Terinspirasi sebuah
judul artikel di majalah Tarbawi beberapa tahun lalu, agaknya tujuh kalimat itu
sangat mengena bagi mereka yang suka
menggunakan bahasa ‘hati’ sebagai konsumsinya. Teruslah bertumbuh meski secara
formal tampak gagal, menyiratkan tentang cerita pedihnya kegagalan ataupun juga hilangnya harapan
karena ditinggal orang yang disayang. Bukan suatu keadaan nyaman ketika
kenyataan justru menumpahkan air mata kesedihan, sebab siapa yang meminta karena
do’a pastinya lebih cenderung pada harapan kemudahan.
Tetapi berbicara kehidupan kita tak mungkin mengingkari
bahwa hadirnya kesulitan adalah bagian hidup yang tak dapat dihindarkan. Setiap
kita memang berharap indahnya taman bunga dengan warna-warni mempesonanya, tapi
lupakah kita bahwa menuju warna-warni mempesona memerlukan tugas ekstra sang
tukang kebunnya? Setiap pagi-siang-sore seorang tukang kebun tak lepas
perhatian bagaimana memastikan nutrisi tanaman sampai ke setiap akarnya, ke setiap
akarnya, dan ke setiap akarnya… hingga kemudian terdistribusikan ke batangnya, dahannya, daunnya, hingga bunga-bunganya.
Sudah menjadi ketentuan ketika menjalani kenyataan penuh
kejutan, bisa terasa manis atau justru pahit. Demikianlah isi cerita ini, ia akan
mengajakmu berkelana, naik turun bukit kisah, berkelok-kelok alur perjalanan. Bagi mereka yang tak tahan bisa mengalami mabuk kendaraan; mual luar biasa,
pusing tak tertahankan, tapi justru ketika isi perut dikeluarkan, rasa lega
menjadi imbalan.
Teruslah bertumbuh meski secara formal tampak gagal, mengajarkan kita bahwa betapapun lemahnya keadaan jangan kemudian membuat kita hilang harapan. Sebab kita hidup secara kolektif, jikapun kita merantau sendiri tetap ingatlah ada rangkaian hati yang berhak mendapatkan kabar keadaan kita, yaitu orang yang senantiasa mendo'akan kebahagiaan kita. Kepada merekalah kita berusaha tegak melanjutkan cerita masa.
Teruslah bertumbuh meski secara formal tampak gagal. Adakalanya menegakkan diri ketika jatuh bukan hal mudah, sebab seperti kayuhan sepeda pertama juga terasa berat. Memulai untuk terus bertumbuh ketika respon sosial justru kadang menjatuhkan. Sekali lagi, inilah cerita masa. Layaknya para sastrawan yang mengibaratkan pentas dunia, dan kitalah tokoh utamanya, tokoh utama dalam kisah hidup kita. Akan berperan seperti apa dalam masing-masing cerita, itulah kita yang kelak akan menjadi sejarah orang-orang setelah kehidupan kita.
Maka sekali lagi, teruslah bertumbuh meski secara formal tampak gagal...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar