a Letter of Love
Antara aku dan kamu, agaknya tak mampu kusembunyikan rasa geli disudut hatiku. Ketika jemari memulai mengetik dipapan tuts-nya, membuat surat cinta yang sebelumnya belum pernah ku lalukan. Awalnya tak pernah terlintas dalam benakku, bahwa empat tahun ini berjodoh satu tempat tinggal denganmu. Seorang yang diawal asing bagiku, terduduk dipojok ruang bernama balai RK lima setengah tahun lalu. Pun juga dengan segala yang kulalui bersamamu, atau peristiwa lain yang tak melibatkanmu; akademikku, studi banding program studi itu, pekerjaanku, atau kegiatan apapun yang tak menyertakanmu.
Ketika cericit Sriti melintas ruang jendela ini, seolah mengabarkan betapa sempurnanya karunia Tuhan Yang Esa. Dia yang pengasih mengirimkan seorang sahabat bak Muhajirin dan Anshar dimasa Rasulullah, saling berkorban dan mencinta karenaNya.
Tapi aku tak ingin banyak berkata, dan biarkan lintasan ingatan ditiap neuron ini yang berbicara; ketika guru menceritakan taman bunga itu, dengan takzim kita mendengar bahkan berbisik hati ingin menjadi bagian dari seorang tukang kebun. Berlomba dengan petak tanah yang berbeda, aku bertekad menanam bunga yang lebih indah darimu. Namun ternyata dalam action yang nampak ternyata kau tak mau kalah dariku.
Sebuah taman bunga yang hanya kita, yang dapat memaknainya. Kau ingat kata-kataku saat itu?, "Kau tahu bahwa hidupku dikelilingi bangunan tinggi menjulang, hampir-hampir aku memasukinya bahkan ada yang sudah didalamnya. Bangunan mewah yang menurutku megah, namun ternyata hanya sesak yang membuatku jauh dari kesejukan alam yang menjadi impian."
Sementara wajah bersahajamu menjawab,"aku sudah pernah merasakan apa yang kamu rasakan, kita senasip ya, hehehe."
Hfff, tak kusangka sudah selama itu dialog kita.
Kini kita meneruskan tiap rajutan mimpi, mengilhami apapun yang semesta beri sebagai bekal melanjutkan perjalanan nanti. Ditengah hiruk pikuk pentas dunia, adalah mereka yang tetap menjadikan tukang kebun sebagai profesi utama. Tidakkah mereka lelah pun juga tergiur merasakan betapa indahnya pameran zaman yang tersuguhkan dihadapan mukanya?
Mungkin disini aku yang terlalu kerdil, sahabatku. Tak memahami alur berfikir atau justru masa bodoh dengan cara orang lain berfikir. Tapi tidak! Walau kebebasan mencerna informasi bertengger diatas kepala ini, aku juga punya prinsip yang membuatku tak mudah kabur atas tawaran manis para penjaja puitis.
Aku masih ingat mimpi kita, tujuan hidup kita kemana, dan apa yang menjadi makna kebahagiaan kita.
Aku sadar suatu saat akan ada jeda, entah berapa lama atau bahkan sepanjang sisa kehidupan kita yang tak akan lagi bersama hingga mengharap pertemuan di syurgaNya.
Aku ingin mengabarkan padamu, yang mungkin berkesempatan membaca catatanku, aku ingin bahkan selamanya menjadi tukan kebun. Ditengah resiko tertusuk duri bunga-bunga indah, aku kan setia menanam benih-benihnya, memupuk tiap batang pohonnya, menyiram agar ia terlihat segar dan indah dipandang mata.
Sedangkan mereka yang pernah kupersilakan memasuki taman ini, sama sekali tak ada paksaan hingga mereka membuat keputusan. Bahkan jika mereka tak memasukinya, aku yakin mereka merasakan betapa indahnya bunga-bunga bermekaran yang menampilkan pesonanya.
Sahabat, dimanapun kamu berada ku berharap ingatlah mimpi kita. Taman bunga- taman bunga kita, mari menjaga bunga ini dengan menjadi tukang kebun sejati.
*sebuah refleksi, dimana taman bunga menjadi cerita penggugah para pecinta. para pecinta yang katanya rindu pertemuan dengan Kekasihnya. Kekasih yang selama ini setia memberikan totalitas cintaNya, padanya, pada mereka.
Rabbi... ridhailah profesi ini, dalam menata bunga-bunga indah ini. ridhailah ia sebagai jawaban ketika Kau bertanya kelak, apa yang sudah kulakukan kepada saudara-saudaraku dalam menyampaikan kalimatMu...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar