahua'lam

Selasa, 11 Agustus 2015

Kesulitanmu Tak Sebanding Kekuatanmu; so, don't worry be happy

Didalam tiap kesempatan ini (hidup) aktivitas bernama membuat pilihan dan keputusan adalah keniscayaan yang tak dapat dihindarkan. Dari hal yang mungkin bersifat remeh, sampai hal yang bersifat penting. Sebagai misal, kondisi sederhana seperti memilih makan bersama teman atau memilih menyendiri disuatu tempat, bahkan ketika sampai dihadapkan pada membuat keputusan besar seperti menentukan letak tempat tinggal, keputusan menikah, ataupun juga sebuah keputusan yang berhubungan dengan prinsip kehidupan (agama).
Pilihan dari tiap sajian menu kehidupan adalah sarana yang menentukan kualitas hidup seseorang. Kehadirannya yang kadang membingungkan sehingga kesulitan mengambil keputusan, adalah salah satu dari bentuk pendidikan yang Allah karuniakan.
Suatu masa datang seorang adik perempuan, dengan kondisi tugas akhir yang cukup menyulitkan. Bersama uraian air mata tersebab keadaan memaksanya mengubah seluruh isi tugas akhirnya, sementara deadline yang diberikan fakultas untuk mengejar pendaftaran sidang pendadaran hanya sepekan saja. Keadaan ini tentu menimbulkan kekalutan; pertama berjuang menerima keadaan bahwa ia harus revisi total, kedua menata diri-hati-juga fikiran terhadap apa yang akan disampaikan kepada orang tua dengan 'kegagalannya' menghadirkan orang tua dikesempatan wisuda periode I yang tinggal didepan mata.
Permasalahan di atas hanyalah sebuah contoh kecil dimana seseorang harus bergerak mengambil keputusan besar, sebab pada hakikatnya menentukan sikap dalam menghadapi permasalahan adalah sebuah pilihan.
Teringat sebuah ayat bahwa Allah tak akan membebani hambaNya melebihi batas kemampuannya, sehingga dengan demikian ukuran permasalahan seseorang tak mungkin lebih besar dari kekuatan yang dimiliki seseorang itu sendiri.

Rabu, 18 Februari 2015

Memahami Ruh Sebuah Keputusan

Kita hidup dari keputusan ke keputusan, yang kita buat atau dibuat orang lain. Keputusan oleh diri sendiri, untuk diri sendiri, terlebih untuk orang lain, memiliki godaannya sendiri; godaan obyektifitas. Sebab begitulah bawaan dasar kita yang cenderung mencintai diri secara berlebih. Dalam kadar yang menyimpang, bahkan kita tidak senang dengan apa yang menyenangkan orang lain. Murni karena iri atau dengki, bukan soal salah atau benar kesenangan itu. Karenanya, menemukan dan memahami ruh sebuah keputusan akan membantu kita menemukan obyektifitas itu, atau setidaknya mendekati obyektifitas.
Ruh sebuah keputusan terkait erat dengan motivasi atau tujuan dari keputusan itu untuk apa, dan bagaimana proses keputusan itu kita jalani. Dalam batas ini, suka atau tidak suka obyektifitas akan kita temukan pada sejauh mana sebuah keputusan tersambung secara vertical dengan nilai-nilai ke-Tuhan-an. Disanalah porsi motif atau tujuan sebuah keputusan kita muarakan, sebab obyektifitas pada akhirnya adalah soal bimbingan Illahi, bukan benar-benar soal persepsi kita sendiri.
Obyektif secara vertical, adalah bagaimana kita merasa terbimbing Allah. Terwujud dalam keselarasan dan keserasian antara apa yang kita mau dan apa yang kita dapat, namun tidak semuanya  selalu cerita tentang keberhasilan. Bisa juga kisah tentang gagal dan celaka, tapi ketika gagal kita mendapat bimbingan untuk menyikapinya dengan benar serta menemukan makna-makna besar dibalik kegagalan. Oleh sebab itulah, dalam membuat keputusan yang menurut kita berat, kita di ajarkan untuk melibatkan Allah langsung, yakni dengan istikharah.
Selanjutnya, obyektif secara horizontal adalah keobyektifan yang kita temukan pada sejauh mana keputusan sebagai hasil proses yang dimusyawarahkan. Berinteraksi dan saling berbagi dengan orang lain untuk membuat keputusan, inilah yang disebut syuro, dimana hasilnya adalah sebuah keobyektifan yang bersifat kolaborasi. Dengan asumsi bahwa sebuah keputusan yang dilakukan dengan musyawarah, atau dengan bertanya kepada yang ahli adalah keputusan yang prosesnya lebih obyektif dengan hasil yang juga obyektif.
Keputusan-keputusan dalam hidup ada yang bersifat besar, namun juga ada yang bersifat kecil. Seperti memutuskan untuk sebuah pekerjaan, status dalam hidup, keyakinan, sampai keputusan ringan yang biasanya obyektifitas tidak terlalu mempunyai kerumitan. Karenanya, keputusan seperti itu ruhnya terletak pada penyandarannya kepada niat, bukan pada prosesnya.
Kisah Abdurrahman Al-Aswad, yang baginya makan adalah cerita tentang ruh sebuah keputusan. Sahabat yang dikenal baik itu tidak makan roti kecuali pasti dengan niatan khusus. “dia makan, bila badannya mulai gemuk dan terasa berat untuk shalat, maka dia mengurangi makan agar semangat shalat. Tapi bila badannya mulai kurus dan terasa lemah, maka ia menambah makan agar badannya merasa kuat dan semangat melaksanakan shalat. Sehingga, makan atau tidaknya roti adalah untuk shalatnya.”

Dengan demikian, bagi kita semua keputusan itu penting, meskipun keputusan itu bukan keputusan besar. Dari perspektif perasaan terarah oleh bimbingan Illahi dan obyektifitas kolaborasi, sebuah hal yang sifatnya ringan atau berat diharapkan bisa memiliki ruh yang kuat. Oleh karena itu, sepanjang waktu, setiap hari, kita sebenarnya berada pada saat-saat penting membuat keputusan penting. Tak peduli itu keputusan besar ataupun keputusan kecil.

Tarbawi, 2008