Rabu, 09 September 2015

Secangkir Kopi Sendu dan Gula Pengobat Rindu

Siang itu saya terduduk, seorang diri dikamar. Berfikir dan merenungi suatu hal yang baru saja terjadi, yang mungkin sebenarnya sepele. Bisa dikatakan berusaha mencari serpihan hikmah.
Sudah menjadi kecanduan memang, yang sebenarnya sudah satu tahun ditinggalkan, tetapi kehadirannya adalah katarsis emosi negatif yang dilawan. Yaitu, secangkir kopi.
Sengatan terik matahari tak menghalangi saya untuk mampir swalayan, sebenarnya enggan, tapi karena adanya hajat khusus bernama kebutuhan. Mbak Jupi orange akhirnya saya arahkan ke swalayan dekat kontrakan, membeli beberapa sachet kopi hitam instan, yang walaupun beberapa hari kemudian akhirnya bungkusan-bungkusan itu disita teman baik saya. Hmmm, bentuk cintanya pada saya mungkin, agar kecanduan yang sempat tersembuhkan tak menjadi kebiasaan.. hehe
Ketika saya memasukkan serbuk kopi serta menyeduh dan beberapa detik kemudian meminumnya, saya terkejut luar biasa. Kopi yang saya beli dan minum itu adalah kopi hitam murni yang tidak ada gulanya, alias pahit! Sebelumnya, saya tidak membaca kalau itu bukan 2 in 1, karena melihat kopi di rak swalayan langsung ambil saja. Tersedak dan batuk dengan kopi yang dimulut, ketika berusaha menelannya ternyata rasa pahit sangat menyiksa tenggorokan. Dan akhirnya mau tidak mau saya harus mencari gula. Sementara persediaan gula tak ada, dan saya pun harus keluar lagi ke swalayan membeli gula..

Antara kopi dan gula, sejenak inilah yang sempat menyita perhatian saya. Bukan bermaksud menghadirkan cerita kopi dan gula yang kemudian mendapat nama baik adalah kopinya, bukan.. bukan itu yang saya angkat.
Allah SWT menyampaikan;"Dia memberi hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki, barang siapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat." (Al Baqarah: 269)
Ketika berusaha mengkorelasikan kehadiran kopi dan gula dalam sebuah kehidupan, bukankah kopi ibarat permasalahan dan gula adalah kemudahan..?
Secangkir kopi hitam tanpa gula, yang jika diminum membuat tak nyaman tenggorokan, serta sebuah permasalahan yang mengusik jiwa seseorang. Keduanya tidak akan berubah rasa, kecuali adanya gerakan untuk menambahkan gula dan 'gula'.
Mungkin seperti itu pula pengibaratan  antara permasalahan dan kemudahan, akan tetapi yang sering menjadi permaslahan ditengah persoalan adalah bagaimana seseorang mengupayakan mencari gula untuk menghilangkan pahitnya kesedihan. Sebab seperti yang saya alami tadi, mengharuskan kembali keluar rumah dan melawan teriknya matahari ditengah siang tentu bukan hal mudah.
Namun inilah pilihan. Proses penyelesaian sebuah permasalahan dikembalikan pada individu yang mengalaminya, entah ia mau bergerak atau tidak. Sehingga disini, kesehatan iman sangat menentukan kesuksesannya.
Sungguh benar kata Rasul, bahwa teman kita memiliki pengaruh pada jiwa kita. Ketika berteman dengan penjual minyak wangi kita akan tertular harumnya, dan jika kita berteman dengan pandai besi maka kita akan tertular bau pengapnya.
Disini, dalam sebuah keheningan mencari hikmah, mengalirlah energi iman yang ibarat sentuhan lembut merasuk qalbu;"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan," demikian janji Allah dalam Al Insyirah:6.
Terasa malu kiranya, ketika ditengah kesempitan kemudian membuka mata bahwa diluar sana sangat banyak yang mengalami kesulitan lebih berat dari kita. Namun mereka tanpa hancur diri tetap berusaha menjalani kesempatan hidup dengan penuh kesyukuran.
Sepenggal kisah yang semoga mencharge iman, adalah ia Yusuf AS, seorang nabi yang dinisbatkan memiliki ketampanan membius. Membius para pembesar wanita Mesir hingga  tanpa sadar mengiris-iris jemarinya sendiri, "Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia, ini benar-benar malaikat yang mulia." (Yusuf: 31).
Ujian membuatnya diasingkan saudara-saudaranya sendiri, dibuang disumur, menjadi budak, difitnah dengan fitnah yang keji. Namun atas kesabaran dan pilihannya mempertahankan iman, ia kembali menjadi manusia yang dimuliakan. "Wahai ayahku, inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Dan sesungguhnya Tuhanku menjadikannya kenyataan." (Yusuf: 100).

Alangkah berat ujiannya.. tapi, masihkah lisan kita berucap;"iya karena dia seorang nabi, dan nabi lebih berat ujiannya dari pada manusia biasa."
Bukankah setiap kisah hadir untuk diambil pelajaran, bahwa kesulitan hidup adalah kepastian yang tak dapat dihindarkan? Makhluk Allah bernama masalah memang akan hadir kepada siapapun yang masih memiliki nafas diujung dadanya. Menghirup oksigen dengan merdeka ataupun tidak, menikmati kesejukan udara dengan gratis ataupun tidak, merasai sentuhan yang hangat ataupun tidak, bahkan kehidupan sebagai karunia terbesar!
Fahamilah temanku, siapapun kamu yang sedang bersedih, hakikatnya ujian hidup bersifat kecil dibanding kekuatanmu. Dia yang Maha Sempurna telah mengatur takaran masalah sesuai ukurannya. Yang tak akan tertukar, yang tak akan terlampaui, dan yang memang menjadi milikmu. Iya milikmu.. Karena sebuah permasalahan telah tersematkan kepada tuannya, hingga ketika saatnya tiba, bersama aktualisasi kekuatanmu, kamu mampu memecahkan kesulitan itu. Yakinlah pada kemampuanmu!
dan semoga Allah teguhkan jiwamu, dalam menjalani segala urusanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar