Jumat, 14 Juni 2013

Pencuri


Sebuah kisah, tinggallah keluarga kaya yang terdiri dari orang tua dan dua anak laki-laki yang masih remaja. Kekayaan keluarga itu sangat melimpah, ladangnya luas, lumbungnya selalu penuh dengan padi dan gandum, serta hewan ternak yang ratusan jumlahnya.
Namun suatu malam, seorang pencuri beraksi di lumbung mereka. Sebagian besar padi yang baru saja di panen lenyap tak berbekas. Tak ada yang tahu siapa pencuri itu. Kejadian itu berulang lagi dimalam berikutnya, akan tetapi tak ada yang mampu menangkap pencurinya.
Sang tuan rumah tentu berang dengan hal itu, segala umpatan ia lontarkan kepada pencuri yang belum juga tertangkap. Disaat orang tua itu geram dan marah, kedua anaknya yang masih remaja turut bicara, "ayah, izinkan kami turut menagkap pencuri itu. Kami sudah cukup besar, tentu pencuri-pencuri itu akan takluk di tangan kami. izinkan ayah.."
Tak disangkam ternyata ayah berpendapat lain, "jangan, kalian masih muda dan belum berpengalaman. Kalian masih belum mampu melawan mereka. Lihat tangan kalian, masih tak cukup kuat menahan pukulan. Ilmu beladiri kalian masih sangat sedikit, kalian lebih baik tinggal di rumah saja, biar ayah saja yang menangkap mereka." Mendengar perintah itu, kedua anaknya seketika terdiam.

Penjagaan memang diperketat, tapi tetap saja keluarga itu kecurian. Bahkan kini hewan ternak yang menjadi target pencurian. Sang ayah belum juga mampu menangkap pencurinya dan berputus asa. Dengan berat hati, di datangilah kepala desa untuk meminta petunjuk tentang masalah yang dihadapinya. Diceritakanlah semua peristiwa pencurian itu  kepada kepala desa.
Setelah itu kepala desa bertukas, "mengapa anda tak membiarkan kedua anak anda turut menjaga lumbung? Mengapa anda membiarkan keinginan mereka?  ketahuilah wahai bapak yang kaya harta, sesungguhnya keresahan yang anda alami dengan pencurian itu, disisi lain andalah juga pelaku pencurian itu. Anda tak lebih baik dari pencuri yang mengambil harta itu, sebab anda mencuri harapan anak-anak anda. Anda mencuri impian dan kemampuan yang muncul dari keberanian mereka. Biarkan mereka yang menjaga dan anda cukup jadi pengawas.
Mendengar kata-kata kepala desa itu sang ayah sadar, betapa selama ini berfokus dengan usaha menangkap pencuri hartanya tapi selama ini dia sendiri sering mencuri harapan anaknya. Sampai pada akhirnya, ke esokan malamnya ia memberi izin kepada kedua anaknya ikut menjaga lumbung. Dan tak berapa lama kemudian tertangkaplah pencuri-pencuri itu yang ternyata adalah penjaga lumbung mereka sendiri.

Teman, pernahkah anda bertanya kepada anak kecil tentang cita-cita dan harapan mereka? Bisa jadi ketika kita tanya akan mendapatkan jawaban beragam. Suatu ketika mereka ingin menjadi pilot, tapi dilain hari mereka ingin menjadi dokter, dan ke kesokan harinya lagi ingin menjadi insinyur. Suatu saat mereka juga mungkin menjawab ingin menjadi orang yang bisa terbang, tapi di hari yang lain mereka ingin bisa berenang. Ketahuilah, pada akhirnya kita akan tahu hanya ada satu jawaban kelak. Tapi, pantaskah kita melarang mereka untuk punya harapan dan impian?
Begitu juga dengan cerita di atas, ada banyak pencuri impian yang berada disekitar kita. Mereka mencuri harapan dan merampas semua impian yang anak-anak kita lambungkan. Bisa jadi pencuri-pencuri itu hadir dalam wujud orang tua, teman, saudara, atau bahkan kita sendirilah yang mencuri harapan dan impian itu. Kita sendirilah pencuri yang paling menghadang setiap langkah realisasi impian. Karena kita terlalu sering takut, ragu, dan bimbang dalam melangkah.
Biarkan mereka terbang dengan cita-cita dan harapannya, sementara kita yang lebih tua melihat dan mengawasinya sebagai bentuk kecintaan dan kasih sanyang.


( Herlambang, Irfan Toni. 2005. Kekuatan Cinta, 30 Nasehat Bagi Jiwa Perindu Nur Illahi. Jakarta: Pustaka Kimus Bina Tadzkia)


2 komentar:

  1. belajar menjadi orang tua :-)
    ya Rabb, ijinkan kami mengambil hikmah...

    BalasHapus
  2. Cie..blog bru y mbk....
    Barakallah y..

    BalasHapus